Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang hakikat amal yang diterima Allah adalah amal di akhir hayat. Seseorang bisa saja beramal saleh bertahun-tahun, namun jika akhir hidupnya buruk (su'ul khatimah), maka ia akan binasa. Sebaliknya, seseorang yang tampak bermaksiat bisa jadi di akhir hayatnya diberi taufik untuk bertaubat dan beramal saleh, sehingga ia berbahagia. Ini menekankan pentingnya kita tidak berpuas diri dengan amal, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Kita harus senantiasa berdoa agar diberi husnul khatimah (akhir yang baik) dan berlindung dari su'ul khatimah (akhir yang buruk).
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini adalah hadits shahih riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Takdir, Bab Cara Penciptaan Manusia di Dalam Rahim Ibunya dan Penulisan Rizkinya, Umurnya, Amalnya, serta Kebahagiaannya dan Kesengsaraannya, nomor 2651.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
"Dan tidaklah taubat itu diterima dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (perbuatan dosa), hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: 'Sesungguhnya saya bertaubat sekarang', dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka dalam keadaan kafir. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih." (QS. An-Nisa' [4]: 18)
Ayat ini menjelaskan bahwa taubat yang diterima adalah sebelum nyawa sampai di tenggorokan. Ini sejalan dengan hadits di atas, bahwa amal yang menentukan adalah amal di akhir hayat.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Bukhari) membawakan hadits ini dan menjelaskan bahwa maknanya adalah seseorang yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai penduduk neraka, maka ia akan diakhiri dengan amalan penduduk neraka. Sebaliknya, orang yang telah ditetapkan bahagia, ia akan diakhiri dengan amalan penduduk surga. Ini semua adalah rahasia takdir Allah yang tidak bisa diketahui oleh siapapun.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits tentang takdir yang sangat penting. Mari kita pahami bersama poin-poinnya:
- Makna "Khatam" (Penutup): Kata "khatama" artinya menutup atau mengakhiri. Jadi, yang dimaksud adalah amal yang terakhir kali dilakukan seseorang sebelum ia meninggal. Amal inilah yang menjadi penentu akhir dari perjalanan hidupnya.
- Penjelasan Ibnu Hajar: Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa amal seseorang itu tergantung pada akhir hayatnya. Beliau menukil perkataan sebagian ulama bahwa hikmahnya adalah agar manusia tidak merasa aman dari azab Allah dan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Orang yang saleh tidak boleh merasa bangga dan aman, karena bisa saja ia tergelincir di akhir hayatnya. Orang yang bermaksiat tidak boleh berputus asa, karena rahmat Allah bisa datang kepadanya di akhir hayatnya.
- Penjelasan Imam an-Nawawi: Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa amal itu dihitung berdasarkan akhir hayatnya. Beliau juga menukil perkataan para ulama bahwa makna hadits ini adalah untuk memotivasi agar seseorang terus istiqamah dalam ketaatan dan tidak merasa aman dari tipu daya Allah, serta untuk menghibur orang yang sedang berjuang melawan hawa nafsu agar tidak berputus asa dari rahmat Allah.
- Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin: Beliau menjelaskan bahwa hadits ini mengandung peringatan keras bagi orang yang beramal saleh agar tidak merasa ujub (bangga diri) dan tidak merasa aman dari makar Allah. Sebaliknya, hadits ini juga menjadi kabar gembira bagi orang yang banyak berbuat dosa, selama ia belum meninggal, agar ia segera bertaubat dan tidak berputus asa. Karena siapa yang tahu, mungkin saja taubatnya diterima dan ia diakhiri dengan amal saleh.
- Pelajaran tentang Takdir: Hadits ini juga menegaskan bahwa takdir Allah itu tersembunyi. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana akhir hidupnya. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk berdoa memohon husnul khatimah dan berlindung dari su'ul khatimah. Ini adalah bagian dari beriman kepada takdir, baik yang baik maupun yang buruk.
- Bukan Berarti Amal Sia-sia: Penting untuk dipahami, hadits ini tidak berarti amal saleh yang dilakukan bertahun-tahun menjadi sia-sia. Justru, amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai sunnah adalah sebab untuk mendapatkan husnul khatimah. Namun, hadits ini mengajarkan bahwa tidak ada jaminan bagi seseorang hanya karena amalnya yang banyak. Jaminan hanya ada pada rahmat Allah dan keistiqamahan hingga akhir hayat.
Story Telling
Dahulu, ada seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang beribadah selama 70 tahun lamanya. Ia sangat tekun dan zuhud. Namun, di akhir hayatnya, ia melakukan dosa besar yang menyebabkan Allah murka, sehingga ia mati dalam keadaan su'ul khatimah. Kisah ini disebutkan oleh para ulama sebagai gambaran dari hadits ini.
Sebaliknya, ada kisah tentang seorang pembunuh yang telah membunuh 99 orang. Ia kemudian bertanya kepada seorang alim, apakah taubatnya masih diterima. Sang alim menjawab, "Siapa yang bisa menghalangi taubatmu?" Namun, di tengah perjalanan menuju negeri yang dituju untuk bertaubat, ia meninggal dunia. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentangnya. Akhirnya, Allah memerintahkan untuk mengukur jarak antara kedua negeri itu. Ternyata, ia lebih dekat ke negeri tujuan taubatnya, sehingga ia diampuni dan diakhiri dengan husnul khatimah. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri).
Kisah ini menunjukkan bahwa rahmat Allah itu luas. Seseorang yang tampak penuh dosa bisa diakhiri dengan kebaikan karena taubatnya yang tulus. Dan seseorang yang tampak saleh bisa diakhiri dengan keburukan karena ia tidak istiqamah dan merasa aman dari azab Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan Berpuas Diri: Jangan pernah merasa aman dan bangga dengan amal ibadah kita. Teruslah beramal saleh dengan ikhlas dan istiqamah, serta perbanyak doa agar Allah memantapkan hati kita di atas agama-Nya hingga akhir hayat.
- Jangan Berputus Asa: Jika kita pernah berbuat dosa, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Pintu taubat masih terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Segera kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus.
- Perbanyak Doa: Biasakan berdoa memohon husnul khatimah, seperti doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).
- Jaga Istiqamah: Amal yang sedikit namun istiqamah lebih dicintai Allah daripada amal yang banyak namun tidak berkelanjutan. Ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.