Penjelasan Hadits Muslim No. 2777 tentang Celaan bagi yang senang dipuji atas amal palsu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan sifat orang munafik pada masa Nabi ﷺ: mereka tidak ikut berperang, merasa senang dengan kemunafikannya, lalu ketika Nabi ﷺ kembali mereka membuat alasan palsu dan bersumpah, bahkan ingin dipuji atas sesuatu yang tidak mereka kerjakan. Karena perbuatan itu, turunlah ayat Al-Qur'an yang menegaskan bahwa mereka tidak akan lepas dari azab yang pedih. Pelajarannya: jangan berbangga dengan amal yang tidak dikerjakan, dan jangan mencari pujian atas kebohongan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Ali 'Imran [3]: 188

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Terjemahan ringkas: "Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang bergembira dengan apa yang mereka kerjakan, dan suka dipuji atas apa yang tidak mereka kerjakan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lepas dari azab. Bagi mereka azab yang pedih."

Hadits terkait

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, terdapat dalam Shahih Muslim, Kitab Sifat Munafikin, no. 2777. Sanadnya: al-Hasan bin Ali al-Hulwani dan Muhammad bin Sahl at-Tamimi → Ibnu Abi Maryam → Muhammad bin Ja'far → Zaid bin Aslam → 'Atha' bin Yasar → Abu Sa'id al-Khudri.

Kaitan ulama

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafik dan Ahli Kitab yang merasa senang dengan perbuatan buruk mereka serta ingin dipuji atas hal yang tidak mereka lakukan.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini mencakup setiap orang yang bergembira dengan keburukan dan ingin dipuji tanpa amal, bukan hanya munafik di masa Nabi ﷺ.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan larangan mencari pujian atas sesuatu yang tidak dikerjakan, karena itu termasuk sifat kemunafikan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan tiga sifat buruk orang munafik:

Pertama, mereka tidak ikut berperang bersama Nabi ﷺ dan merasa senang dengan kemunduran itu. Ini menunjukkan kemunafikan hati — mereka tidak mencintai jihad dan tidak bersama Rasulullah ﷺ.

Kedua, ketika Nabi ﷺ kembali, mereka mengajukan alasan-alasan palsu dan bersumpah untuk membenarkan diri. Ini adalah kebohongan yang dibungkus dengan sumpah.

Ketiga, mereka ingin dipuji atas sesuatu yang tidak mereka kerjakan — yaitu ingin dianggap ikut berjihad padahal tidak.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban atas perbuatan mereka. Beliau menegaskan bahwa "bergembira dengan apa yang mereka lakukan" mencakup kebanggaan atas keburukan, dan "suka dipuji atas apa yang tidak dilakukan" adalah sifat tercela yang dilarang dalam syariat.

Ibnu Katsir memperluas makna ayat: siapa pun yang senang dengan dosa dan ingin dipuji tanpa amal, maka ia termasuk dalam ancaman ayat ini. Beliau juga menyebutkan bahwa ayat ini berlaku umum, tidak terbatas pada satu peristiwa.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menukil bahwa para ulama memahami ayat ini sebagai larangan riya' (pamer) dan ujub (bangga diri), karena keduanya adalah bentuk mencari pujian atas sesuatu yang tidak dilakukan atau tidak ikhlas.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama menafsirkan ayat ini khusus untuk Ahli Kitab yang menyembunyikan kebenaran, sebagian untuk munafik. Namun Ibnu Katsir dan an-Nawawi menguatkan bahwa maknanya umum, mencakup siapa saja yang memiliki sifat tersebut. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur: ayat ini berlaku umum dan menjadi peringatan bagi setiap Muslim agar tidak terjatuh pada sifat munafik.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada suatu peperangan, sekelompok orang munafik tidak ikut serta. Ketika Nabi ﷺ kembali, mereka datang dengan berbagai alasan dan sumpah palsu. Mereka berharap orang-orang memuji mereka sebagai pejuang, padahal mereka tidak pernah mengangkat pedang. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai bantahan atas mereka. Abu Sa'id al-Khudri yang meriwayatkan hadits ini menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Hikmahnya: Allah mengetahui isi hati, dan tidak ada alasan atau sumpah yang dapat menutupi kebohongan di hadapan-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan berbangga dengan amal yang tidak dikerjakan.
  2. Jangan mencari pujian atas sesuatu yang tidak kita lakukan.
  3. Jangan merasa senang dengan kemaksiatan atau kelalaian dalam ketaatan.
  4. Bertaubatlah dari sifat riya' dan ujub, karena keduanya merusak amal.
  5. Beramallah dengan ikhlas hanya untuk Allah, bukan untuk pujian manusia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?