Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang tanda-tanda besar hari kiamat, yaitu terbukanya dinding Ya'juj dan Ma'juj. Rasulullah ﷺ bangun dari tidurnya dalam keadaan bersabda "Wailul lil 'Arab" (celaka bagi orang Arab) karena akan datangnya fitnah besar. Beliau juga mengabarkan bahwa celah dinding Ya'juj dan Ma'juj telah terbuka sebesar lingkaran yang dibuat dengan jari (sepuluh jari). Hadits ini juga mengajarkan bahwa kehancuran tidak hanya menimpa orang-orang jahat, tetapi juga bisa menimpa orang-orang shalih jika keburukan telah merajalela.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Anbiya' [21]: 96-97
حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ * وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هٰذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ
"Sehingga apabila (tembok) Ya'juj dan Ma'juj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan (apabila) janji yang benar (hari berbangkit) telah dekat, maka tiba-tiba mata orang-orang kafir terbelalak (seraya berkata), 'Celakalah kami! Sungguh kami dahulu lengah tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim.'"
Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Fitnah wa Asyrat as-Sa'ah, Bab "Qurb al-Fitan wa Fath Radm Ya'juj wa Ma'juj", no. 2880, dari Zainab binti Jahsy radhiyallahu 'anha.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan makna hadits ini secara rinci.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari juga membahas hadits-hadits tentang Ya'juj dan Ma'juj.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin dan kitab-kitabnya menjelaskan tentang tanda-tanda kiamat termasuk Ya'juj dan Ma'juj.
Penjelasan Rinci
1. Makna "Wailul lil 'Arab" (Celaka bagi orang Arab)
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa makna sabda Nabi ﷺ "Wailul lil 'Arab" adalah peringatan keras tentang fitnah yang akan terjadi di kalangan bangsa Arab. Ini bukan berarti doa kecelakaan, tetapi kabar tentang akan terjadinya fitnah besar yang menimpa mereka. Fitnah ini adalah munculnya kekacauan, peperangan, dan perpecahan di tengah-tengah umat.
Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa fitnah yang dimaksud dalam hadits ini adalah fitnah besar yang terjadi di akhir zaman, termasuk munculnya Al-Mahdi, Dajjal, dan turunnya Nabi Isa 'alaihis salam. Bangsa Arab akan menjadi pusat peristiwa-peristiwa besar tersebut.
2. Makna "Futiha al-yauma min radmi Ya'juj wa Ma'juj" (Telah dibuka hari ini dari dinding Ya'juj dan Ma'juj)
Para ulama menjelaskan bahwa dinding Ya'juj dan Ma'juj yang dibangun oleh Dzulqarnain telah mulai terbuka. Nabi ﷺ mengisyaratkan dengan tangannya membentuk lingkaran sepuluh jari untuk menunjukkan besarnya celah yang terbuka.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pembukaan dinding Ya'juj dan Ma'juj terjadi secara bertahap. Pada masa Nabi ﷺ, celah yang terbuka masih kecil (sebesar lingkaran jari), kemudian akan terus membesar hingga akhirnya mereka keluar semua di akhir zaman.
3. Pertanyaan Zainab binti Jahsy dan Jawaban Nabi ﷺ
Zainab binti Jahsy bertanya: "Apakah kita akan binasa padahal di antara kita ada orang-orang shalih?" Ini menunjukkan kepedulian para sahabat terhadap keselamatan orang-orang beriman.
Jawaban Nabi ﷺ: "Ya, jika keburukan telah banyak (merajalela)."
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa makna "katsur al-khabats" adalah banyaknya kemaksiatan, kemungkaran, dan perbuatan dosa yang dilakukan secara terang-terangan. Ketika keburukan telah merajalela dan tidak ada yang mengingkarinya, maka azab bisa turun secara umum, menimpa orang shalih maupun orang jahat.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa orang-orang shalih ikut tertimpa azab karena mereka tidak berusaha maksimal dalam mencegah kemungkaran. Namun mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat dan amal mereka.
4. Pelajaran tentang Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Hadits ini memberikan pelajaran penting bahwa ketika kemungkaran telah merajalela dan tidak ada yang mengingkarinya, maka azab Allah bisa turun secara umum. Ini menunjukkan pentingnya amar ma'ruf nahi munkar dalam menjaga keselamatan umat.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah tidak mengazab suatu kaum kecuali setelah mereka meninggalkan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar dan membiarkan kemungkaran tersebar luas.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri pernah berkata kepada para sahabatnya: "Wahai manusia, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena mereka membiarkan kemungkaran terjadi di hadapan mereka tanpa mengingkarinya. Demi Allah, kalian tidak akan binasa kecuali ketika kalian melakukan seperti yang mereka lakukan."
Beliau juga sering menangis ketika menyebutkan tentang azab Allah yang turun secara umum. Suatu hari beliau berkata: "Betapa banyak orang shalih yang tertimpa azab karena dosa orang-orang jahat di sekitar mereka. Maka jadilah kalian orang yang mengingkari kemungkaran, agar kalian selamat dari azab yang turun secara umum."
Kisah ini menunjukkan pemahaman para salaf tentang hadits ini — bahwa keselamatan tidak hanya dengan menjadi orang shalih secara pribadi, tetapi juga dengan berusaha mencegah kemungkaran di masyarakat.
Kesimpulan Praktis
- Meyakini tanda-tanda kiamat — termasuk keluarnya Ya'juj dan Ma'juj sebagai tanda besar yang pasti terjadi.
- Bersiap menghadapi fitnah — dengan memperkuat iman, ilmu, dan amal shalih.
- Menjaga amar ma'ruf nahi munkar — karena kehancuran bisa menimpa orang shalih jika kemungkaran dibiarkan merajalela.
- Tidak merasa aman dari azab Allah — meskipun kita merasa sudah menjadi orang baik, tetap harus berusaha memperbaiki diri dan lingkungan.
- Berdoa memohon keselamatan dari fitnah-fitnah di akhir zaman.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.