Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu kesucian dan kecenderungan untuk mengakui keesaan Allah (tauhid). Orang tualah yang kemudian mempengaruhi anaknya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Hadits ini juga mengajarkan bahwa sentuhan setan saat lahir adalah hal yang umum terjadi pada semua manusia kecuali Maryam dan putranya Isa 'alaihissalam.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Ar-Rum [30]: 30
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
Hadits:
Hadits riwayat Muslim nomor 2659 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Lafazh lengkapnya telah disebutkan dalam pertanyaan.
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadits ini secara panjang lebar. Beliau membahas makna fitrah dan bagaimana orang tua mempengaruhi agama anaknya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari juga membahas hadits ini dengan sangat rinci, terutama tentang makna "setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah" dan hubungannya dengan takdir.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa poin penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Makna Fitrah:
Para ulama berbeda pendapat tentang makna fitrah dalam hadits ini. Imam an-Nawawi rahimahullah menyebutkan beberapa pendapat:
- Pendapat Pertama (mayoritas ulama): Fitrah adalah Islam, yaitu kesucian dan kecenderungan untuk mengakui keesaan Allah. Ini adalah pendapat yang paling kuat dan didukung oleh banyak dalil. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menguatkan pendapat ini dengan mengatakan bahwa fitrah adalah "kesiapan untuk menerima tauhid dan agama yang benar."
- Pendapat Kedua: Fitrah adalah "penciptaan" atau "kejadian asli" manusia yang belum terpengaruh oleh lingkungan. Pendapat ini dikemukakan oleh sebagian ulama seperti Al-Muhasibi.
- Pendapat Ketiga: Fitrah adalah "perjanjian" yang diambil Allah dari anak cucu Adam sebelum mereka dilahirkan (sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-A'raf [7]: 172).
2. Peran Orang Tua:
Sabda Nabi ﷺ "وَأَبَوَاهُ بَعْدُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ" (dan kedua orang tuanyalah yang kemudian menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi) menunjukkan bahwa lingkungan dan pendidikan orang tua sangat berpengaruh terhadap agama anak. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa anak yang lahir dalam keadaan fitrah, jika dibiarkan tanpa pengaruh, akan tetap berada di atas fitrahnya. Namun, orang tualah yang mengubahnya.
3. Pengecualian Maryam dan Isa:
Sabda Nabi ﷺ "إِلاَّ مَرْيَمَ وَابْنَهَا" (kecuali Maryam dan putranya) menunjukkan bahwa Maryam dan Isa 'alaihissalam tidak terkena sentuhan setan saat lahir. Ini adalah keistimewaan khusus yang diberikan Allah kepada mereka. Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa ini adalah mukjizat yang menunjukkan kesucian Maryam dan Isa.
4. Hukum Anak-anak Kafir dan Muslim:
Hadits ini juga menjadi dasar pembahasan tentang hukum anak-anak yang meninggal sebelum baligh. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat:
- Pendapat Pertama (mayoritas ulama): Anak-anak Muslim yang meninggal sebelum baligh masuk surga. Ini berdasarkan hadits-hadits yang shahih.
- Pendapat Kedua: Anak-anak kafir yang meninggal sebelum baligh juga masuk surga. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh sebagian ulama, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayat.
- Pendapat Ketiga: Anak-anak kafir yang meninggal sebelum baligh akan diuji di akhirat. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana binatang ternak melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat ada yang terpotong telinganya?'" (HR. Bukhari dan Muslim).
Kisah ini menunjukkan bahwa fitrah manusia adalah suci dan bersih. Seperti anak binatang yang lahir sempurna tanpa cacat, demikian pula manusia lahir dalam keadaan fitrah. Namun, lingkungan dan pendidikan orang tualah yang kemudian membentuk keyakinan dan perilaku anak.
Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitab Tuhfatul Maudud menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar pentingnya pendidikan anak dalam Islam. Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga fitrah anak-anak mereka dan mengarahkannya kepada Islam.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (suci dan cenderung kepada tauhid). Ini adalah anugerah dari Allah.
- Sadarilah bahwa orang tua memiliki peran besar dalam membentuk keyakinan anak. Oleh karena itu, didiklah anak-anak dengan ajaran Islam yang benar.
- Jangan menyalahkan anak jika mereka tumbuh dalam lingkungan yang salah. Sebaliknya, perbaikilah lingkungan dan pendidikan mereka.
- Berdoalah agar Allah menjaga fitrah anak-anak kita. Sebagaimana doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam: "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat" (QS. Ibrahim [14]: 40).
- Jangan berputus asa dalam mendidik anak. Fitrah yang baik akan selalu ada, meskipun tertutup oleh pengaruh lingkungan yang buruk.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.