Penjelasan Hadits Muslim No. 2665 tentang Larangan mengikuti ayat mutasyabihat dan mencela pelakunya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa Al-Qur'an berisi ayat muhkamat (jelas maknanya) dan mutasyabihat (samar/berpotensi multi tafsir). Orang yang hatinya menyimpang akan sengaja mengejar ayat-ayat mutasyabihat untuk mencari celah fitnah, bukan untuk mencari kebenaran. Nabi ﷺ memerintahkan kita berhati-hati terhadap orang seperti ini, dan hendaknya kita mengembalikan pemahaman kepada ayat-ayat yang jelas serta pemahaman orang-orang yang kokoh ilmunya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Ali 'Imran [3]: 7

Allah ﷻ berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

"Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, 'Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami.' Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal."

Hadits — Shahih Muslim, Kitab al-'Ilm, no. 2665

Diriwayatkan dari 'Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: Rasulullah ﷺ membaca ayat di atas, lalu bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ

"Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat, maka mereka itulah orang-orang yang Allah sebut (dalam ayat ini), maka waspadalah terhadap mereka."

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil larangan sibuk dengan ayat mutasyabihat dengan meninggalkan yang muhkamat, karena hal itu menjadi ciri ahli bid'ah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya menjauhi ahli bid'ah dan orang yang mengikuti syubhat, serta berpegang pada ayat-ayat muhkamat dan pemahaman ulama yang kokoh ilmunya.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ziyagh (penyimpangan hati) adalah condongnya hati dari kebenaran menuju kebatilan, sehingga mereka mencari ayat-ayat samar untuk mendukung hawa nafsu mereka.

Penjelasan Rinci

1. Makna muhkamat dan mutasyabihat

  • Muhkamat adalah ayat-ayat yang maknanya jelas dan tegas, tidak ada keraguan di dalamnya — seperti ayat tentang tauhid, perintah shalat, zakat, larangan syirik, dan pokok-pokok akidah. Inilah "induk kitab" (أُمُّ الْكِتَابِ) yang menjadi rujukan utama.
  • Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang maknanya samar bagi sebagian orang, atau mengandung beberapa kemungkinan makna — seperti ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah, huruf-huruf muqatha'ah di awal surah, dan sebagian berita ghaib.

2. Ciri orang yang hatinya menyimpang

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang dalam hatinya ada zaigh (penyimpangan) akan:

  • Meninggalkan ayat-ayat muhkamat yang jelas.
  • Sibuk mengejar ayat-ayat mutasyabihat.
  • Tujuannya bukan mencari kebenaran, tetapi ibtigha' al-fitnah (mencari fitnah/kekacauan) dan ibtigha' ta'wil (memaksakan tafsir sesuai hawa nafsu).

3. Sikap orang yang kokoh ilmunya (الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ)

Mereka berkata: "Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami." Artinya, mereka menerima seluruh Al-Qur'an — yang jelas maupun yang samar — dan tidak memaksakan tafsir yang tidak berdasar. Ini adalah sikap para sahabat dan salafus shalih.

4. Perbedaan pendapat ulama tentang waqf (berhenti) pada ayat

Ada dua bacaan terkait firman Allah "وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ":

  • Sebagian ulama (seperti Ibnu Katsir mengutip pendapat Ibnu Abbas) berpendapat berhenti pada "إِلَّا اللَّهُ", sehingga hanya Allah yang mengetahui takwilnya, dan war-rasikhuna adalah kalimat baru: "Dan orang-orang yang kokoh ilmunya berkata: Kami beriman..."
  • Sebagian lain berpendapat tidak berhenti, sehingga maknanya: "Tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang kokoh ilmunya."

Ibnu Hajar dan an-Nawawi menyebutkan kedua pendapat ini dan menjelaskan bahwa keduanya dapat diterima; namun yang paling kuat menurut jumhur adalah pendapat pertama, yaitu hanya Allah yang mengetahui hakikat takwil ayat-ayat mutasyabihat, sedangkan orang berilmu hanya beriman dan menyerahkan maknanya kepada Allah.

5. Perintah berhati-hati (فَاحْذَرُوهُمْ)

Nabi ﷺ memerintahkan ihdzaruhum — waspadalah terhadap mereka. Ini bukan sekadar menjauhi pendapatnya, tetapi juga menjaga diri dari pengaruh dan syubhat yang mereka sebarkan. Imam an-Nawawi menyimpulkan bahwa hadits ini adalah pokok dalam bab al-hadzr min ahlil bid'ah (peringatan terhadap ahli bid'ah).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Aisyah رضي الله عنها — istri Nabi ﷺ dan salah satu sahabat yang paling dalam ilmunya — meriwayatkan hadits ini setelah beliau sendiri mendengar langsung bacaan dan sabda Nabi ﷺ. Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat memperhatikan ayat-ayat yang berkaitan dengan akidah dan bahaya penyimpangan.

Al-Hasan al-Bashri (wafat 110 H), seorang tabi'in yang terkenal, pernah berkata tentang ahli bid'ah: "Mereka tidaklah duduk bersama seseorang melainkan mereka merusak hatinya." (makna umum dari nasihat beliau yang banyak dinukil oleh Adz-Dzahabi dan Ibn Rajab). Ini sejalan dengan perintah Nabi ﷺ untuk berhati-hati terhadap orang yang mengejar mutasyabihat.

Sufyan ats-Tsauri (wafat 161 H) juga menasihatkan agar seseorang berhati-hati dalam mengambil ilmu, dan hendaknya ia bertanya: "Dari siapa aku mengambil agamaku?" — karena ilmu agama adalah bagian dari agama itu sendiri.

Kesimpulan Praktis

  1. Pelajari ayat-ayat muhkamat terlebih dahulu — tauhid, akidah, halal-haram yang jelas — sebelum mendalami ayat-ayat yang samar.
  2. Jangan sibuk berdebat dengan ayat mutasyabihat untuk mencari kemenangan, karena itu ciri hati yang menyimpang.
  3. Berhati-hatilah terhadap orang yang gemar mengejar syubhat dan menyebarkannya; jangan ikuti mereka, dan jaga hati dari pengaruhnya.
  4. Ikutilah pemahaman salafus shalih — para sahabat, tabi'in, dan ulama yang kokoh ilmunya — dalam memahami Al-Qur'an dan Sunnah.
  5. Jika menemui ayat yang samar, ucapkanlah sebagaimana orang berilmu: "Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami." — dan serahkan maknanya kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?