Penjelasan Hadits Muslim No. 2628 tentang Perumpamaan teman baik dan buruk dalam pergaulan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah perumpamaan yang sangat indah dari Nabi ﷺ tentang pengaruh teman bergaul. Beliau mengibaratkan teman yang shalih seperti penjual minyak wangi (misik) yang memberikan manfaat, baik engkau membeli, diberi, atau setidaknya mencium harumnya. Sedangkan teman yang buruk diibaratkan seperti pandai besi yang meniup api (kir), yang bisa membakar pakaianmu atau setidaknya membuatmu mencium bau yang tidak sedap. Intinya, pergaulan itu sangat memengaruhi seseorang, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Birr wash-Shilah wal-Adab, Bab "Disunnahkannya Bergaul dengan Orang-orang Shalih dan Menjauhi Teman-teman yang Buruk" (no. 2628), dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Terdapat ayat yang senada tentang pentingnya memilih teman yang baik, yaitu firman Allah Ta'ala:

QS. Az-Zukhruf [43]: 67

اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ

"Teman-teman akrab pada hari itu (Kiamat) saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa."

Ayat ini menunjukkan bahwa persahabatan yang tidak didasari ketakwaan akan berubah menjadi permusuhan di akhirat kelak. Ini ditegaskan oleh para ulama, di antaranya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya bahwa persahabatan karena dunia akan berakhir dengan penyesalan, sedangkan persahabatan karena Allah akan kekal di surga.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dengan sangat mendalam. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang anjuran untuk duduk dan bergaul dengan orang-orang shalih, serta larangan bergaul dengan orang-orang yang buruk. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa perumpamaan ini mengandung makna bahwa teman yang shalih itu memberi manfaat, baik dengan mengajarkan ilmu, menasihati, atau setidaknya memberikan ketenangan dan teladan yang baik. Sedangkan teman yang buruk, pengaruhnya bisa merusak, baik dengan mengajak pada kemaksiatan, atau setidaknya membuat hati menjadi keras dan terbiasa dengan hal-hal yang buruk.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa perumpamaan ini sangat tepat. Penjual minyak wangi (misik) itu tidak merugikan orang yang duduk di dekatnya. Bahkan, orang tersebut mendapat salah satu dari tiga keuntungan: diberi hadiah, membeli, atau mencium harumnya. Ini menggambarkan teman shalih yang selalu memberi manfaat. Sebaliknya, pandai besi (nafikhul kir) itu selalu membawa mudarat. Jika percikan apinya tidak mengenai pakaianmu, maka asap dan baunya yang busuk akan mengganggumu. Ini menggambarkan teman buruk yang selalu membawa pengaruh negatif.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa juga menekankan pentingnya memilih lingkungan pergaulan, karena hati manusia itu ibarat bejana yang mudah menyerap apa yang ada di sekitarnya. Beliau mengutip perkataan para salaf bahwa manusia itu mengikuti kebiasaan teman dekatnya. Oleh karena itu, memilih teman adalah bagian dari menjaga agama.

Perbedaan pengaruh ini juga ditegaskan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dengan membuat bab "Bab Teman yang Baik dan Teman yang Buruk" dan meriwayatkan hadits yang semakna dari Abu Musa. Ini menunjukkan bahwa para ulama sangat perhatian dengan masalah ini.

Story Telling

Ada kisah yang sangat masyhur tentang keteguhan seorang salaf dalam menjaga pergaulan. Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah ditanya, "Siapakah teman yang paling baik?" Beliau menjawab, "Teman yang jika engkau lupa, dia mengingatkanmu; jika engkau ingat, dia membantumu." Beliau juga dikenal sangat selektif dalam memilih teman, karena beliau memahami betul bahwa hati itu mudah terpengaruh. Sufyan Ats-Tsauri adalah salah satu ulama besar tabi'ut tabi'in yang sangat menjaga waktunya dan pergaulannya agar tidak tercemar oleh hal-hal yang sia-sia. Hikmah dari kisah ini adalah bahwa menjaga pergaulan adalah bagian dari menjaga hati dan agama kita.

Kesimpulan Praktis

  1. Pilih teman yang shalih karena ia akan membawa kebaikan, baik dengan ilmu, nasihat, atau teladannya.
  2. Jauhi teman yang buruk karena pengaruhnya bisa merusak agama, akhlak, dan waktu kita, meskipun kita merasa tidak ikut berbuat maksiat.
  3. Sadari bahwa pengaruh teman itu pasti ada, baik sedikit maupun banyak. Maka, jangan meremehkan lingkungan pergaulan.
  4. Jadilah teman yang shalih bagi orang lain, agar kita juga memberi manfaat sebagaimana penjual minyak wangi.
  5. Perbanyak doa agar Allah memberikan kita teman-teman yang baik dan menjauhkan kita dari teman yang buruk.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?