Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah pedoman utama dalam menjaga persaudaraan sesama Muslim. Rasulullah ﷺ melarang berbagai penyakit hati seperti dengki, benci, dan saling menjauh, serta melarang tindakan zalim, merendahkan, dan menghina saudara Muslim. Inti dari hadits ini adalah bahwa ketakwaan sejati berada di dalam hati, dan seorang Muslim sejati adalah yang menjaga darah, harta, dan kehormatan saudaranya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, Bab Tahrim Zhulmi al-Muslim wa Khadzlihi wa Ihtiqarihi, no. 2564, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Ayat Al-Qur’an yang relevan dengan larangan merendahkan sesama Muslim adalah firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
(QS. Al-Hujurat [49]: 11)
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarh Shahih Muslim (16/113) menjelaskan bahwa hadits ini mengandung larangan terhadap berbagai perbuatan yang merusak persaudaraan Islam. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa larangan-larangan ini bersifat haram, kecuali dalam kondisi darurat syar’i.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung sepuluh larangan dan tiga perintah yang sangat penting. Mari kita rinci satu per satu berdasarkan pemahaman para ulama dari daftar rujukan:
1. Larangan Saling Dengki (al-Hasad)
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Hasad adalah penyakit pertama yang muncul di langit, yaitu hasadnya Iblis terhadap Adam.” Hasad adalah mengharapkan hilangnya nikmat dari saudara Muslim. Ini adalah dosa besar karena menentang takdir Allah.
2. Larangan Saling Menawar Palsu (an-Najasy)
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa an-Najasy adalah seseorang menawar barang dengan harga tinggi padahal tidak berniat membeli, hanya untuk menipu pembeli lain. Ini adalah bentuk penipuan yang diharamkan.
3. Larangan Saling Membenci (al-Bughdh)
Rasulullah ﷺ melarang kita saling membenci tanpa alasan syar’i. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Boleh membenci karena maksiat, tetapi tidak boleh membenci karena urusan dunia.”
4. Larangan Saling Berpaling (at-Tadabur)
Yaitu saling menjauh dan memutuskan hubungan. Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (10/481) menjelaskan bahwa ini termasuk dosa besar jika lebih dari tiga hari tanpa alasan syar’i.
5. Larangan Menjual di Atas Jualan Orang Lain
Yaitu menawarkan barang yang sedang dalam proses transaksi orang lain. Ini bentuk egoisme yang merusak persaudaraan.
6. Perintah Menjadi Hamba Allah yang Bersaudara
Artinya, persaudaraan karena iman lebih kuat dari ikatan darah. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (7/366) menegaskan bahwa ini adalah nikmat terbesar yang Allah berikan kepada umat Islam.
7. Larangan Menzalimi
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Kezaliman adalah keharaman yang paling besar setelah syirik.” Menzalimi saudara Muslim berarti melanggar haknya.
8. Larangan Merendahkan (al-Khidzlan)
Yaitu tidak menolong ketika saudara membutuhkan bantuan. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Madarij as-Salikin (2/323) menyebut ini sebagai tanda lemahnya iman.
9. Larangan Menghina (al-Ihtiqar)
Ini adalah puncak dari hadits. Rasulullah ﷺ bersabda, “Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika ia menghina saudaranya sesama Muslim.” Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa menghina termasuk dosa besar karena meremehkan ciptaan Allah.
10. Ketakwaan di Hati
Rasulullah ﷺ menunjuk dadanya tiga kali, menegaskan bahwa hakikat takwa bukan pada penampilan lahir, tetapi pada hati yang bersih dari kesombongan dan kebencian.
11. Darah, Harta, dan Kehormatan Muslim adalah Haram
Imam an-Nawawi berkata, “Ini adalah kaidah besar dalam Islam. Seorang Muslim tidak boleh menumpahkan darah saudaranya, mengambil hartanya tanpa hak, atau merusak kehormatannya dengan ghibah, fitnah, atau celaan.”
Story Telling
Diriwayatkan dari Fudail bin ‘Iyadh rahimahullah, seorang ulama besar tabi’ut tabi’in, beliau berkata: “Jika engkau melihat seseorang lebih rendah darimu dalam urusan dunia, maka hormatilah dia, karena mungkin dia lebih mulia di sisi Allah daripada dirimu.”
Beliau juga berkata: “Merendahkan orang lain adalah tanda bahwa hatimu sakit. Orang yang benar-benar bertakwa tidak akan pernah merasa lebih baik dari orang lain, karena ia takut pada hisab Allah.”
Kisah ini mengingatkan kita bahwa menghina saudara Muslim adalah cermin dari kesombongan hati, padahal kesombongan adalah penghalang masuk surga.
Kesimpulan Praktis
- Jaga hati dari hasad, benci, dan dengki – karena ini merusak amal.
- Jangan pernah merendahkan atau menghina – karena ini dosa besar yang diremehkan banyak orang.
- Jadilah saudara sejati – dengan saling menolong, menjaga kehormatan, dan tidak menzalimi.
- Ingatlah bahwa takwa ada di hati – bukan pada penampilan atau status sosial.
- Jaga tiga perkara – darah, harta, dan kehormatan saudara Muslim.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.