Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits qudsi yang sangat agung. Ia mengajarkan kita tentang betapa dekatnya Allah kepada hamba-Nya yang berzikir dan berbaik sangka kepada-Nya. Hadits ini berisi kabar gembira bahwa Allah membalas kedekatan hamba dengan kedekatan yang lebih besar lagi, dan membalas kebaikan hamba dengan kebaikan yang berlipat ganda. Ini adalah dorongan luar biasa untuk senantiasa mengingat Allah dan berprasangka baik kepada-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Zikir, Doa, Taubat, dan Istighfar, Bab Dorongan untuk Mengingat Allah Ta'ala, no. 2675, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab at-Tauhid, Bab "Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku", no. 7405.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah [2]: 152)
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku" adalah Allah akan memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan prasangka hamba tersebut. Jika ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Jika ia berprasangka buruk, maka ia akan mendapatkan keburukan. Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini adalah salah satu hadits yang agung dan mengandung kabar gembira yang besar.
Penjelasan Rinci
Para ulama, di antaranya Imam an-Nawawi dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahumallah, menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
- "Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku": Ini adalah dorongan untuk berbaik sangka (husnuzh-zhan) kepada Allah. Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa prasangka baik ini mencakup prasangka bahwa Allah akan menerima amal, mengampuni dosa, dan mengabulkan doa. Prasangka baik ini harus disertai dengan usaha dan ikhtiar, bukan sekadar angan-angan kosong.
- "Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku": Kebersamaan (ma'iyyah) di sini adalah kebersamaan yang khusus, yaitu kebersamaan dalam bentuk penjagaan, pertolongan, dan dukungan Allah kepada hamba-Nya yang sedang berzikir. Ini bukan berarti Allah "berada" di tempat atau menyatu dengan makhluk-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa Allah Maha Tinggi di atas 'Arsy-Nya, namun ilmu dan kebersamaan-Nya yang khusus meliputi hamba-hamba-Nya yang berzikir.
- "Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku ingat dia dalam diri-Ku": Ini adalah balasan yang setimpal. Jika seorang hamba mengingat Allah secara sembunyi-sembunyi dengan penuh keikhlasan, maka Allah akan menyebut-nyebut namanya di hadapan para malaikat yang mulia di sisi-Nya.
- "Jika ia mengingat-Ku dalam kumpulan, Aku ingat dia dalam kumpulan yang lebih baik dari mereka": Jika seorang hamba berzikir kepada Allah di tengah keramaian, maka Allah akan menyebut-nyebutnya di hadapan kumpulan para malaikat yang lebih baik dan lebih mulia dari kumpulan manusia tersebut. Ini adalah kehormatan yang sangat besar bagi seorang hamba.
- "Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta...": Ini adalah gambaran tentang betapa cepatnya Allah membalas hamba-Nya yang mendekat kepada-Nya. Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, maka semakin dekat pula Allah kepadanya dengan rahmat, taufik, dan pertolongan-Nya. Ini adalah dorongan untuk terus meningkatkan kedekatan diri kepada Allah, tidak pernah merasa cukup dengan amal yang telah dilakukan.
- "Jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari": Ini adalah puncak kabar gembira. Allah menggambarkan balasan-Nya dengan gambaran yang sangat cepat dan sempurna. Ini menunjukkan bahwa Allah sangat bergembira dengan kedekatan hamba-Nya dan sangat cepat dalam memberikan balasan kebaikan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu" (QS. Al-Baqarah [2]: 152) memiliki makna yang selaras dengan hadits ini. Zikir kepada Allah adalah sebab untuk mendapatkan zikir (sebutan) Allah kepada hamba-Nya, yang merupakan kemuliaan yang tidak ada tandingannya.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya daripada salah seorang dari kalian yang menemukan untanya yang hilang di padang pasir yang luas.'" (HR. Muslim no. 2675)
Bayangkan kegembiraan seseorang yang kehilangan satu-satunya unta yang membawa bekal dan kendaraannya di tengah padang pasir yang tandus. Ia sudah berputus asa, lalu tiba-tiba unta itu muncul di hadapannya. Betapa luar biasa gembiranya ia! Maka Allah Yang Maha Kuasa lebih bergembira lagi ketika seorang hamba yang beriman kembali kepada-Nya dalam taubat dan mengingat-Nya.
Kisah ini menunjukkan betapa Allah sangat mencintai hamba-Nya yang kembali kepada-Nya. Tidak ada keputusasaan dalam rahmat Allah. Selama hamba masih bernyawa dan mau berzikir serta bertaubat, maka pintu ampunan dan rahmat Allah selalu terbuka lebar.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak zikir kepada Allah dalam keadaan sendiri maupun ramai, dengan hati yang hadir dan lisan yang basah menyebut nama-Nya.
- Perbaiki prasangka kita kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penerima Taubat, dan Maha Memberi. Jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya.
- Dekatkan diri kepada Allah dengan amal-amal ketaatan, baik yang wajib maupun yang sunnah. Semakin dekat kita kepada-Nya, semakin besar pula pertolongan dan kasih sayang-Nya kepada kita.
- Jadikan hadits ini sebagai motivasi untuk tidak malas dalam beribadah. Allah sangat cepat dalam membalas kebaikan hamba-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.