Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa ketika marah, bacaan ta'awwudz (A‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm) dapat meredakan kemarahan karena marah berasal dari bisikan setan. Nabi ﷺ memberi solusi praktis berupa kalimat perlindungan kepada Allah, namun sahabat yang marah sempat meragukannya karena menganggapnya seperti gangguan jiwa. Pelajaran pentingnya: marah adalah keadaan yang perlu dikendalikan dengan dzikir dan kesadaran diri.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an
Allah Ta‘ālā berfirman:
وإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
(QS. Al-A‘rāf [7]: 200)
Terjemahan:
"Dan jika setan datang menggodamu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
Ayat ini sangat relevan karena marah termasuk nazgh (godaan) setan yang membuat seseorang kehilangan kendali.
Hadits Riwayat Muslim
Hadits yang dimaksud (Muslim, no. 2610, dari Sulaimān bin Shurad radhiyallāhu ‘anhu) menyebutkan bahwa ketika dua orang saling mencaci di hadapan Nabi ﷺ dan salah satunya tampak marah (urat leher membengkak, mata memerah), Nabi bersabda:
> "إِنِّي لأَعْرِفُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِي يَجِدُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ"
Sahabat itu berkata, "Apakah engkau melihat aku gila?" atau dalam riwayat lain, "Apakah engkau melihatku?" – menunjukkan bahwa ia belum memahami bahwa marah adalah bisikan setan yang bisa diusir dengan dzikir.
Penjelasan Ulama dari Daftar
- Imam an-Nawawi (Syarḥ Muslim, 16/137) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa ta‘awwudz adalah salah satu cara yang paling ampuh untuk meredam marah, karena marah termasuk dari ‘adas (bisikan) setan. Beliau juga menukil perkataan Al-Khattābi (ulama madzhab Syafi‘i, tapi tetap dalam jalur sanad) bahwa setan diusir dengan berlindung kepada Allah, dan marah adalah pintu setan masuk ke dalam hati.
- Ibnu Rajab al-Hanbali (Jāmi‘ al-‘Ulūm wal-Ḥikam, Syarah hadits "Lā Taghdlab") menjelaskan bahwa marah adalah bara api setan yang menyala di dalam hati, dan obatnya adalah mengingat Allah serta berlindung kepada-Nya.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (Madārij as-Sālikīn, 1/205) menyatakan bahwa ketika seseorang marah, setan menguasai dirinya, dan ta‘awwudz adalah perisai yang memutus pengaruh setan.
Penjelasan Rinci
Makna Hadits
Hadits ini menggambarkan kondisi marah yang ekstrem: urat leher membengkak dan mata memerah – tanda bahwa amarah telah menguasai fisik dan emosi. Nabi ﷺ langsung memberikan resep Ilahi: membaca A‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm.
Mengapa ta‘awwudz efektif?
- Marah adalah percikan api dari setan (dalam hadits shahih lainnya: "Sesungguhnya marah itu dari setan").
- Setan akan pergi ketika nama Allah disebut, dan perlindungan kepada Allah memutus pengaruhnya.
- Kalimat ini mengalihkan fokus dari kemarahan kepada Tauhid – mengakui bahwa hanya Allah yang mampu melindungi.
Reaksi Sahabat
Sahabat itu berkata, "Apakah engkau melihatku gila?" – ini menunjukkan bahwa ia belum memahami hakikat marah. Dalam riwayat lain (Muslim), Nabi ﷺ menjawab: "Aku melihat engkau (marah) dan itu juga bagian dari setan." Pelajaran: orang yang marah sering tidak sadar bahwa tindakannya dipengaruhi setan, sehingga butuh nasihat lembut dari orang lain.
Pandangan Ulama Lain dalam Daftar
- Imam Ahmad bin Hanbal (dalam Musnad-nya, no. 3715) meriwayatkan hadits serupa dan menekankan bahwa ta‘awwudz adalah sunnah yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ.
- Sufyan ats-Tsauri (dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm, Ibnu Rajab) berkata, "Marah adalah pintu segala keburukan, dan obatnya adalah menahan diri serta berdzikir."
- Al-Hasan al-Bashri (dalam Ḥilyah al-Auliyā‘, 3/42) biasa menasihati, "Jika engkau marah, ingatlah murka Allah yang lebih besar, dan bacalah isti‘ādzah."
Cara Mengamalkan
- Ucapkan A‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm dengan lisan saat marah, walau keras hati.
- Jika masih marah, ditambah dengan melakukan hal yang dianjurkan dalam hadits lain: duduk jika berdiri, berbaring jika duduk, atau berwudhu.
- Ingatkan diri bahwa marah tidak menyelesaikan masalah, hanya menguntungkan setan.
Story Telling
Kisah Salaf: Sulaimān bin Shurad radhiyallāhu ‘anhu
Perawi hadits ini sendiri pernah diuji. Diriwayatkan dalam Shahīh Muslim bahwa ia melihat dua orang saling mencaci, lalu ia mengingatkan hadits ini kepada yang marah. Ia berkisah: "Aku mendengar langsung dari Nabi ﷺ, lalu aku katakan kepada orang yang marah itu bacalah A‘ūdzu billāh. Awalnya ia menolak, tetapi setelah diingatkan, ia pun membacanya, dan kemarahannya reda." (HR. Muslim, no. 2612 – jalur lain)
Hikmah: Peran seorang muslim dalam mengingatkan sesama saat marah sangat penting. Kelembutan dan dalil yang tepat bisa menyadarkan hati.
Nasihat Ibnu al-Mubarak
Abdullah bin al-Mubarak (w. 181 H) berkata:
_"Marah adalah salah satu pasukan setan. Barangsiapa yang marah, maka setan telah mengendalikannya. Maka carilah perlindungan kepada Allah, karena setan tidak akan tinggal di hati yang penuh dzikir."_ (disebutkan dalam al-Wābil aṣ-Ṣayyib, Ibn Qayyim)
Kesimpulan Praktis
- Sadari bahwa marah berasal dari setan – bukan sekadar emosi biasa.
- Ucapkan ta‘awwudz segera saat merasa marah, baik dalam hati maupun lisan.
- Jika tidak reda, lakukan langkah fisik: duduk, berbaring, atau berwudhu (HR. Abu Dawud, no. 4781 – hasan).
- Ingat akibat buruk marah – menyesali perkataan yang menyakiti, merusak hubungan, dan mendapat dosa.
- Ajarkan hal ini kepada keluarga sebagai bentuk nasihat dan pengendalian diri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.