Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab berdzikir: tidak perlu mengeraskan suara, karena Allah Maha Mendengar dan sangat dekat dengan hamba-Nya. Nabi ﷺ juga mengajarkan bahwa kalimat "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh" adalah simpanan pahala yang sangat berharga, salah satu harta surga.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-A'raf [7]: 205
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
Terjemahan: "Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah."
QS. Al-Baqarah [2]: 186
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab adz-Dzikr wa ad-Du'a wa at-Taubah wa al-Istighfar, dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari (Abdullah bin Qais) radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya tidak mengeraskan suara dalam berdzikir dan berdoa, kecuali dalam keadaan tertentu yang diajarkan syariat.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa larangan mengeraskan suara di sini bersifat bimbingan (irsyad), bukan larangan haram, karena mengeraskan suara bisa memberatkan diri sendiri dan mengganggu orang lain.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna "Aku dekat" pada QS. Al-Baqarah [2]: 186 bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, mendengar dan mengabulkan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Adab dalam berdzikir.
Ketika para sahabat mengeraskan suara takbir dalam perjalanan, Nabi ﷺ menegur dengan lembut: "Wahai manusia, berbelas kasihanlah kepada diri kalian sendiri." Maksudnya, jangan memberatkan diri dengan mengeraskan suara, karena Allah tidak perlu suara keras untuk mendengar. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa kalimat "ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ" berarti "kasihanilah diri kalian" — yakni jangan memaksakan diri dengan mengeraskan suara yang tidak diperlukan.
Kedua: Allah Maha Mendengar dan Dekat.
Nabi ﷺ menegaskan: "Kalian tidak memanggil yang tuli atau yang tidak ada. Sesungguhnya kalian memanggil Yang Maha Mendengar lagi Dekat, dan Dia bersama kalian." Ibn Katsir menjelaskan bahwa "Dia bersama kalian" berarti Allah bersama hamba-Nya dengan ilmu-Nya, mendengar dan melihat mereka. Ini bukan berarti Allah menyatu dengan makhluk, sebagaimana dijelaskan Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim bahwa kebersamaan Allah adalah kebersamaan ilmu, pertolongan, dan pengawasan — bukan kebersamaan zat.
Ketiga: Kalimat "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh" adalah harta surga.
Nabi ﷺ menyebut kalimat ini sebagai "kanzun min kunūzil jannah" (harta dari harta-harta surga). Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa kalimat ini mengandung pengakuan bahwa tidak ada daya untuk menjauhi maksiat dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah. Karena itu, ia menjadi simpanan pahala yang besar di surga.
Perbedaan pendapat ulama daftar:
Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar menyebutkan bahwa perintah merendahkan suara dalam dzikir bersifat sunnah dan bimbingan, bukan wajib. Sedangkan Imam an-Nawawi menegaskan bahwa mengeraskan suara dalam dzikir secara berlebihan yang mengganggu orang lain adalah makruh. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa dzikir dengan suara lembut lebih utama, kecuali dalam keadaan yang diajarkan syariat untuk mengeraskan suara seperti talbiyah dan takbir hari raya.
Story Telling
Dikisahkan oleh Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu — beliau adalah salah satu sahabat yang suaranya sangat indah dalam membaca Al-Qur'an. Dalam perjalanan bersama Nabi ﷺ, beliau berada di belakang Nabi dan membaca "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh" dengan suara pelan. Nabi ﷺ mendengarnya dan langsung memberikan kabar gembira: "Wahai Abdullah bin Qais, maukah aku tunjukkan kepadamu harta dari harta-harta surga?" Beliau menjawab: "Tentu, ya Rasulullah." Nabi ﷺ bersabda: "Bacalah: Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh."
Hikmahnya: dzikir yang diucapkan dengan lembut dan penuh kesadaran justru lebih didengar oleh Allah dan lebih berharga, karena menunjukkan keikhlasan dan ketawadhuan hamba. Sebagaimana dijelaskan Ibn Rajab, dzikir yang paling utama adalah yang dilakukan dengan hati yang hadir, bukan sekadar suara yang keras.
Kesimpulan Praktis
- Berdzikirlah dengan suara lembut — cukup didengar oleh diri sendiri dan Allah, karena Allah Maha Mendengar dan sangat dekat.
- Jangan mengganggu orang lain dengan suara dzikir yang terlalu keras, terutama di tempat umum atau saat bersama orang banyak.
- Perbanyak membaca "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh" — karena ini adalah harta surga yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ.
- Hadirkan hati dalam berdzikir, karena yang dinilai Allah adalah kesadaran dan keikhlasan, bukan kerasnya suara.
- Yakinlah bahwa Allah dekat — setiap doa dan dzikir didengar, tidak ada yang terlewat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.