Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya menjadi pribadi yang kuat, baik kuat iman, fisik, maupun semangat, karena itu lebih dicintai Allah. Namun, orang beriman yang lemah pun tetap memiliki kebaikan. Kita diperintahkan untuk bersemangat meraih hal yang bermanfaat, memohon pertolongan Allah, tidak malas atau lemah, dan saat musibah datang, jangan menyesali dengan kata "seandainya", tetapi terimalah takdir Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Takdir, Bab Perintah untuk Kekuatan dan Meninggalkan Kelemahan serta Meminta Pertolongan kepada Allah dan Menyerahkan Takdir kepada Allah, nomor 2664, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Al-Qur'an yang relevan dengan makna hadits ini, antara lain firman Allah:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
> "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 153)
Ayat ini menguatkan perintah dalam hadits untuk meminta pertolongan kepada Allah dan tidak lemah.
Penjelasan Ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/215) menjelaskan bahwa yang dimaksud "kuat" di sini adalah kuat dalam menjalankan ketaatan dan kuat dalam keimanan. Beliau berkata, "Makna hadits ini mendorong seorang mukmin untuk menjadi kuat dalam agama, kuat dalam fisik, dan kuat dalam semangat."
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (1/456) menambahkan bahwa kekuatan yang dimaksud mencakup kekuatan iman, ilmu, fisik, dan harta yang digunakan untuk ketaatan. Beliau juga menekankan bahwa larangan mengucapkan "seandainya" adalah karena kata itu menunjukkan penyesalan yang tidak berguna dan bisa membuka pintu was-was setan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Keutamaan Mukmin yang Kuat: Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (2/345) menjelaskan bahwa kekuatan di sini bukan hanya fisik, tetapi kekuatan iman, keyakinan, ilmu, dan kesabaran. Mukmin yang kuat mampu beribadah dengan optimal, berdakwah, dan berjihad di jalan Allah.
- Kebaikan pada Keduanya: Meskipun mukmin yang kuat lebih utama, orang beriman yang lemah pun tetap memiliki kebaikan karena keimanannya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar (hal. 78) mengatakan bahwa ini menunjukkan rahmat Allah yang luas, di mana setiap orang beriman memiliki nilai kebaikan di sisi-Nya.
- Perintah untuk Bersemangat: Sabda Nabi ﷺ "Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu" menunjukkan bahwa seorang mukmin harus proaktif dan bersemangat dalam meraih kebaikan dunia dan akhirat. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin (2/345) menekankan bahwa semangat ini harus dibarengi dengan niat yang ikhlas karena Allah.
- Meminta Pertolongan Allah: "Dan mintalah pertolongan kepada Allah" mengajarkan bahwa usaha manusia harus selalu disertai dengan tawakal dan doa kepada Allah. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (no. 2664) meriwayatkan bahwa para sahabat selalu menggabungkan antara usaha dan doa.
- Larangan Merasa Lemah: "Janganlah merasa lemah" adalah larangan dari sifat malas, putus asa, dan menyerah. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Seorang mukmin itu kuat dalam agamanya, tidak lemah dalam menghadapi musuh dan tidak lemah dalam beribadah."
- Sikap Saat Musibah: Ketika musibah menimpa, dilarang mengucapkan "Seandainya aku melakukan ini, pasti tidak akan terjadi begitu." Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ucapan "seandainya" adalah bentuk penyesalan yang tidak berguna dan justru membuka pintu bagi setan untuk melemahkan iman dan menimbulkan was-was. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk mengucapkan "Qadarullah wa ma sya'a fa'ala" (Ini takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi).
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa suatu hari seorang sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ dengan kondisi lemah dan malas. Beliau bersabda, "Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, jangan katakan 'Seandainya aku melakukan ini', tetapi katakanlah 'Qadarullah wa ma sya'a fa'ala'." (HR. Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat pun terkadang mengalami kelemahan, dan Nabi ﷺ mengajarkan mereka untuk bangkit dengan semangat dan tawakal.
Kesimpulan Praktis
- Jadilah mukmin yang kuat dalam iman, ilmu, fisik, dan semangat untuk beribadah.
- Bersemangatlah meraih hal-hal yang bermanfaat di dunia dan akhirat.
- Jangan pernah malas atau putus asa; mintalah pertolongan Allah dalam setiap urusan.
- Saat musibah datang, jangan menyesali dengan "seandainya", tetapi terimalah dengan penuh keimanan kepada takdir Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.