Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa setiap anak Adam memiliki qarin (teman) dari kalangan setan yang terus berusaha menyesatkannya. Namun, Allah memberikan pertolongan khusus kepada Nabi ﷺ sehingga setan yang menyertainya menjadi Islam, artinya tidak mampu lagi menggodanya. Bagi kita, hadits ini menjadi pengingat untuk selalu waspada terhadap bisikan setan dan berlindung kepada Allah, karena setan itu nyata dan selalu menyertai manusia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Sifat Kiamat, Surga, dan Neraka, Bab Godaan Setan dan Pengutusannya untuk Menyesatkan Manusia, no. 2815, dari sahabat Aisyah radhiyallahu 'anha.
Dalil penguat dari Al-Qur'an:
QS. Az-Zukhruf [43]: 36
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
"Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran (Allah) Yang Maha Pemurah (Ar-Rahman), Kami biarkan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya."
QS. Qaf [50]: 27
قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَٰكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ
"(Setan) yang menyertainya berkata (pada hari kiamat): 'Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.'"
Penjelasan Ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan setiap manusia memiliki qarin (teman) dari setan. Beliau menukil perkataan ulama bahwa setan yang menyertai Nabi ﷺ telah masuk Islam, sehingga tidak lagi memerintahkan beliau kepada keburukan, tetapi hanya sekadar hadir tanpa bisa menggodanya.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (saat menjelaskan hadits serupa dalam Shahih Bukhari) menegaskan bahwa qarin yang menyertai Nabi ﷺ telah "masuk Islam" dalam arti ia tidak mampu lagi mengajak beliau kepada keburukan, dan ini adalah kekhususan bagi Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Setiap manusia memiliki qarin (teman) dari setan
Nabi ﷺ menegaskan bahwa setiap anak Adam memiliki setan yang menyertainya. Ini bukan sekadar isyarat, melainkan hakikat yang beliau kabarkan. Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa qarin ini adalah setan yang ditugaskan untuk menggoda manusia, membisikkan keburukan, dan menghiasi kemaksiatan. Ia tidak pernah berhenti berusaha menyesatkan manusia, kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah.
2. Kecemburuan Aisyah adalah fitrah manusia
Aisyah radhiyallahu 'anha merasa cemburu ketika Nabi ﷺ keluar pada malam hari. Ini menunjukkan bahwa cemburu dalam batas wajar adalah hal yang manusiawi dan tidak tercela. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa cemburu Aisyah ini adalah cemburu yang wajar dan tidak mengandung prasangka buruk yang haram. Ini menjadi pelajaran bahwa perasaan cemburu perlu dikelola dengan baik, tidak sampai melampaui batas.
3. Setan memanfaatkan perasaan manusia
Nabi ﷺ mengaitkan kecemburuan Aisyah dengan datangnya setan. Ini menunjukkan bahwa setan sering memanfaatkan kondisi emosional manusia, seperti cemburu, marah, dan sedih, untuk menanamkan was-was dan pikiran buruk. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa setan masuk melalui pintu-pintu perasaan dan khayalan manusia. Karena itu, kita dianjurkan untuk menenangkan diri dan berlindung kepada Allah saat emosi memuncak.
4. Kekhususan Nabi ﷺ
Ketika Aisyah bertanya apakah setan juga menyertai Nabi ﷺ, beliau menjawab ya, tetapi Allah membantunya sehingga setan itu "Islam" (tunduk dan tidak mampu menggoda). Ini adalah kekhususan Nabi ﷺ yang tidak dimiliki oleh siapa pun selain beliau. Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa makna "Islam" di sini adalah setan tersebut tidak lagi mampu mengajak beliau kepada keburukan, meskipun ia tetap hadir sebagai ujian.
5. Bantahan terhadap anggapan bahwa setan tidak ada
Hadits ini juga membantah orang-orang yang mengingkari keberadaan setan atau menganggapnya hanya sekadar simbol keburukan. Setan adalah makhluk nyata yang diciptakan Allah, dan ia memiliki tugas untuk menyesatkan manusia hingga hari kiamat. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah mengabarkan tentang permusuhan setan kepada manusia sejak zaman Adam, dan ini adalah ujian yang nyata.
6. Cara berlindung dari setan
Para ulama menjelaskan bahwa cara berlindung dari godaan setan adalah dengan:
- Membaca Audzu billahi minasy syaithanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk)
- Membaca Mu'awwidzat (Al-Falaq dan An-Nas)
- Memperbanyak dzikir kepada Allah
- Menjaga shalat dan tilawah Al-Qur'an
Imam Ibnul Qayyim dalam Ad-Da' wad Dawa' menjelaskan bahwa setan tidak memiliki kekuatan atas hamba yang ikhlas dan konsisten dalam berdzikir. Setan hanya mampu menggoda melalui kelengahan dan kelemahan iman.
Story Telling
Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri — semoga Allah merahmatinya — bahwa ia pernah berkata: "Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah dalam agamanya, melainkan karena ia lalai dari mengingat Allah. Dan tidaklah setan dapat menguasai seorang hamba, melainkan karena hamba tersebut kosong dari dzikir."
Al-Hasan juga pernah ditanya tentang tipu daya setan, maka ia menjawab: "Setan itu bagaikan tamu yang tidak diundang. Jika engkau sibuk dengan Al-Qur'an dan dzikir, ia akan pergi. Tetapi jika engkau kosong dan lalai, ia akan duduk dan berbicara kepadamu." (Diriwayatkan secara global dalam kitab-kitab zuhud, seperti Az-Zuhd karya Imam Ahmad dan lainnya).
Hikmah dari kisah ini: Setan itu lemah jika kita kuat dengan iman dan dzikir. Ia hanya mampu menggoda orang-orang yang lengah. Maka, jadikan dzikir dan tilawah sebagai benteng harian kita.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa setan itu nyata dan selalu berusaha menyesatkan kita. Jangan meremehkan bisikannya.
- Waspadai kondisi emosional seperti cemburu, marah, dan sedih, karena setan sering masuk melalui pintu-pintu ini.
- Perbanyak dzikir dan istighfar, terutama di waktu-waktu lengah seperti pagi dan petang.
- Baca Al-Qur'an secara rutin, karena ia adalah obat hati dan penangkal godaan setan.
- Jangan berputus asa ketika tergoda, karena setan itu lemah dan Allah Maha Menolong hamba-Nya yang kembali kepada-Nya.
- Teladani Nabi ﷺ dalam menghadapi godaan, yaitu dengan berlindung kepada Allah dan tidak merasa aman dari tipu daya setan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.