Penjelasan Hadits Muslim No. 2760 tentang Kecemburuan Allah dan pengharaman perbuatan keji

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita dua sifat agung Allah ﷻ: pertama, Allah mencintai pujian, maka Dia memuji diri-Nya sendiri dalam Al-Qur'an dan memerintahkan hamba-Nya untuk memuji-Nya. Kedua, Allah Maha Cemburu (ghayrah), maka Dia mengharamkan segala perbuatan keji (fawahisy) yang dilakukan hamba-Nya, baik yang tampak maupun tersembunyi. Ini adalah dorongan untuk senantiasa menjaga diri dari dosa dan memperbanyak pujian kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits yang Anda sebutkan adalah shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab at-Taubah, Bab Ghayratullah wa Tahrim al-Fawahisy (nomor 2760). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab an-Nikah, Bab al-Ghayrah (nomor 4926), dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman tentang pujian kepada diri-Nya:

قُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَسَلٰمٌ عَلٰى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفٰى ۗ

"Katakanlah (Muhammad), 'Segala puji bagi Allah dan salam sejahtera atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.'" (QS. An-Naml [27]: 59)

Dan firman Allah tentang pengharaman perbuatan keji:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

"Katakanlah, 'Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.'" (QS. Al-A'raf [7]: 33)

Penjelasan Ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna ghayrah (cemburu) bagi Allah adalah kebencian-Nya yang sangat besar terhadap perbuatan keji dan dosa, serta kemurkaan-Nya kepada pelakunya. Ini adalah sifat yang layak bagi Allah, bukan seperti cemburu makhluk yang disebabkan oleh keraguan atau kelemahan.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menukil perkataan para ulama bahwa cemburu Allah adalah keengganan-Nya terhadap hal-hal yang diharamkan, dan ini termasuk sifat ghayrah yang sempurna bagi Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dengan sangat mendalam. Mari kita bedah satu per satu:

Pertama: "Tidak ada yang lebih dicintai Allah daripada pujian-Nya kepada diri-Nya sendiri"

Maknanya, Allah ﷻ mencintai pujian. Karena itu, Dia memuji diri-Nya sendiri dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah (al-Asma' al-Husna) dan sifat-sifat-Nya yang agung. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, Allah berfirman: "Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian..." (HR. Muslim). Ketika hamba mengucapkan "Alhamdulillahi Rabbil 'alamin", Allah menjawab: "Hamba-Ku memuji-Ku."

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa pujian Allah kepada diri-Nya sendiri adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba, agar mereka mengetahui siapa yang mereka sembah dan bagaimana cara memuji-Nya dengan benar. Allah tidak butuh pujian, tetapi Dia mencintai hamba-Nya yang memuji-Nya karena itu adalah ibadah dan bentuk syukur.

Kedua: "Tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah, oleh karena itu Dia mengharamkan perbuatan-perbuatan keji"

Sifat ghayrah (cemburu) bagi Allah adalah sifat kesempurnaan. Cemburu Allah berarti Allah tidak rela hamba-Nya melakukan perbuatan yang melanggar batas-batas-Nya, terutama perbuatan keji seperti zina, liwath (homoseksual), dan segala bentuk kemaksiatan yang menodai kehormatan diri dan agama.

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya al-Jawab al-Kafi menjelaskan bahwa cemburu Allah adalah konsekuensi dari kesucian dan keagungan-Nya. Allah mengharamkan perbuatan keji karena itu merusak jiwa, keturunan, dan masyarakat. Cemburu Allah bukan seperti cemburu manusia yang bisa berlebihan atau tidak adil, tetapi cemburu yang penuh hikmah dan keadilan.

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah mengharamkan perbuatan keji karena Allah Maha Mengetahui bahwa perbuatan tersebut adalah sumber kerusakan besar di muka bumi. Maka, kecemburuan Allah adalah rahmat bagi hamba-Nya agar mereka selamat dari kebinasaan.

Perbedaan Pemahaman:

Ada sebagian orang yang keliru memahami sifat ghayrah Allah dengan menyamakannya dengan cemburu makhluk. Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa kita menetapkan sifat ghayrah bagi Allah tanpa takyif (bertanya bagaimana caranya) dan tanpa tamtsil (menyamakan dengan makhluk). Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Kami menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam Al-Qur'an dan hadits, tanpa menggambarkan dan tanpa menolaknya."

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah. Oleh karena itu, Dia mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan tidak ada seorang pun yang lebih mencintai pujian daripada Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan orang beriman juga cemburu. Dan kecemburuan Allah adalah ketika seorang hamba melakukan apa yang diharamkan-Nya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah yang sangat terkenal adalah tentang Sa'd bin Ubadah radhiyallahu 'anhu. Suatu ketika ia berkata: "Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istrinya, pasti aku tebas dia dengan pedangku." Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabat: "Kalian heran dengan kecemburuan Sa'd? Demi Allah, sungguh aku lebih cemburu daripada Sa'd, dan Allah lebih cemburu daripada aku. Karena kecemburuan Allah itulah Dia mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmah dari kisah ini: Kecemburuan yang terpuji adalah menjaga kehormatan dan menjauhi hal-hal yang diharamkan. Sa'd bin Ubadah memiliki rasa cemburu yang kuat terhadap keluarganya, dan ini adalah sifat yang dicintai Allah selama tidak berlebihan dan tidak melanggar syariat.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak memuji Allah dengan membaca hamdalah, bertahmid, dan menyebut nama-nama-Nya yang indah, karena Allah mencintai pujian dari hamba-Nya.
  2. Jauhi segala perbuatan keji, baik yang tampak (seperti zina, minum khamr, dan maksiat lainnya) maupun yang tersembunyi (seperti hasad, riya', dan dosa hati), karena Allah Maha Cemburu dan tidak rela hamba-Nya melanggar batas-Nya.
  3. Tanamkan rasa malu kepada Allah dalam hati, karena Allah melihat segala perbuatan kita, yang tampak maupun yang tersembunyi.
  4. Jadikan rasa cemburu yang terpuji sebagai benteng untuk menjaga diri dan keluarga dari perbuatan dosa, sebagaimana dicontohkan oleh Sa'd bin Ubadah.
  5. Jangan menyerupai sifat Allah dengan cemburu yang berlebihan dan tidak adil, karena cemburu manusia harus dalam koridor syariat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?