Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2726 tentang Keutamaan dzikir singkat yang berat timbangannya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa dzikir dengan lafaz "Subhanallah wa bihamdih" yang diucapkan hanya tiga kali tetapi dengan makna yang luas (sesuai jumlah ciptaan, keridhaan, berat Arsy, dan tinta kalimat Allah) lebih utama daripada dzikir biasa yang diucapkan sepanjang hari. Ini menunjukkan keutamaan dzikir yang disertai penghayatan makna dan keikhlasan, serta kemurahan Allah yang melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Ahzab [33]: 41-42

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."

Hadits yang dijelaskan:

Hadits riwayat Imam Muslim (no. 2726) dari Ummul Mukminin Juwairiyah binti al-Harits radhiyallahu 'anha. Diriwayatkan juga oleh Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa'i dengan sanad yang shahih.

Penjelasan ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (17/22-23) menjelaskan bahwa makna "مِدَادَ كَلِمَاتِهِ" (tinta kalimat-Nya) adalah sebesar tinta yang digunakan untuk menulis kalimat-kalimat Allah yang tidak terbatas. Ini menunjukkan kebesaran dan keluasan ilmu Allah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (4/340) menjelaskan bahwa dzikir ini mengandung makna tauhid dan pengagungan terhadap Allah, serta menunjukkan bahwa dzikir yang sedikit tetapi bermakna luas lebih utama daripada dzikir yang banyak tetapi tanpa penghayatan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Dzikir, Doa, Taubat, dan Istighfar, bab Tasbih di Pagi Hari dan Saat Tidur. Kisahnya: Rasulullah ﷺ keluar dari rumah Ummul Mukminin Juwairiyah setelah shalat Subuh, lalu beliau kembali pada waktu Dhuha (ketika matahari telah naik) dan mendapati Juwairiyah masih duduk berdzikir di tempat shalatnya. Beliau bertanya, "Apakah engkau masih dalam keadaan yang sama sejak aku tinggalkan?" Juwairiyah menjawab, "Ya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau telah mengucapkan empat kalimat tiga kali yang lebih berat timbangannya daripada dzikir yang diucapkan Juwairiyah sepanjang pagi itu.

Makna lafaz dzikir:

  1. سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) – Ini adalah kalimat tasbih dan tahmid yang menggabungkan pensucian Allah dari segala kekurangan dan pujian kepada-Nya.
  2. عَدَدَ خَلْقِهِ (sesuai jumlah ciptaan-Nya) – Artinya sebanyak makhluk yang diciptakan Allah, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui.
  3. رِضَا نَفْسِهِ (sesuai keridhaan-Nya) – Yaitu sebanyak keridhaan Allah yang sempurna dan tidak terbatas.
  4. زِنَةَ عَرْشِهِ (sesuai berat Arsy-Nya) – Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar, dan beratnya tidak dapat dibayangkan.
  5. مِدَادَ كَلِمَاتِهِ (sesuai tinta kalimat-Nya) – Kalimat Allah tidak terbatas, dan tinta untuk menulisnya pun tidak terhingga.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (2/467) menjelaskan bahwa dzikir ini menunjukkan keagungan Allah dan ketidakmampuan manusia untuk menghitung pujian kepada-Nya. Ini juga mengajarkan bahwa seorang hamba hendaknya berdzikir dengan hati yang hadir dan memahami makna, bukan sekadar gerakan lisan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir al-Karim ar-Rahman (5/234) ketika menafsirkan QS. Al-Kahfi [18]: 109 tentang lautan yang menjadi tinta kalimat Allah, beliau menjelaskan bahwa kalimat Allah (ilmu dan hikmah-Nya) tidak terbatas, dan dzikir dengan lafaz ini mengandung pengakuan akan kebesaran dan keluasan ilmu Allah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal (dalam az-Zuhd, no. 1652) bahwa seorang salaf bernama Abu Darda' radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Hendaklah engkau berdzikir kepada Allah di antara waktu-waktu yang engkau lalai, karena sesungguhnya dzikir di waktu lalai lebih utama." Kisah Juwairiyah ini mengajarkan bahwa meskipun beliau telah berdzikir sepanjang pagi, namun dzikir yang diucapkan Rasulullah ﷺ dengan makna yang lebih luas tetap lebih berat timbangannya. Ini menunjukkan bahwa kualitas dzikir lebih penting daripada kuantitasnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Amalkan dzikir ini setiap pagi dan petang – Lafaz "Subhanallah wa bihamdih 'adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata 'arsyihi wa midada kalimatihi" diucapkan tiga kali.
  2. Perhatikan makna saat berdzikir – Jangan hanya mengucapkan tanpa penghayatan, karena pahala bergantung pada kehadiran hati.
  3. Jangan meremehkan dzikir yang sedikit – Satu kalimat yang diucapkan dengan ikhlas dan penuh makna bisa lebih berat timbangannya daripada dzikir yang panjang tetapi tanpa penghayatan.
  4. Gunakan waktu pagi untuk berdzikir – Sebagaimana Rasulullah ﷺ dan para sahabat membiasakan dzikir setelah shalat Subuh hingga waktu Dhuha.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.