Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa setiap manusia, termasuk Nabi Muhammad ﷺ, memiliki pendamping (qarin) dari golongan jin yang bertugas menggoda. Namun, Allah memberikan pertolongan khusus kepada Nabi ﷺ sehingga qarin tersebut tunduk dan hanya memerintahkan kebaikan. Bagi kita, ini menjadi peringatan untuk selalu waspada terhadap bisikan setan dan berlindung kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Az-Zukhruf [43]: 36
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
"Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Al-Qur'an) Ar-Rahman (Allah), Kami jadikan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Sifat Kiamat, Surga, dan Neraka, Bab Godaan Setan, no. 2814, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan Ulama:
Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan adanya qarin (pendamping) dari jin yang ditugaskan untuk setiap manusia. Beliau juga menegaskan bahwa qarin Nabi ﷺ berbeda karena telah masuk Islam (tunduk) dan hanya memerintahkan kebaikan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan salah satu dalil tentang adanya setan yang selalu menyertai manusia. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa qarin ini adalah setan yang ditugaskan khusus untuk menggoda manusia sejak lahir hingga mati. Tugasnya adalah membisikkan kejelekan dan menghalangi dari kebaikan.
Para ulama seperti Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa perlindungan dari kejahatan qarin ini hanya bisa diperoleh dengan keimanan yang kuat dan dzikir kepada Allah. Semakin seseorang dekat dengan Allah, semakin lemah pengaruh setan tersebut.
Yang menarik dalam hadits ini adalah pengakuan Nabi ﷺ bahwa beliau pun memiliki qarin, tetapi Allah memberinya pertolongan khusus sehingga qarin tersebut "aslama" (tunduk/masuk Islam). Para ulama berbeda pendapat tentang makna "aslama" di sini:
- Sebagian ulama seperti Imam al-Qadhi 'Iyadh memahaminya sebagai "tunduk dan patuh"
- Sebagian lain seperti Imam an-Nawawi memahaminya sebagai "masuk Islam" dalam arti beriman
Kedua pendapat ini tidak bertentangan karena intinya qarin Nabi ﷺ tidak lagi membisikkan kejelekan.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau pernah berkata: "Sesungguhnya setan itu mempunyai bisikan, dan malaikat juga mempunyai bisikan. Bisikan setan adalah mengajak kepada kejelekan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah mengajak kepada kebaikan dan membenarkan kebenaran. Barangsiapa mendapatkan bisikan malaikat, hendaklah ia bersyukur kepada Allah. Dan barangsiapa mendapatkan bisikan setan, hendaklah ia berlindung kepada Allah." (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam az-Zuhd)
Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu peka terhadap bisikan dalam hati. Jika terlintas pikiran baik, itu dari Allah dan malaikat. Jika terlintas pikiran buruk, itu dari setan dan kita harus segera berlindung kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Sadari adanya musuh yang nyata - Setan selalu bersama kita, jangan lengah.
- Perbanyak dzikir dan istighfar - Ini adalah senjata utama melawan bisikan setan.
- Jangan putus asa - Meskipun setan selalu menggoda, Allah memberi kita akal dan petunjuk untuk melawannya.
- Teladani Nabi ﷺ - Beliau pun menghadapi godaan, tetapi dengan pertolongan Allah, beliau mampu mengatasinya.
- Berlindung kepada Allah - Bacalah ta'awudz (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ) setiap kali merasa tergoda.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.