Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2743 tentang Tawassul dengan amal saleh untuk keluar dari kesulitan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua oleh batu besar, lalu mereka bertawassul kepada Allah dengan amal-amal saleh mereka yang ikhlas. Hadits ini menunjukkan bolehnya bertawassul dengan amal saleh yang telah dilakukan, dan bahwa keikhlasan serta bakti kepada orang tua, menjaga kesucian diri, dan menunaikan hak orang lain adalah sebab-sebab besar terkabulnya doa dan pertolongan Allah. Kisah ini juga mengajarkan bahwa amal saleh yang dilakukan murni karena Allah akan menjadi penyelamat di saat-saat sulit.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq, Bab Kisah Tiga Sahabat Gua dan Tawassul dengan Amal Saleh, nomor 2743. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Buyu', Bab Man Istahaqqa Haqqahu (nomor 2272), dan dalam kitab Ahaditsul Anbiya' (nomor 3465).

Dalil Al-Qur'an yang relevan tentang keikhlasan dan amal saleh:

QS. Al-Kahfi [18]: 110

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

"Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya."

Kaitan dengan ulama: Hadits ini dijadikan dalil oleh para ulama tentang bolehnya bertawassul dengan amal saleh. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa tawassul dengan amal saleh yang dilakukan sendiri adalah perkara yang disepakati kebolehannya oleh para ulama, karena hal ini termasuk bertawassul dengan keimanan dan ketaatan kepada Allah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin juga menjelaskan dalam Syarh Riyadhush Shalihin bahwa tawassul dengan amal saleh adalah bentuk tawassul yang disyariatkan, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung banyak pelajaran berharga. Mari kita rinci satu per satu:

1. Tawassul dengan Amal Saleh

Para ulama menjelaskan bahwa tawassul terbagi menjadi beberapa macam:

  • Tawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.
  • Tawassul dengan amal saleh yang dilakukan oleh orang yang berdoa.
  • Tawassul dengan doa orang saleh yang masih hidup.

Adapun tawassul dengan amal saleh yang telah dilakukan sendiri, ini adalah perkara yang disepakati kebolehannya. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya bertawassul dengan amal saleh, dan ini adalah pendapat seluruh ulama Ahlus Sunnah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Qa'idah Jamilah fi At-Tawassul wal Wasilah menjelaskan bahwa tawassul dengan amal saleh adalah bertawassul dengan keimanan dan ketaatan kepada Allah, dan ini adalah wasilah yang paling agung di sisi Allah.

2. Keikhlasan dalam Amal

Ketiga orang dalam hadits ini mengakhiri doa mereka dengan kalimat "Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan ini karena mencari wajah-Mu". Ini menunjukkan bahwa kunci diterimanya amal adalah keikhlasan. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa keikhlasan adalah ruh dari setiap amal, dan tanpa keikhlasan, amal tidak akan bernilai di sisi Allah.

3. Berbakti kepada Orang Tua

Amal pertama adalah kisah seorang pemuda yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia. Ia mendahulukan memberi minum kepada orang tuanya sebelum anak-anaknya sendiri, bahkan ketika anak-anaknya menangis kelaparan di dekat kakinya. Ia tetap berdiri menunggu orang tuanya bangun dari tidur, tidak tega membangunkan mereka, dan tidak tega mendahulukan anak-anaknya sebelum orang tuanya.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan keutamaan besar berbakti kepada orang tua, dan bahwa bakti kepada orang tua adalah salah satu sebab terbesar terkabulnya doa dan turunnya pertolongan Allah.

4. Menjaga Kesucian Diri

Amal kedua adalah kisah seorang pemuda yang mampu menahan diri dari perbuatan zina ketika telah berada di puncak godaan. Ia telah membayar mahar seratus dinar kepada sepupunya, dan ketika hendak melakukan perbuatan haram, sepupunya mengingatkannya untuk bertakwa kepada Allah. Maka ia pun bangkit dan meninggalkan perbuatan tersebut.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa menjaga kesucian diri dari perbuatan zina, terutama ketika mampu melakukannya secara halal (karena telah membayar mahar), adalah bukti ketakwaan yang sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa orang tersebut lebih takut kepada Allah daripada mengikuti hawa nafsunya.

5. Menunaikan Hak Orang Lain

Amal ketiga adalah kisah seorang majikan yang dengan jujur menunaikan hak pekerjanya. Ketika pekerja itu tidak mau mengambil upahnya yang berupa satu faraq beras (sekitar 12 sha'), sang majikan menanam beras tersebut hingga berkembang menjadi banyak sapi beserta penggembalanya, lalu memberikannya kepada pekerja tersebut. Pekerja itu mengira majikannya bercanda, tetapi majikan menegaskan bahwa ia sungguh-sungguh memberikannya.

Imam Al-Qurthubi (dalam tafsirnya yang sejalan dengan pemahaman ulama Ahlus Sunnah) menjelaskan bahwa menunaikan hak orang lain dengan sempurna, bahkan melebihkannya, adalah tanda kejujuran dan amanah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan pentingnya bersikap jujur dan tidak mengurangi hak orang lain, serta menunjukkan bahwa Allah membalas kejujuran dengan kebaikan yang berlipat ganda.

6. Doa sebagai Senjata Orang Mukmin

Ketiga orang tersebut berdoa kepada Allah dengan penuh keyakinan dan harapan. Mereka tidak berdoa kepada selain Allah, tidak meminta kepada batu atau gua, tetapi langsung memohon kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa doa adalah senjata orang mukmin, dan Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya yang tulus.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang keikhlasan dari seorang ulama salaf, yaitu Fudhail bin 'Iyadh. Beliau adalah seorang ulama besar yang dikenal dengan kezuhudan dan keikhlasannya. Suatu ketika beliau ditanya tentang keikhlasan, maka beliau berkata: "Manusia meninggalkan amal karena melihat manusia adalah riya'. Dan manusia beramal karena ingin dilihat manusia adalah syirik. Adapun keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa keikhlasan adalah perkara yang sangat sulit dan agung. Namun, kisah tiga orang dalam hadits ini menunjukkan bahwa keikhlasan itu mungkin dicapai, dan ketika seseorang mencapai keikhlasan, maka Allah akan menolongnya dalam keadaan yang paling sulit sekalipun.

Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa'id menjelaskan bahwa amal yang ikhlas karena Allah, meskipun kecil, akan menjadi besar di sisi Allah. Sebaliknya, amal yang besar tetapi tidak ikhlas, akan menjadi kecil dan tidak bernilai. Maka hendaknya kita senantiasa memperbaiki niat dan memurnikan amal kita hanya karena Allah.

Kesimpulan Praktis

Dari hadits ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:

  1. Bertawassul dengan amal saleh - Ketika menghadapi kesulitan, kita boleh berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal saleh yang pernah kita lakukan dengan ikhlas, sebagai wasilah untuk terkabulnya doa.
  2. Perbanyak amal saleh - Amal saleh yang kita lakukan hari ini bisa menjadi penyelamat kita di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat.
  3. Utamakan berbakti kepada orang tua - Berbakti kepada orang tua adalah amal yang sangat agung dan menjadi sebab turunnya pertolongan Allah.
  4. Jaga kesucian diri - Menjauhi perbuatan zina dan menjaga kehormatan adalah amal yang sangat dicintai Allah, terutama ketika kita mampu melakukannya.
  5. Tunaikan hak orang lain - Bersikap jujur dan amanah dalam muamalah, serta tidak mengurangi hak orang lain, adalah sebab keberkahan dan pertolongan Allah.
  6. Ikhlas dalam setiap amal - Pastikan setiap amal yang kita lakukan adalah murni karena Allah, bukan karena ingin dilihat atau dipuji manusia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.