Penjelasan Hadits Muslim No. 2650 tentang Takdir dan penciptaan manusia dalam rahim

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa segala perbuatan manusia — termasuk usaha dan amalnya — sudah tercakup dalam takdir Allah yang telah ditetapkan sejak azali. Namun penetapan takdir ini sama sekali tidak berarti Allah berlaku zalim, karena Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, sedangkan manusia akan ditanya tentang pilihannya. Nabi ﷺ menguatkan hal ini dengan firman Allah dalam Surah Asy-Syams ayat 7–8, bahwa Allah mengilhamkan kepada jiwa jalan keburukan dan ketakwaan — artinya manusia tetap memiliki pilihan yang nyata dalam bingkai takdir Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۞ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

(QS. Asy-Syams [91]: 7–8)

Terjemahan: "Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya."

Hadits:

Hadits riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Takdir, dari sahabat 'Imran bin Husain radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Abu al-Aswad ad-Di'ali.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil pokok dalam bab takdir dan hikmah ilahi.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa takdir tidak menghapus tanggung jawab hamba.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Syifa' al-'Alil dan Madarij as-Salikin membahas panjang lebar keseimbangan antara takdir dan tanggung jawab manusia.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan makna "ilham" pada ayat di atas sebagai pemberian kemampuan mengenali baik dan buruk.

Penjelasan Rinci

Konteks pertanyaan 'Imran bin Husain

'Imran bin Husain radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat mulia — bertanya kepada Abu al-Aswad tentang orang-orang yang beramal dan berusaha di dunia: apakah semua itu sudah ditetapkan atas mereka sejak azali, ataukah masih dalam wilayah pilihan yang baru akan datang? Pertanyaan ini adalah pertanyaan mendasar tentang hubungan takdir dengan amal.

Abu al-Aswad menjawab bahwa semuanya sudah ditetapkan. Lalu 'Imran bertanya: "Kalau begitu, apakah itu bukan kezaliman?" — maksudnya, jika manusia dihukum atas sesuatu yang sudah dipaksakan atas mereka, bukankah itu tidak adil?

Reaksi Abu al-Aswad dan jawaban 'Imran

Abu al-Aswad merasa sangat gelisah dengan pertanyaan itu, lalu berkata: "Segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan milik-Nya. Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, sedangkan mereka (manusia) akan ditanya." Ini adalah prinsip pokok: Allah Maha Bijaksana dan Maha Adil, sehingga perbuatan-Nya tidak bisa diukur dengan logika keadilan makhluk. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Anbiya' [21]: 23, Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan.

Kemudian 'Imran menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud menjebak, melainkan ingin menguji akal Abu al-Aswad. Lalu ia menyebutkan hadits Nabi ﷺ:

Hadits inti

Dua orang dari suku Muzainah datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya dengan pertanyaan yang sama: apakah amal manusia sudah ditakdirkan, atau masih dalam wilayah pilihan? Nabi ﷺ menjawab:

> "Tidak, bahkan itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dan telah berlaku pada mereka. Dan pembenaran hal itu ada dalam Kitab Allah: 'Demi jiwa dan Yang menyempurnakannya, maka Dia mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya.'"

Pemahaman ulama

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa takdir mencakup segala sesuatu, termasuk amal manusia. Namun ini tidak berarti manusia dipaksa, karena Allah tetap memberi akal, kehendak, dan kemampuan memilih. Yang ditakdirkan adalah apa yang Allah ketahui akan dipilih hamba, bukan paksaan yang menghapus pilihan.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Syifa' al-'Alil menegaskan bahwa takdir memiliki beberapa tingkatan: ilmu Allah yang azali, penulisan di Lauh Mahfuzh, kehendak Allah yang mengizinkan, dan penciptaan. Namun semua ini tidak menghapus kasb (usaha) hamba. Manusia tetap memiliki kehendak yang nyata, meskipun kehendak itu berada di bawah kehendak Allah.

Syeikh as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "fa alhamaha fujuraha wa taqwaha" menunjukkan bahwa Allah memberi manusia kemampuan mengenali jalan buruk dan jalan baik, serta kebebasan memilih di antara keduanya. Inilah dasar tanggung jawab.

Menjawab syubhat "kezaliman"

'Imran bin Husain menjawab syubhat ini dengan dua prinsip:

  1. Allah tidak ditanya tentang perbuatan-Nya, karena Dia Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, dan Maha Adil. Keterbatasan akal manusia tidak mampu menjangkau seluruh hikmah Allah.
  2. Manusia akan ditanya tentang pilihannya, karena mereka diberi akal, wahyu, dan kemampuan.

Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa Ahlus Sunnah berada di tengah antara Jabriyah (yang mengatakan manusia dipaksa) dan Qadariyah (yang mengatakan manusia menciptakan amalnya sendiri). Ahlus Sunnah mengatakan: manusia benar-benar beramal dan benar-benar memilih, namun semua itu berada dalam ilmu, kehendak, dan penciptaan Allah.

Story Telling

Diceritakan bahwa 'Imran bin Husain radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat yang dikenal zuhud dan wara' — pernah ditanya oleh seseorang tentang takdir. Beliau menjawab dengan tenang dan mengajak kepada sikap tunduk kepada Allah. Dalam riwayat lain, ketika 'Imran sakit dan ditanya tentang takdir, beliau berkata: "Aku tidak suka membicarakan takdir, karena aku takut tergelincir." Ini menunjukkan adab salaf: mereka berbicara tentang takdir hanya sebatas dalil, dan menahan diri dari perdebatan yang bisa menyesatkan.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang takdir, lalu beliau menjawab dengan hadits-hadits shahih dan menegaskan bahwa takdir adalah rahasia Allah. Beliau juga berkata: "Takdir adalah kekuasaan Allah, dan kita tidak boleh memperdebatkannya."

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa para salaf membenci perdebatan tentang takdir, karena dapat menimbulkan kebingungan dan keraguan. Yang dituntut dari hamba adalah beramal dan berdoa, bukan sibuk mempertanyakan rahasia Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa takdir Allah mencakup segala sesuatu, termasuk amal manusia — namun ini tidak menghapus tanggung jawab.
  2. Jangan sibuk memperdebatkan takdir dengan pertanyaan yang melampaui batas akal, karena itu pintu kebingungan.
  3. Beramallah dengan sungguh-sungguh dan berdoalah kepada Allah, karena doa dan amal adalah bagian dari takdir itu sendiri.
  4. Tunduklah kepada hikmah Allah — Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, sedangkan kita akan ditanya tentang pilihan kita.
  5. Jauhi sikap ghuluw dalam membahas takdir, dan ikutilah pemahaman salaf: beriman kepada takdir, beramal, dan menyerahkan rahasia kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?