Penjelasan Hadits Muslim No. 2545 tentang Peringatan tentang pendusta dan pembunuh dari Thaqif

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengisahkan tentang kesaksian sahabat mulia, Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab, terhadap kemuliaan Abdullah bin Zubair, serta keberanian dan keteguhan iman Asma' binti Abu Bakar di hadapan penguasa zalim, Al-Hajjaj bin Yusuf. Hadits ini juga mengabarkan tentang mukjizat Nabi ﷺ bahwa di kalangan Bani Tsaqif akan lahir seorang pendusta besar (yaitu Al-Mukhtar bin Abi Ubaid) dan seorang pembunuh besar (yaitu Al-Hajjaj bin Yusuf). Pelajaran utamanya adalah tentang keutamaan ilmu, kejujuran dalam persaksian, keberanian berkata benar di hadapan penguasa zalim, serta kemuliaan wanita-wanita shahabiyah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab "Menyebutkan Pendusta Tsaqif dan Pembunuhnya", no. 2545, dari sahabat Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha.

Dalil lain yang menguatkan kisah ini adalah firman Allah Ta'ala:

QS. Al-Mujadilah [58]: 22

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak, anak, saudara, atau keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah tanamkan keimanan dalam hatinya dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya. Dan Dia memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung."

Ayat ini menjelaskan bahwa keimanan sejati akan memisahkan seseorang dari kebatilan, meskipun itu datang dari orang terdekat sekalipun—sebagaimana Asma' yang tegas memisahkan diri dari kebatilan Al-Hajjaj.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dari beberapa sisi:

1. Tentang Mukjizat Nabi ﷺ

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu bukti kenabian Muhammad ﷺ, karena beliau mengabarkan hal ghaib yang belum terjadi, lalu terbukti tepat. Beliau bersabda bahwa di Tsaqif akan ada kadzdzab (pendusta besar) dan mubir (pembunuh besar). Yang dimaksud kadzdzab adalah Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi yang mengaku sebagai nabi dan menyesatkan banyak orang. Adapun mubir adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi yang terkenal kejam dan banyak membunuh manusia secara zalim.

2. Tentang Keutamaan Abdullah bin Zubair

Abdullah bin Umar memberikan persaksian jujur tentang Abdullah bin Zubair meskipun saat itu Abdullah bin Zubair sedang dihukum gantung oleh Al-Hajjaj. Beliau memanggilnya dengan kunyah Abu Khubaib sebagai bentuk penghormatan, lalu bersaksi: "Demi Allah, sejauh yang aku tahu, kamu adalah orang yang rajin puasa, rajin shalat, dan sangat memperhatikan silaturahmi." Ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus berkata jujur tentang kebaikan seseorang, meskipun orang tersebut sedang dalam keadaan terzalimi dan dianggap buruk oleh penguasa zalim.

3. Tentang Keberanian Asma' binti Abu Bakar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam syarahnya menyebutkan bahwa kisah Asma' ini adalah teladan terbaik bagi kaum muslimin, khususnya wanita, dalam hal keberanian berkata benar di hadapan penguasa zalim. Asma' tidak gentar meskipun diancam akan diseret paksa. Beliau menjawab dengan tegas: "Demi Allah, aku tidak akan datang kepadamu sampai kamu mengirim seseorang yang akan menarik rambutku." Ini adalah bentuk amar ma'ruf nahi munkar yang paling tinggi derajatnya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ bahwa jihad yang paling utama adalah kalimat haq di hadapan penguasa zalim (HR. Abu Dawud, dari Abu Sa'id Al-Khudri).

4. Tentang Keutamaan Asma' dan Gelar "Dzatun Nithaqain"

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Asma' dijuluki Dzatun Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang) karena kisahnya saat membantu Nabi ﷺ dan Abu Bakar ketika hijrah ke Madinah. Beliau merobek ikat pinggangnya menjadi dua untuk mengikat bekal makanan. Maka Nabi ﷺ mendoakannya agar diganti dengan dua ikat pinggang di surga. Dalam hadits ini, Asma' dengan cerdas membantah ejekan Al-Hajjaj yang memanggil putranya dengan sebutan "anak dari pemilik dua ikat pinggang" sebagai bentuk penghinaan. Asma' justru menjelaskan kemuliaan di balik julukan itu.

5. Tentang Kebijaksanaan Asma' dalam Menjawab Al-Hajjaj

Ketika Al-Hajjaj bertanya, "Bagaimana menurutmu tentang apa yang telah aku lakukan kepada musuh Allah?" Asma' menjawab dengan jawaban yang sangat tajam dan bijaksana: "Aku melihat engkau telah merusak dunia dia (dengan membunuhnya), tetapi dia telah merusak akhiratmu (dengan kezalimanmu)." Ini adalah jawaban yang menunjukkan kefasihan dan kedalaman iman seorang wanita shahabiyah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika Abdullah bin Zubair terbunuh dan mayatnya disalib oleh Al-Hajjaj, ibunya—Asma' binti Abu Bakar—yang saat itu sudah sangat tua dan buta, tetap tegar. Al-Hajjaj datang menemuinya dengan sombong. Namun Asma' tidak gentar sedikit pun. Beliau justru menegur Al-Hajjaj dengan kata-kata yang menusuk hati.

Setelah Asma' menyampaikan hadits Nabi ﷺ tentang pendusta dan pembunuh dari Tsaqif, dan menegaskan bahwa Al-Hajjaj-lah sang pembunuh itu, Al-Hajjaj pun berdiri dan pergi tanpa mampu membalas. Ia malu dan tidak bisa berkata-kata lagi di hadapan wanita tua yang penuh keimanan itu.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa setelah kejadian itu, Al-Hajjaj tidak pernah lagi mengganggu Asma'. Bahkan ketika Asma' wafat tidak lama setelah itu, Al-Hajjaj ikut menshalatkannya sebagai bentuk penghormatan, meskipun ia adalah orang yang telah membunuh putranya.

Hikmah dari kisah ini: keimanan yang kokoh akan melahirkan keberanian yang luar biasa. Asma' tidak takut kepada makhluk karena ia sangat takut kepada Allah. Ia lebih memilih kehinaan di dunia daripada kehinaan di akhirat.

Kesimpulan Praktis

Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:

  1. Jujur dalam bersaksi — Sebagaimana Abdullah bin Umar yang tetap memuji kebaikan Abdullah bin Zubair meskipun ia sedang disalib oleh penguasa zalim. Jangan takut berkata benar karena tekanan penguasa atau orang kuat.
  2. Berani menegakkan kebenaran — Sebagaimana Asma' yang berani menegur Al-Hajjaj dengan tegas. Kita harus berani berkata benar di hadapan penguasa zalim sesuai kemampuan kita.
  3. Menjaga silaturahmi dan ibadah — Abdullah bin Zubair dipuji karena rajin puasa, shalat, dan silaturahmi. Ini adalah amalan-amalan yang harus kita jaga.
  4. Meneladani keteguhan wanita shahabiyah — Asma' menunjukkan bahwa wanita muslimah bisa memiliki peran besar dalam membela kebenaran dan memiliki keberanian yang luar biasa.
  5. Meyakini kebenaran hadits Nabi ﷺ — Kabar ghaib yang disampaikan Nabi ﷺ tentang Tsaqif terbukti nyata. Ini menguatkan keimanan kita bahwa beliau adalah benar-benar utusan Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?