Penjelasan Hadits Muslim No. 2754 tentang Rahmat Allah melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil terbesar tentang luasnya rahmat Allah ﷻ. Hadits ini menggambarkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang sangat kuat, lalu Nabi ﷺ mengajarkan bahwa rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya jauh lebih besar daripada kasih sayang ibu tersebut. Ini adalah kabar gembira yang sangat agung bagi setiap muslim yang berbuat dosa, agar tidak berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat-Nya mengalahkan murka-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Taubat, Bab Tentang Luasnya Rahmat Allah dan Bahwa Rahmat-Nya Mengalahkan Murka-Nya, nomor 2754, dari sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar [39]: 53)

Ayat ini disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya sebagai dalil bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu, dan tidak ada seorang pun yang boleh berputus asa dari rahmat-Nya, betapa pun besar dosanya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dengan sangat indah. Mari kita simak penjelasan mereka:

1. Makna Hadits Secara Umum

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa agungnya rahmat Allah ﷻ. Beliau berkata: "Hadits ini mengandung makna bahwa rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman jauh melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Kasih sayang ibu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah yang Dia ciptakan di bumi."

2. Penjelasan tentang Rahmat Allah yang Mengalahkan Murka-Nya

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa Allah ﷻ memiliki rahmat yang sangat luas. Beliau menukil dari Sufyan ats-Tsauri bahwa Allah menciptakan rahmat dalam 100 bagian, 99 bagian disimpan di sisi-Nya, dan hanya 1 bagian yang diturunkan ke bumi. Dengan 1 bagian inilah seluruh makhluk saling menyayangi, bahkan seekor kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya terinjak. Maka ketika hari kiamat tiba, Allah akan menggabungkan 99 bagian itu dengan 1 bagian yang di bumi, sehingga rahmat-Nya menjadi 100 bagian penuh.

3. Pelajaran tentang Harapan dan Jangan Berputus Asa

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah" adalah kabar gembira terbesar bagi para pelaku dosa. Beliau berkata: "Ayat ini mencakup semua dosa, baik dosa besar maupun kecil. Allah mengampuni semuanya bagi siapa yang bertobat kepada-Nya, karena Dia adalah Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang)."

4. Perbandingan Kasih Sayang Ibu dan Rahmat Allah

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menggunakan perumpamaan kasih sayang ibu kepada anaknya karena itu adalah kasih sayang paling kuat yang dikenal manusia. Jika kasih sayang yang paling kuat saja tidak akan membuat seorang ibu melemparkan anaknya ke api, maka bagaimana mungkin Allah yang Maha Penyayang akan melemparkan hamba-Nya yang bertobat ke neraka?

5. Pelajaran dari Kisah Ini

Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits serupa dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Allah menjadikan rahmat dalam 100 bagian, 99 bagian disimpan di sisi-Nya dan 1 bagian diturunkan ke bumi. Dengan 1 bagian inilah seluruh makhluk saling menyayangi, sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya terinjak." (HR. Bukhari no. 6000)

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang seorang sahabat yang merasakan luasnya rahmat Allah. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah membawa tawanan perang, dan di antara mereka ada seorang wanita yang kehilangan anaknya. Wanita itu berjalan mondar-mandir mencari anaknya. Ketika menemukan anaknya, ia langsung memeluknya, menempelkannya ke dadanya, dan menyusuinya dengan penuh kasih sayang.

Nabi ﷺ melihat pemandangan ini dan bertanya kepada para sahabat: "Apakah kalian mengira wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?" Para sahabat menjawab: "Tidak, demi Allah, selama ia mampu, ia tidak akan melakukannya." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya."

Hikmah dari kisah ini: Jika seorang ibu yang hanyalah makhluk biasa bisa memiliki kasih sayang sebesar itu kepada anaknya, maka betapa agungnya kasih sayang Allah yang menciptakan kasih sayang itu sendiri. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertobat dan kembali kepada-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, betapa pun besar dosa yang telah kita lakukan. Pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
  2. Segera bertobat kepada Allah dengan tobat yang jujur, menyesali dosa, berhenti melakukannya, dan bertekad tidak mengulanginya.
  3. Yakinlah bahwa Allah lebih menyayangi kita daripada ibu kita sendiri. Jika ibu kita tidak tega melihat kita menderita, maka Allah lebih tidak tega lagi kepada hamba-Nya yang bertobat.
  4. Sebarkan kabar gembira ini kepada sesama muslim, terutama kepada mereka yang merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni.
  5. Jangan menunda tobat, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah menerima tobat hamba-Nya selama ruhnya belum sampai di tenggorokan." (HR. At-Tirmidzi)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?