Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah pedoman agung dari Nabi ﷺ untuk menjaga hati dan hubungan antar sesama Muslim. Intinya, kita dilarang berprasangka buruk tanpa bukti, mencari-cari keburukan orang lain, saling membenci, dan saling menjauhi. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk menjadi hamba Allah yang bersaudara, saling mencintai, dan menjaga persatuan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Lafadz hadits yang Anda sertakan sudah benar dan lengkap.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
(QS. Al-Hujurat [49]: 12)
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang."
Kaitan dengan ulama: Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim (16/115) menjelaskan hadits ini secara panjang lebar. Beliau membawakan hadits ini sebagai dalil tentang larangan berprasangka buruk, mencari-cari aib, dan hasad. Beliau juga menukil perkataan para ulama tentang makna tahassus dan tajassus.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat komprehensif dalam menjaga kemurnian hati dan keharmonisan sosial. Mari kita bedah satu per satu larangan dan perintahnya:
- "Iyyakum wadh-dhann" (Hindarilah prasangka). Yang dimaksud di sini adalah prasangka buruk (su'uzh-zhann) kepada sesama Muslim yang tidak disertai bukti. Imam An-Nawawi berkata, "Adapun prasangka yang dilarang adalah prasangka buruk yang diharamkan, yaitu menyangka buruk kepada orang-orang yang lahirnya baik, tanpa ada indikasi yang jelas. Adapun jika ada indikasi kuat, maka tidak mengapa." Beliau juga menukil perkataan para ulama bahwa prasangka buruk hukumnya haram jika tidak ada bukti, karena itu adalah dosa.
- Rasulullah ﷺ menyebut prasangka sebagai "akdzabul-hadits" (sebohong-bohongnya pembicaraan). Ini karena prasangka adalah dugaan yang tidak berdasarkan fakta. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa prasangka buruk adalah sumber dari banyak kerusakan, karena ia akan melahirkan sikap was-was, mencari-cari kesalahan, dan akhirnya permusuhan.
- "Wa la tahassasu wa la tajassasu" (Janganlah saling mencari-cari berita dan janganlah saling mengintip). Ada dua istilah yang digunakan. Para ulama berbeda pendapat tentang makna keduanya. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa tajassus adalah mencari-cari rahasia orang lain, sedangkan tahassus adalah mendengarkan-dengarkan pembicaraan orang lain. Ada juga yang mengatakan tahassus adalah mencari-cari kebaikan orang, dan tajassus mencari-cari keburukan orang. Namun, yang terlarang adalah mencari-cari aib dan keburukan orang lain. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan untuk menjaga privasi dan kehormatan setiap Muslim.
- "Wa la tanafasu" (Janganlah saling iri/berlomba dalam urusan dunia). Yang dimaksud di sini adalah hasad, yaitu berharap nikmat yang ada pada orang lain hilang dan berpindah kepadanya. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hasad adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, dan ia adalah salah satu dosa pertama yang dilakukan oleh Iblis kepada Adam.
- "Wa la tahasadu" (Janganlah saling hasad). Ini adalah penegasan dari poin sebelumnya. Hasad adalah keinginan agar nikmat orang lain hilang. Ini adalah akhlak yang sangat tercela.
- "Wa la tabaghadu" (Janganlah saling membenci). Kebencian adalah buah dari prasangka buruk dan hasad. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa kebencian akan menghancurkan amal dan memecah belah persatuan.
- "Wa la tadabaru" (Janganlah saling membelakangi/menjauh). Ini adalah larangan untuk saling memutuskan hubungan, berpaling, dan tidak saling sapa. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa tadabur adalah sikap seseorang yang memalingkan wajahnya dari saudaranya karena marah atau benci, dan ini adalah bentuk dari memutuskan silaturahmi.
- "Wa kunu 'ibadallah ikhwanan" (Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara). Ini adalah perintah untuk menjalin persaudaraan yang tulus karena Allah. Imam An-Nawawi berkata, "Maknanya, jadilah kalian dalam kasih sayang, saling menasihati, dan saling menyayangi seperti layaknya saudara kandung."
Hadits ini mengajarkan bahwa Islam sangat memperhatikan kebersihan hati dan keharmonisan sosial. Semua larangan di atas adalah penyakit hati yang akan menghancurkan pahala dan merusak ukhuwah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Istiqamah menekankan bahwa menjaga hati dari penyakit-penyakit ini adalah bagian dari keimanan dan ketaqwaan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ menceritakan tentang seorang laki-laki yang akan masuk surga, Abdullah bin Amr bin Al-Ash ingin mengetahui amalan apa yang membuatnya istimewa. Maka ia pun mengikutinya dan bermalam di rumahnya selama tiga malam. Ia tidak melihat laki-laki itu melakukan amalan yang luar biasa banyaknya, selain amalan-amalan yang biasa. Ketika ia memberitahukan hal itu, laki-laki itu berkata, "Tidak ada yang lebih aku lakukan selain apa yang engkau lihat, hanya saja aku tidak pernah menyimpan rasa curiga (dengki) terhadap seorang Muslim pun, dan aku tidak pernah iri terhadap kebaikan yang Allah berikan kepada seseorang." Abdullah bin Amr pun berkata, "Itulah yang membuatmu mencapai derajat itu, dan itulah yang tidak mampu kami lakukan." (HR. Ahmad, dan dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).
Hikmah: Kisah ini menunjukkan bahwa kebersihan hati dari iri, dengki, dan prasangka buruk adalah amalan yang sangat agung di sisi Allah, bahkan bisa menjadi sebab seseorang masuk surga.
Kesimpulan Praktis
- Jaga prasangka: Jangan mudah berprasangka buruk kepada sesama Muslim. Jika ada masalah, selesaikan dengan klarifikasi yang baik, bukan dengan dugaan.
- Jaga privasi: Jangan mencari-cari aib atau keburukan orang lain, baik dengan mengintip, mendengarkan pembicaraan rahasia, atau menyelidiki kehidupannya.
- Bersihkan hati: Jauhkan diri dari hasad (iri/dengki) dan kebencian. Berdoalah agar Allah membersihkan hati kita dari penyakit-penyakit ini.
- Jaga silaturahmi: Jangan memutuskan hubungan dengan sesama Muslim. Jika ada perselisihan, segeralah berdamai dan jangan sampai berlarut-larut dalam permusuhan.
- Perkuat ukhuwah: Jadikan persaudaraan karena Allah sebagai landasan dalam berinteraksi. Saling tolong-menolong, saling menasihati, dan saling mendoakan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.