Penjelasan Hadits Muslim No. 2746 tentang Kegembiraan Allah atas tobat hamba-Nya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan betapa besar kegembiraan Allah ketika hamba-Nya bertaubat. Perumpamaannya seperti seseorang yang kehilangan untanya di padang tandus bersama seluruh bekal hidupnya, lalu menemukannya kembali secara tak terduga. Kegembiraan orang itu tidak sebanding dengan kegembiraan Allah atas taubat hamba-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Pertobatan (Kitab at-Taubah), dari sahabat Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu.

Ayat yang sangat berkaitan dengan tema ini:

وَقُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

QS. Az-Zumar [39]: 53

"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah seruan Allah kepada setiap hamba yang banyak berbuat dosa agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya, karena pintu taubat selalu terbuka selagi nyawa masih di badan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung pelajaran iman yang sangat agung. Nabi ﷺ tidak langsung menyampaikan pesan, tetapi beliau bertanya lebih dulu kepada para sahabat untuk menguatkan pemahaman mereka. Beliau menggambarkan seorang musafir di padang tandus (قَفْر) — tidak ada makanan, tidak ada minuman — sementara seluruh bekal hidupnya berada di atas untanya. Ketika unta itu lepas dan hilang, orang tersebut berusaha mencarinya hingga kelelahan. Lalu secara tak terduga, unta itu terjerat tali kekangnya pada sebuah batang pohon, dan ia menemukannya kembali.

Para sahabat menjawab: "Dia akan sangat gembira, ya Rasulullah." Maka Nabi ﷺ bersumpah dengan nama Allah dan bersabda bahwa kegembiraan Allah atas taubat hamba-Nya lebih besar daripada kegembiraan orang itu.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dan besarnya penerimaan-Nya terhadap taubat. Beliau menegaskan bahwa "kegembiraan" di sini bukan berarti Allah memiliki perasaan seperti makhluk, melainkan menunjukkan keridhaan dan penerimaan Allah yang sempurna terhadap hamba yang kembali kepada-Nya — sebagaimana ditegaskan dalam kaidah aqidah Ahlus Sunnah bahwa sifat-sifat Allah tidak menyerupai makhluk.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa perumpamaan ini dipilih karena menggambarkan puncak kegembiraan manusia yang bisa dibayangkan, sehingga menjadi ukuran betapa jauh lebih besarnya kegembiraan Allah — meskipun tentu tidak sama hakikatnya.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa hadits ini termasuk hadits yang paling menghibur orang-orang berdosa, karena menunjukkan bahwa Allah tidak hanya mengampuni, tetapi bergembira atas kembalinya hamba tersebut. Ini menunjukkan betapa Allah mencintai taubat hamba-Nya.

Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam penjelasannya menekankan bahwa hadits ini mendorong setiap muslim untuk tidak menunda taubat dan tidak berputus asa, karena Allah sendiri yang "menanti" kembalinya hamba dengan kegembiraan.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang seseorang yang berada di padang tandus bersama untanya, lalu ia tertidur, dan ketika bangun untanya telah hilang bersama bekalnya. Ia mencari dengan putus asa, hingga akhirnya ia berkata dalam hati, "Aku akan kembali ke tempat tidurku dan tidur sampai mati." Lalu ia meletakkan kepalanya untuk tidur, dan ketika ia bangun, tiba-tiba untanya sudah berdiri di sampingnya lengkap dengan bekalnya. Maka Nabi ﷺ bersabda bahwa kegembiraan Allah atas taubat hamba-Nya lebih besar dari kegembiraan orang itu.

Hikmahnya: Salafus shalih seperti Al-Hasan al-Bashri sering mengingatkan bahwa seorang mukmin hendaknya selalu berbaik sangka kepada Allah, karena Allah lebih senang menerima taubat hamba-Nya daripada hamba itu sendiri menerima ampunan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, sekecil apa pun iman kita dan sebesar apa pun dosa kita.
  2. Segera bertaubat tanpa menunda, karena Allah bergembira atas kembalinya hamba-Nya.
  3. Perbanyak istighfar dan taubat yang tulus (taubat nasuha), disertai penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad tidak mengulangi.
  4. Berbaik sangka kepada Allah, karena rahmat-Nya lebih besar dari dosa hamba-Nya.
  5. Jangan menghakimi orang yang berdosa, tetapi doakan dan ingatkan dengan lembut, karena pintu taubat terbuka untuk semua.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?