Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2882 tentang Tentara penyerang Ka'bah akan ditenggelamkan sesuai niatnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang salah satu tanda besar hari kiamat, yaitu adanya seorang pemimpin yang berlindung di Baitullah (Ka'bah), lalu dikirim pasukan untuk menyerangnya. Ketika pasukan tersebut berada di tanah lapang (Baida') antara Madinah dan Mekkah, mereka semua akan dibenamkan ke dalam bumi oleh Allah. Pelajaran pentingnya: orang yang terpaksa ikut dalam pasukan tersebut tetap akan tertimpa azab yang sama, namun pada hari kiamat ia dibangkitkan sesuai niatnya. Ini menunjukkan bahwa Allah Maha Adil, dan setiap orang akan dihisab berdasarkan niat serta amal hatinya, bukan hanya amal lahiriahnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Shahih Muslim, Kitab Al-Fitan wa Asyrat As-Sa'ah, Bab "Fi Al-Jaisy Alladzi Yuhsafu bihi", no. 2882, dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hajj [22]: 46

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada."

Ayat ini menunjukkan bahwa amal hati (niat) sangat menentukan di sisi Allah, sebagaimana dalam hadits ini orang yang terpaksa ikut tetapi hatinya tidak setuju tetap dinilai sesuai niatnya.

Hadits terkait lainnya:

Hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah ﷺ bersabda tentang pasukan yang akan menyerang Ka'bah, lalu ketika mereka berada di Baida' (tanah lapang), orang pertama dan terakhir dari mereka dibenamkan, dan mereka semua dibenamkan. (HR. Al-Bukhari no. 7118)

Kaitan dengan ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk mukjizat Nabi ﷺ yang telah terjadi, dan beliau menegaskan bahwa orang yang terpaksa ikut tetap tertimpa azab lahiriah, tetapi balasan akhiratnya sesuai niatnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

1. Tentang peristiwa yang dikabarkan Nabi ﷺ

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini mengabarkan tentang pasukan yang dikirim untuk memerangi seorang yang berlindung di Baitullah (Ka'bah). Peristiwa ini terjadi ketika Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu 'anhuma menjadi penguasa di Mekkah, dan pasukan dikirim oleh Bani Umayyah untuk menyerangnya. Pasukan tersebut ditenggelamkan oleh Allah di tanah Baida' (tanah lapang antara Madinah dan Mekkah). Ini adalah salah satu bukti kebenaran kenabian Muhammad ﷺ.

2. Makna "Baida'"

Abu Ja'far (Muhammad bin Ali bin Husain) berkata bahwa Baida' yang dimaksud adalah Baida' Madinah, yaitu tanah lapang yang terletak di luar Madinah di jalur menuju Mekkah. Ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi di dekat Madinah, dan ini sesuai dengan riwayat lain yang menyebutkan bahwa pasukan tersebut keluar dari Madinah.

3. Hikmah dibenamkannya orang yang terpaksa ikut

Dalam hadits ini, Ummu Salamah bertanya tentang nasib orang yang ikut secara terpaksa. Nabi ﷺ menjawab bahwa ia tetap akan dibenamkan bersama mereka, tetapi pada hari kiamat ia dibangkitkan sesuai niatnya. Syaikh Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa azab dunia bisa menimpa orang yang tidak bersalah secara lahiriah, tetapi azab akhirat hanya berdasarkan niat dan keyakinan hati.

4. Pelajaran tentang niat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan agungnya kedudukan niat dalam Islam. Seseorang yang hatinya tidak setuju dengan kebatilan, tetapi dipaksa ikut, maka ia tidak dihukum seperti orang yang setuju. Namun, karena ia berada dalam barisan yang batil secara lahiriah, ia bisa tertimpa musibah yang sama di dunia. Ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga hati dan tidak meridhai kebatilan.

5. Tanda kekuasaan Allah

Peristiwa ini adalah mukjizat nyata yang terjadi setelah Nabi ﷺ wafat, membuktikan bahwa apa yang beliau kabarkan adalah wahyu dari Allah. Ini memperkuat keimanan kita kepada kenabian Muhammad ﷺ dan kebenaran Islam.

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi mengirim pasukan di bawah pimpinan Al-Hajjaj sendiri untuk memerangi Abdullah bin Az-Zubair di Mekkah, pasukan tersebut melewati Madinah. Di antara mereka ada seorang sahabat yang mulia atau tabi'in yang hatinya tidak setuju dengan penyerangan ke Baitullah. Namun ia terpaksa ikut karena berada di bawah komando penguasa.

Ketika pasukan tersebut tiba di Baida' (tanah lapang di luar Madinah), Allah membenamkan mereka semua ke dalam bumi. Peristiwa ini disaksikan oleh banyak orang dan menjadi buah bibir di kalangan tabi'in. Ini membuktikan bahwa kabar Nabi ﷺ adalah benar, dan bahwa Allah membela hamba-hamba-Nya yang berlindung di rumah-Nya.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa peristiwa tenggelamnya pasukan ini terjadi pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, dan banyak ulama yang meriwayatkan kesaksian tentang peristiwa ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada kabar Nabi ﷺ - Kita wajib membenarkan semua kabar yang disampaikan Nabi ﷺ, termasuk kabar tentang peristiwa yang terjadi setelah beliau wafat, karena itu adalah wahyu dari Allah.
  2. Menjaga niat dan hati - Niat adalah penentu balasan akhirat. Seseorang yang hatinya tidak setuju dengan kebatilan tidak akan dihukum seperti pelakunya, meskipun secara lahiriah ia berada di barisan yang sama.
  3. Tidak meridhai kebatilan - Meskipun seseorang tidak mampu mencegah kemungkaran, ia tetap harus membenci kemungkaran tersebut dalam hatinya, karena itu adalah selemah-lemah iman.
  4. Mengambil pelajaran dari sejarah - Peristiwa ini mengajarkan bahwa Allah Maha Kuasa untuk menolong hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya, meskipun pertolongan itu datang dengan cara yang tidak terduga.
  5. Menjauhi pertumpahan darah di tanah suci - Hadits ini juga mengajarkan keagungan Baitullah dan tanah Haram, sehingga kita harus menjaga adab terhadap tempat-tempat suci.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi