Penjelasan Hadits Muslim No. 2565 tentang Larangan permusuhan dan perintah berdamai antar sesama muslim

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang dua hal yang sangat penting: pertama, Allah membuka pintu-pintu surga dan mengampuni dosa hamba-hamba-Nya setiap hari Senin dan Kamis, sebagai bentuk rahmat dan karunia-Nya. Kedua, ada satu penghalang besar yang membuat seseorang tidak mendapatkan ampunan tersebut, yaitu permusuhan dan kebencian (syahnā') terhadap saudara sesama muslim. Allah menunda ampunan bagi dua orang yang saling bermusuhan sampai mereka berdamai. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa memutuskan tali silaturahmi dan betapa mulianya sikap saling memaafkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, Bab Tahrim at-Tahajur (Larangan Saling Membenci dan Memutuskan Hubungan), no. 2565, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."

(QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan hari Senin dan Kamis, serta menunjukkan bahwa permusuhan antar sesama muslim menjadi penghalang ampunan. Beliau menukil bahwa lafaz "syahnā'" berarti kebencian dan permusuhan yang mendalam.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari saat membahas hadits serupa dari riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi, menjelaskan bahwa ampunan pada hari Senin dan Kamis ini adalah untuk dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat. Namun, permusuhan dengan sesama muslim adalah perkara yang berkaitan dengan hak sesama hamba, sehingga tidak diampuni sampai yang bersangkutan meminta maaf dan dimaafkan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Keutamaan Hari Senin dan Kamis

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan hari Senin dan Kamis adalah hari-hari yang istimewa di sisi Allah. Pada dua hari inilah amalan-amalan hamba diangkat dan diperlihatkan kepada Allah, dan pintu-pintu surga dibuka sebagai tanda rahmat-Nya yang luas. Ini juga menjadi salah satu hikmah mengapa Rasulullah ﷺ menganjurkan puasa sunnah pada dua hari tersebut.

2. Syarat Mendapat Ampunan: Tidak Berbuat Syirik

Dalam riwayat lain disebutkan "kullu 'abdin la yusyriku billahi syai'an" (setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun). Ini menegaskan bahwa ampunan ini diberikan kepada kaum muslimin yang bertauhid. Namun, syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa meskipun seseorang bertauhid, jika ia memiliki dosa permusuhan dengan saudaranya, maka ampunan itu tertunda.

3. Dosa Permusuhan Menghalangi Ampunan

Ini adalah pelajaran terbesar dari hadits ini. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitab Bahjatu Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa permusuhan dan kebencian antar sesama muslim adalah dosa besar yang berkaitan dengan hak sesama hamba (huquq al-'ibad). Dosa semacam ini tidak akan diampuni oleh Allah sampai orang yang dizalimi memaafkan. Karena itu, meskipun pintu ampunan terbuka luas, orang yang hatinya dipenuhi kebencian tidak akan mendapatkannya.

4. Perintah untuk Segera Berdamai

Ucapan malaikat "Anzhiru hadzaini hatta yashthaliha" (tangguhkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai) yang diulang tiga kali menunjukkan betapa Allah sangat memperhatikan urusan perdamaian ini. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa memutuskan hubungan dengan sesama muslim adalah perkara yang sangat dibenci Allah, dan perdamaian adalah jalan yang dicintai-Nya.

5. Perbedaan Lafaz: Syahnā' vs Tahājur

Dalam riwayat lain disebutkan "illa al-mutahājirayn" (kecuali dua orang yang saling memutuskan hubungan). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa tahājur (memutuskan hubungan) dan syahnā' (kebencian) saling berkaitan. Keduanya menunjukkan keadaan hati yang tidak bersih terhadap saudaranya, yang menjadi penghalang ampunan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas rahimahullah — yang juga menjadi perawi dalam sanad hadits ini — sangat memperhatikan adab dan akhlak. Beliau pernah berkata: "Tidaklah seseorang menuntut ilmu dan beramal dengannya, lalu aku melihat bekasnya pada akhlaknya, keluarganya, dan tetangganya, kecuali ilmu itu bermanfaat baginya di akhirat." Ini menunjukkan bahwa ilmu yang benar harus melahirkan akhlak yang mulia, termasuk menjauhi permusuhan.

Ada juga kisah tentang Al-Hasan al-Bashri rahimahullah yang sangat menjaga hubungan baik dengan sesama. Beliau berkata: "Bersilaturahmi dengan saudaramu adalah dengan tidak memutuskan hubungan meskipun ia memutuskan hubungan denganmu." Ini adalah akhlak para salaf yang mulia — mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi justru memulai kebaikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga hubungan baik dengan sesama muslim. Jangan biarkan kebencian atau permusuhan mengendap dalam hati lebih dari tiga hari, karena hal ini menghalangi ampunan Allah.
  2. Segera berdamai jika terjadi perselisihan. Jangan menunda-nunda, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.
  3. Biasakan memaafkan kesalahan orang lain, sebagaimana kita ingin Allah memaafkan dosa-dosa kita.
  4. Manfaatkan hari Senin dan Kamis untuk memperbanyak amal shalih, puasa sunnah, dan introspeksi diri.
  5. Jaga kemurnian tauhid dengan menjauhi segala bentuk kesyirikan, karena itu adalah syarat utama diterimanya amal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?