Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung dari Nabi ﷺ. Beliau menggambarkan betapa besarnya kebahagiaan Allah Subhanahu wa Ta'ala ketika seorang hamba-Nya yang beriman bertobat dari dosa. Kebahagiaan itu digambarkan lebih besar daripada kebahagiaan seorang musafir yang kehilangan untanya yang membawa seluruh bekal makanan dan minumannya di tengah padang pasir yang tandus, lalu menemukannya kembali dalam keadaan hidup setelah sebelumnya ia sudah berputus asa dan bersiap mati. Ini menunjukkan betapa Allah sangat mencintai hamba-Nya yang kembali kepada-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Taubat, Bab Anjuran untuk Bertobat dan Bergembira dengan Tobat, nomor 2744. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ad-Da'awat, Bab At-Taubah, nomor 6308, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan, dengan perbaikan harakat pada beberapa kata agar sesuai dengan kaidah):
> لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ مِنْ رَجُلٍ فِي أَرْضٍ دَوِيَّةٍ مَهْلَكَةٍ مَعَهُ رَاحِلَتُهُ عَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَنَامَ فَاسْتَيْقَظَ وَقَدْ ذَهَبَتْ فَطَلَبَهَا حَتَّى أَدْرَكَهُ الْعَطَشُ ثُمَّ قَالَ أَرْجِعُ إِلَى مَكَانِي الَّذِي كُنْتُ فِيهِ فَأَنَامُ حَتَّى أَمُوتَ فَوَضَعَ رَأْسَهُ عَلَى سَاعِدِهِ لِيَمُوتَ فَاسْتَيْقَظَ وَعِنْدَهُ رَاحِلَتُهُ وَعَلَيْهَا زَادُهُ وَطَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَاللَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ مِنْ هَذَا بِرَاحِلَتِهِ وَزَادِهِ
Makna ringkas: "Sungguh, Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya yang beriman daripada (kegembiraan) seorang laki-laki yang berada di padang pasir yang tandus dan membinasakan, bersamanya unta tunggangannya yang membawa makanan dan minumannya. Lalu ia tertidur dan terbangun dalam keadaan untanya telah hilang. Ia mencarinya hingga kehausan. Kemudian ia berkata, 'Aku kembali ke tempatku semula, lalu aku tidur sampai mati.' Ia meletakkan kepalanya di lengannya untuk mati. Lalu ia terbangun dan ternyata untanya ada di dekatnya beserta bekal makanan dan minumannya. Maka Allah lebih bergembira dengan tobat hamba yang beriman daripada (kegembiraan) orang ini dengan unta dan bekalnya."
Kaitan dengan ulama: Hadits ini dijelaskan oleh banyak ulama dari daftar rujukan kita. Di antaranya:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (Al-Minhaj) menjelaskan makna "فرح" (kegembiraan) bagi Allah adalah sifat yang layak bagi-Nya, bukan seperti kegembiraan makhluk. Ini adalah salah satu sifat Allah yang wajib kita imani tanpa menanyakan bagaimana caranya (takyif) dan tanpa menyerupakannya dengan makhluk (tamtsil).
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini saat mensyarah Shahih Al-Bukhari, dan menegaskan bahwa ini adalah kabar gembira bagi para pelaku dosa agar tidak berputus asa dari rahmat Allah.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin dan Syarah Al-Arba'in menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya kasih sayang Allah dan dorongan kuat untuk segera bertobat.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Makna "Kegembiraan" (Al-Farah) bagi Allah
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa kata "فرح" (kegembiraan) yang disandarkan kepada Allah adalah salah satu sifat Allah yang wajib kita tetapkan sesuai dengan keagungan-Nya. Kita tidak boleh menafsirkannya dengan makna yang tidak layak, dan tidak boleh pula menanyakan "bagaimana" caranya. Ini adalah bagian dari mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah tanpa tahrif (mengubah makna), tanpa ta'thil (menolak sifat), tanpa takyif (menanyakan bagaimana), dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Sebagaimana firman Allah dalam QS. Asy-Syura [42]: 11:
> لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat."
2. Besarnya Kasih Sayang Allah kepada Hamba-Nya yang Bertobat
Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa perumpamaan dalam hadits ini sangat jelas menggambarkan betapa besar kebahagiaan Allah. Seorang musafir yang kehilangan untanya di padang pasir yang tandus dan membinasakan - di mana tidak ada makanan, minuman, atau tempat berlindung - pasti merasakan keputusasaan yang luar biasa. Ia sudah bersiap mati. Namun ketika ia terbangun dan mendapati untanya kembali, kebahagiaannya tidak bisa digambarkan. Allah berfirman bahwa kebahagiaan-Nya atas tobat hamba-Nya lebih besar dari itu.
3. Tobat adalah Kembalinya Hamba kepada Allah
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa tobat adalah kembali dari maksiat kepada ketaatan. Ini adalah jalan para nabi dan orang-orang saleh. Allah mencintai hamba-Nya yang bertobat, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 222:
> إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri."
4. Syarat-syarat Tobat yang Diterima
Para ulama, di antaranya Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin, menjelaskan bahwa tobat yang diterima memiliki syarat-syarat:
- Ikhlas karena Allah semata.
- Menyesali dosa yang telah diperbuat.
- Berhenti dari perbuatan dosa tersebut.
- Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.
- Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka harus mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf kepada orang yang dizalimi.
5. Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menutup pintu tobat bagi hamba-Nya selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Ini adalah rahmat yang sangat besar. Maka tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk berputus asa, sekalipun dosanya sangat banyak. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Story Telling
Ada kisah indah yang diriwayatkan dari sebagian salaf tentang keutamaan tobat. Disebutkan bahwa Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah - seorang ulama besar dari kalangan tabi'ut tabi'in - sebelum menjadi ulama, ia adalah seorang perampok jalanan yang terkenal kejam. Ia biasa merampok kafilah-kafilah dagang di jalan antara Abuward dan Sarakhs.
Suatu malam, ia sedang dalam perjalanan untuk merampok. Di tengah perjalanan, ia mendengar lantunan ayat Al-Qur'an yang dibaca oleh seorang musafir. Ayat yang dibacanya adalah firman Allah dalam QS. Al-Hadid [57]: 16:
> أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?"
Mendengar ayat ini, hati Al-Fudhail tersentuh. Ia berkata, "Wahai Tuhanku, telah tiba waktunya!" Ia pun bertobat dan menjadi salah seorang ulama besar yang sangat zuhud dan wara'. Ia dikenal sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa pada zamannya.
Kisah ini menunjukkan bahwa pintu tobat selalu terbuka, dan Allah sangat bergembira dengan tobat hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits yang kita bahas ini. (Kisah ini masyhur disebutkan dalam kitab-kitab siyar dan tarikh, di antaranya Siyar A'lam An-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi).
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, sebesar apa pun dosa yang telah kita lakukan. Allah lebih gembira dengan tobat kita daripada kegembiraan orang yang menemukan kembali untanya yang hilang.
- Segera bertobat setiap kali melakukan dosa, jangan menunda-nunda. Tobat adalah jalan kembali kepada Allah dan jalan keluar dari segala kegelisahan.
- Penuhi syarat-syarat tobat: ikhlas, menyesal, berhenti dari dosa, dan bertekad tidak mengulangi. Jika dosa itu berkaitan dengan hak orang lain, selesaikan hak tersebut.
- Jangan menunda tobat sampai ajal tiba, karena tobat yang diterima adalah sebelum nyawa sampai di tenggorokan.
- Yakinlah bahwa Allah Maha Pengampun, dan jangan pernah meragukan kasih sayang-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.