Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan Khabbab bin al-Arat yang menagih utang kepada Al-'Ash bin Wa'il, lalu Al-'Ash menolak membayar kecuali Khabbab mau kufur kepada Nabi Muhammad ﷺ. Al-'Ash juga mengklaim bahwa jika benar ada kebangkitan, ia akan diberi harta dan anak lalu bisa membayar. Allah lalu menurunkan ayat QS. Maryam [19]: 77–80 sebagai bantahan tegas atas kesombongan dan klaim dustanya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. Maryam [19]: 77
أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا
Terjemahan: "Maka apakah engkau (Muhammad) melihat orang yang kufur kepada ayat-ayat Kami dan dia mengatakan, 'Sungguh aku pasti akan diberi harta dan anak.'"
QS. Maryam [19]: 80
وَنَرِثُهُ مَا يَقُولُ وَيَأْتِينَا فَرْدًا
Terjemahan: "Dan Kami akan mewarisi apa yang dia katakan itu, dan dia akan datang kepada Kami seorang diri (tanpa harta dan anak)."
Hadits: Shahih Muslim no. 2795, Kitab Sifat Kiamat, Surga, dan Neraka — dari Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan melalui jalur Al-A'masy dari Abu adh-Dhuha dari Masruq.
Kaitan ulama: Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini turun berkenaan dengan Al-'Ash bin Wa'il. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan hadits ini menunjukkan sebab turunnya (asbab an-nuzul) ayat tersebut.
Penjelasan Rinci
Konteks kisah. Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang pernah disiksa di Makkah karena keislamannya. Al-'Ash bin Wa'il adalah tokoh Quraisy yang dikenal sombong dan menentang dakwah. Ketika Khabbab menagih utang, Al-'Ash tidak menolak dengan alasan ekonomi, tetapi dengan syarat kufur — yaitu melecehkan iman Khabbab.
Jawaban Khabbab. Khabbab menjawab dengan tegas: "Aku tidak akan kufur kepada Muhammad sampai kamu mati lalu dibangkitkan." Ini menunjukkan keteguhan iman seorang mukmin yang lemah secara sosial, tetapi kuat hatinya. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menekankan bahwa keimanan sejati tidak goyah oleh tekanan dunia.
Klaim Al-'Ash. Al-'Ash justru mengejek: "Kalau aku memang dibangkitkan, aku akan diberi harta dan anak, lalu aku bayar utangmu." Ini adalah klaim dusta yang lahir dari kesombongan. Ia mengukur akhirat dengan logika dunia, dan menganggap dirinya pasti mulia di sisi Allah.
Bantahan Allah. Allah menurunkan QS. Maryam [19]: 77–80. Ibn Katsir menjelaskan:
- Ayat 77: celaan bagi orang yang kufur lalu mengklaim akan diberi harta dan anak di akhirat tanpa dasar.
- Ayat 80: "Kami akan mewarisi apa yang dia katakan" — yaitu harta dan anak yang ia banggakan akan hilang, dan ia akan datang kepada Allah sendirian, tanpa harta, tanpa anak, tanpa pembela.
Pemahaman ulama daftar:
- Mujahid bin Jabr (tabi'in, ahli tafsir) menyatakan ayat ini turun khusus tentang Al-'Ash bin Wa'il.
- Qatadah menjelaskan "Kami akan mewarisi" berarti Allah mengambil kembali semua yang ia miliki, karena Allah-lah Pemilik sejati segala sesuatu.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim menegaskan hadits ini menunjukkan bolehnya menagih utang, dan bahwa tekanan untuk kufur wajib ditolak meski dalam kesempitan.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitabnya sering mengangkat kisah ini sebagai contoh bahwa kesombongan dan panjang angan-angan adalah pintu kekufuran.
- As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan ayat ini menunjukkan bahwa klaim tanpa dalil di akhirat tidak berguna; yang menyelamatkan hanyalah iman dan amal.
Perbedaan pendapat: Tidak ada perbedaan berarti di antara ulama daftar tentang sebab turunnya ayat ini. Yang paling kuat adalah pendapat jumhur — termasuk Ibn Katsir, Mujahid, dan Qatadah — bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Al-'Ash bin Wa'il.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu termasuk sahabat yang paling berat ujiannya di Makkah. Ia pernah dibakar di atas bara hingga lemak punggungnya mengalir, namun ia tidak pernah meninggalkan imannya. Ketika datang menagih utang kepada Al-'Ash bin Wa'il — seorang bangsawan Quraisy yang kaya — ia justru dihadapkan pada pilihan: kufur atau tidak dibayar. Khabbab memilih iman, meski harus kehilangan hartanya. Allah lalu mengabadikan peristiwa ini dalam Al-Qur'an hingga hari kiamat, sebagai pelajaran bagi setiap mukmin: iman lebih berharga daripada seluruh harta dunia. (Disebutkan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya dan Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim.)
Kesimpulan Praktis
- Teguh dalam iman meski dihadapkan pada tekanan ekonomi atau sosial — seperti Khabbab.
- Tidak menukar iman dengan dunia; harta yang hilang karena mempertahankan agama akan diganti Allah dengan yang lebih baik.
- Menagih utang adalah hak yang sah, dan boleh dilakukan dengan adab.
- Kesombongan dan panjang angan-angan adalah pintu kekufuran — sebagaimana Al-'Ash bin Wa'il.
- Akhirat adalah tempat pertanggungjawaban; tidak ada harta, anak, atau pembela yang bisa menolong kecuali iman dan amal saleh.
- Setiap orang akan datang kepada Allah sendirian — sebagaimana firman-Nya: "وَيَأْتِينَا فَرْدًا".
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.