Penjelasan Hadits Muslim No. 2865 tentang Allah menciptakan manusia untuk menyembah-Nya, setan menyesatkan mereka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah khutbah agung Nabi ﷺ yang merangkum pokok-pokok akidah: bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan lurus (hanif), lalu setan menyesatkan mereka; bahwa Allah mengutus Nabi ﷺ dengan Kitab yang terjaga; serta bahwa penghuni Surga dan Neraka memiliki ciri-ciri yang jelas. Hadits ini mengajak kita memperbaiki akhlak, berlaku adil, menyayangi kerabat, menjauhi khianat, kikir, dusta, dan lisan kotor.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Jannah wa Shifah Na'imiha wa Ahliha, dari sahabat 'Iyadh bin Himar al-Mujasyi'i رضي الله عنه, melalui jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan) dari Mutharrif bin Abdullah bin asy-Syikhkhir.

Beberapa poin hadits ini dijelaskan oleh ulama dalam daftar rujukan, di antaranya:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (al-Minhaj) menjelaskan makna lafaz-lafaznya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits serupa dari jalur lain.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan dan Tafsir-nya membahas makna "hanif" dan peran setan.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan makna fitrah dan hanifiyah.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan fitrah:

وَفَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

"…dan Dia menciptakan manusia menurut fitrah itu." (QS. Ar-Rum [30]: 30 — potongan ayat)

Makna ringkas: Allah menciptakan manusia dengan kecenderungan asli untuk mengenal dan menyembah-Nya, lalu setan dan lingkungan menyelewengkannya.

Dalil tentang Kitab yang tidak terhapus air (terjaga di hati):

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr [15]: 9)

Penjelasan Rinci

1. "Tuhanku memerintahkan aku mengajarkan apa yang kalian tidak ketahui."

Nabi ﷺ menegaskan bahwa ilmu ini wahyu dari Allah, bukan pendapat pribadi. Ini menunjukkan adab seorang pengajar: menyampaikan ilmu dengan penuh amanah dan kasih sayang.

2. "Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus)."

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa makna hunafa adalah condong kepada tauhid dan menjauhi kesyirikan. Syaikh as-Sa'di menegaskan bahwa setiap manusia lahir membawa fitrah mengenal Rabb-nya; yang menyelewengkan adalah setan dari jin dan manusia, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah…" (HR. Bukhari & Muslim).

3. "Setan membelokkan mereka, mengharamkan yang halal, dan memerintahkan syirik."

Ini menjelaskan sumber penyimpangan: bukan dari Allah, tetapi dari setan yang menyesatkan. Ibn Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa setan bekerja dengan menghiasi keburukan dan membuat manusia merasa benar.

4. "Allah memandang penduduk bumi lalu membenci mereka, Arab dan non-Arab, kecuali sisa-sisa Ahli Kitab."

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini menunjukkan mayoritas manusia menyimpang, kecuali segelintir yang tetap di atas kebenaran. Ini bukan celaan kepada suku tertentu, melainkan gambaran kondisi umat manusia saat itu sebelum diutusnya Nabi ﷺ secara sempurna.

5. "Aku diutus untuk menguji kalian dan menguji (mereka) melalui kalian."

Ini sesuai firman Allah:

وَجَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

"Dan Kami jadikan kamu umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia…" (QS. Al-Baqarah [2]: 143 — potongan)

6. "Kitab yang tidak terhapus oleh air, engkau membacanya saat tidur dan terjaga."

Ini isyarat bahwa Al-Qur'an terjaga di dada para penghafal, tidak hilang meski tertulis dengan tinta yang bisa luntur. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini keistimewaan umat ini: hafalan Al-Qur'an di dada, berbeda dengan umat sebelumnya yang hanya mengandalkan tulisan.

7. "Allah memerintahkan aku membakar Quraisy…"

Ini terjadi di awal dakwah ketika Quraisy memusuhi Nabi ﷺ. Allah menjanjikan pertolongan: mengeluarkan mereka sebagaimana mereka mengeluarkan Nabi, mengirim pasukan lima kali lebih besar, dan membalas infak. Ini pelajaran tawakkal dan keyakinan akan janji Allah.

8. Tiga golongan penghuni Surga:

  • Pemimpin yang adil, bersedekah, dan diberi taufik — pemimpin yang menegakkan keadilan dan dermawan.
  • Orang yang penyayang, lembut hati kepada kerabat dan setiap Muslim — akhlak kasih sayang.
  • Orang yang menjaga kehormatan diri ('afif) meski memiliki tanggungan keluarga — tidak meminta-minta, menjaga iffah.

9. Lima golongan penghuni Neraka:

  • Orang lemah yang tidak punya kekuatan menolak kejahatan dan menjadi pengikut tanpa arah (tidak mengikuti keluarga atau harta dengan benar) — yakni orang yang tidak berusaha memperbaiki diri.
  • Pengkhianat yang tidak menyimpan amanah, sekecil apa pun.
  • Orang yang selalu berbuat curang kepada keluarga dan harta orang lain, pagi dan sore.
  • Orang kikir dan pendusta.
  • Asy-Syinzir al-Fahhsy — orang yang lisannya kotor, suka mencela dan berkata keji.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa penyebutan ciri-ciri ini adalah peringatan keras agar kita menjauhi sifat-sifat tersebut.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Iyadh bin Himar رضي الله عنه adalah seorang sahabat yang masuk Islam dan meriwayatkan khutbah ini. Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah membenci orang yang lisannya kotor dan suka mencela." (makna dari hadits serupa dalam Shahih Muslim).

Al-Hasan al-Bashri (Tabi'in, dalam daftar rujukan) pernah berkata: "Sesungguhnya fitrah itu seperti benih; jika disiram dengan tauhid dan sunnah, ia tumbuh menjadi pohon keimanan. Jika dibiarkan, setan akan menanam di atasnya." (makna umum dari perkataan beliau yang dinukil para ulama).

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga fitrah dengan tauhid, zikir, dan majelis ilmu.
  2. Waspadai setan yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
  3. Perbaiki akhlak: adil, penyayang, menjaga kehormatan diri, menjauhi khianat, kikir, dusta, dan lisan kotor.
  4. Yakin pada janji Allah: siapa yang berinfak dan berjuang di jalan-Nya akan diberi pertolongan.
  5. Renungkan ciri penghuni Surga dan Neraka, lalu pilih jalan yang diridhai Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?