Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi pembelaan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu terhadap tuduhan bahwa ia terlalu banyak meriwayatkan hadits. Ia menjelaskan bahwa sebab utamanya adalah doa Nabi ﷺ berupa jaminan hafalan bagi siapa yang membentangkan kainnya, dan Abu Hurairah melakukannya. Karena itu, ia menjadi sahabat yang paling banyak menghafal hadits, dan itu adalah keutamaan dari Allah, bukan celaan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Keutamaan Abu Hurairah Ad-Dausi, nomor 2492. Perawi: Al-A'raj (Abdurrahman bin Hurmuz) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Jalur periwayatan melalui Sufyan bin 'Uyainah dari Az-Zuhri dari Al-A'raj.
Adapun ayat yang relevan tentang keutamaan menjaga ilmu dan menyampaikannya:
وَاللَّهُ الْمَوْعِدُ
Teks lengkap dalam hadits ini adalah ucapan Abu Hurairah: "وَاللَّهُ الْمَوْعِدُ" — "Dan Allah adalah tempat kembali (Yang Maha Menghitung)."
Firman Allah yang berkaitan dengan tanggung jawab menyampaikan ilmu:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
(QS. Al-Baqarah [2]: 159)
Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh orang-orang yang melaknat."
Ayat ini menunjukkan bahwa menyampaikan ilmu adalah kewajiban, dan Abu Hurairah justru menyampaikan ilmu yang ia hafal, bukan menyembunyikannya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan beberapa hal penting:
Pertama, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menyadari bahwa sebagian orang menganggapnya terlalu banyak meriwayatkan hadits. Ia tidak marah, tetapi menjelaskan dengan tenang dan jujur. Ia berkata: "Kalian mengira bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits... dan Allah adalah tempat kembali." Artinya, ia menyerahkan penilaian kepada Allah, bukan membela diri dengan emosi.
Kedua, ia menjelaskan sebab banyaknya hadits yang ia hafal. Ia adalah orang miskin yang selalu menyertai Nabi ﷺ, melayani beliau dengan cukup untuk mengisi perutnya. Sementara para Muhajirin sibuk berdagang di pasar, dan para Ansar sibuk mengurus harta dan kebun mereka. Abu Hurairah tidak punya kesibukan itu, sehingga ia selalu hadir dalam majelis Nabi ﷺ.
Ketiga, Nabi ﷺ bersabda: "Siapa yang membentangkan kainnya, ia tidak akan melupakan apa pun yang ia dengar dariku." Ini adalah doa dan jaminan dari Nabi ﷺ. Abu Hurairah segera melaksanakan perintah itu: ia membentangkan kainnya, menunggu Nabi ﷺ menyelesaikan sabdanya, lalu memeluk kain itu ke dadanya. Sejak saat itu, ia tidak pernah lupa apa pun yang ia dengar dari Nabi ﷺ.
Keempat, Imam Muslim menempatkan hadits ini dalam bab keutamaan Abu Hurairah, menunjukkan bahwa banyaknya riwayat Abu Hurairah bukanlah celaan, melainkan bukti keutamaan dan karunia Allah kepadanya.
Kelima, Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) — salah satu perawi dalam sanad ini — adalah ulama besar Tabi'in yang dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Ia meriwayatkan hadits ini dari Al-A'raj, yang mendengarnya langsung dari Abu Hurairah. Sanad ini sangat kuat dan menunjukkan keotentikan hadits.
Keenam, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits karena tiga sebab: (1) selalu menyertai Nabi ﷺ, (2) doa Nabi ﷺ untuk hafalannya, dan (3) umur yang panjang serta kesempatan menyampaikan hadits kepada banyak murid. Ini bukanlah celaan, tetapi keutamaan.
Ketujuh, Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Hurairah dan bukti kebenaran riwayatnya. Banyaknya hadits yang ia riwayatkan bukan karena ia mengarang, tetapi karena Allah memberi karunia hafalan yang kuat melalui doa Nabi ﷺ.
Kedelapan, Ibn Katsir dalam kitabnya menyebutkan bahwa Abu Hurairah adalah sahabat yang paling hafal hadits dan paling banyak meriwayatkannya, dan hal ini diakui oleh para ulama. Tidak ada seorang pun yang menuduhnya berdusta setelah penjelasan ini.
Story Telling
Dikisahkan bahwa suatu ketika Marwan bin al-Hakam — gubernur Madinah saat itu — ingin menguji hafalan Abu Hurairah. Ia memanggil Abu Hurairah dan memintanya menyampaikan hadits. Marwan menyuruh seorang juru tulis untuk menulis di balik pintu, sementara Abu Hurairah tidak mengetahuinya. Setelah beberapa waktu, Marwan memanggil Abu Hurairah lagi dan memintanya menyampaikan hadits yang sama. Abu Hurairah menyampaikannya dengan redaksi yang persis sama, tidak ada yang berubah sedikit pun. Marwan pun mengakui kehebatan hafalan Abu Hurairah dan membenarkan riwayatnya. Kisah ini disebutkan dalam riwayat yang shahih dan menunjukkan kebenaran janji Nabi ﷺ kepada Abu Hurairah.
Hikmahnya: barangsiapa yang Allah beri karunia hafalan dan kesempatan menuntut ilmu, hendaklah ia menyampaikannya dengan jujur dan amanah, tidak menambah dan tidak mengurangi.
Kesimpulan Praktis
- Banyaknya riwayat Abu Hurairah adalah keutamaan dari Allah melalui doa Nabi ﷺ, bukan celaan.
- Menyampaikan ilmu adalah kewajiban, dan menyembunyikannya adalah dosa.
- Kesungguhan dalam menuntut ilmu dan mendekat kepada ulama akan mendatangkan keberkahan hafalan dan pemahaman.
- Hendaklah kita beradab ketika berbeda pendapat atau menilai seseorang, seperti adab Abu Hurairah yang menyerahkan urusan kepada Allah.
- Doa Nabi ﷺ adalah mustajab, dan karunia Allah kepada hamba-Nya tidak terbatas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.