Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan perjalanan panjang Abu Dzarr al-Ghifari radhiyallahu 'anhu dalam mencari kebenaran, sejak sebelum mengenal Islam hingga akhirnya bertemu Rasulullah ﷺ dan masuk Islam. Hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Dzarr, kejujuran pencariannya akan kebenaran, dan bagaimana Allah membimbing hamba-Nya yang ikhlas. Di dalamnya juga terdapat pelajaran tentang adab, kesabaran, dan bukti-bukti kenabian Muhammad ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
"Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-'Ankabut [29]: 69)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Keutamaan Abu Dzarr, nomor 2473. Perawi dari kalangan sahabat adalah Abu Dzarr al-Ghifari radhiyallahu 'anhu, dan yang meriwayatkan darinya adalah Abdullah bin ash-Shamit.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung banyak faedah, di antaranya keutamaan Abu Dzarr, kebolehan menyebutkan kisah pribadi untuk pelajaran, dan bukti-bukti kenabian.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas riwayat serupa) menegaskan bahwa Abu Dzarr telah bertauhid sebelum bertemu Nabi ﷺ, sebagaimana Salman al-Farisi dan Zaid bin Amr bin Nufail.
- Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan kisah keislaman Abu Dzarr sebagai salah satu kisah awal dakwah Islam di luar Mekah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah kisah panjang yang diriwayatkan oleh Abu Dzarr al-Ghifari radhiyallahu 'anhu sendiri kepada Abdullah bin ash-Shamit. Mari kita bahas poin-poin utamanya:
1. Keadaan suku Ghifar sebelum Islam
Abu Dzarr menyebut bahwa kaumnya, Ghifar, adalah kaum yang "menghalalkan bulan haram" — yakni mereka tidak memuliakan bulan-bulan suci (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab) sebagaimana bangsa Arab umumnya. Ini menunjukkan kondisi jahiliyah mereka.
2. Ujian dan hijrah dari kaum
Abu Dzarr dan saudaranya Unais serta ibunya tinggal di rumah paman mereka yang memuliakan mereka. Namun kaum paman mereka hasad (cemburu) dan menyebarkan tuduhan dusta bahwa Unais berbuat buruk terhadap keluarga paman. Paman mereka mempercayai tuduhan itu. Abu Dzarr dengan tegas berkata: "Kamu telah mengeruhkan kebaikanmu yang lalu, dan tidak ada lagi hubungan antara kami setelah ini." Ini menunjukkan kehormatan diri dan ketegasan dalam menjaga kehormatan keluarga.
3. Perjalanan ke Mekah dan peristiwa dengan dukun
Sampai di dekat Mekah, Unais mengadu nasib dengan seorang dukun (kahin) mengenai unta mereka, dan menang. Ini terjadi sebelum mereka masuk Islam.
4. Abu Dzarr telah bertauhid sebelum bertemu Nabi ﷺ
Ini poin yang sangat penting. Abu Dzarr berkata: "Wahai anak saudaraku, aku telah shalat tiga tahun sebelum bertemu Rasulullah ﷺ." Ketika ditanya untuk siapa ia shalat, ia menjawab: "Untuk Allah." Ketika ditanya ke arah mana, ia menjawab: "Aku menghadap ke arah yang Allah perintahkan kepadaku."
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Abu Dzarr termasuk orang yang telah mengenal tauhid melalui akalnya sebelum datangnya risalah, seperti Zaid bin Amr bin Nufail dan Salman al-Farisi. Ini menunjukkan bahwa fitrah manusia bisa membimbing kepada tauhid.
5. Unais menemukan Nabi ﷺ di Mekah
Unais pergi ke Mekah dan bertemu seseorang yang mengaku nabi. Orang-orang menyebutnya penyair, dukun, atau penyihir. Namun Unais, yang juga seorang penyair, berkata: "Aku telah mendengar ucapan dukun, dan ucapannya tidak seperti ucapan mereka. Aku juga membandingkan ucapannya dengan syair, dan tidak mungkin itu syair. Demi Allah, dia benar dan mereka dusta."
Ini adalah bukti kemukjizatan Al-Qur'an — tidak bisa ditandingi oleh syair, tidak seperti ucapan dukun.
6. Abu Dzarr datang ke Mekah dan diserang
Abu Dzarr datang ke Mekah, bertanya tentang "ash-Shabi" (orang yang meninggalkan agama nenek moyang), lalu ditunjuk. Orang-orang lembah menyerangnya dengan tanah dan tulang hingga ia pingsan. Ia bangkit seperti "patung merah" (penuh darah). Ia pergi ke Zamzam, mencuci darah, dan minum airnya.
7. Tinggal 30 hari hanya dengan air Zamzam
Abu Dzarr tinggal 30 malam hanya dengan air Zamzam, dan ia menjadi gemuk hingga lipatan perutnya terlihat, tanpa rasa lapar. Ini adalah bukti kenabian — Nabi ﷺ kemudian bersabda: "Sesungguhnya ia (Zamzam) adalah berkah, ia adalah makanan yang mengenyangkan."
8. Peristiwa dengan dua wanita dan berhala
Dua wanita berthawaf sambil memanggil berhala Isaf dan Nailah. Abu Dzarr menegur mereka dengan kata-kata keras. Mereka mengadu kepada Nabi ﷺ dan Abu Bakar. Nabi ﷺ bertanya apa yang dikatakan Abu Dzarr, mereka menjawab: "Ia mengatakan kata-kata yang memenuhi mulut." (yakni kata-kata kotor yang tidak bisa diulang).
9. Abu Dzarr masuk Islam
Nabi ﷺ dan Abu Bakar datang, mencium Hajar Aswad, thawaf, lalu shalat. Abu Dzarr berkata: "Aku adalah orang pertama yang menyapanya dengan salam Islam." Ia berkata: "Assalamu 'alaika ya Rasulallah." Nabi ﷺ menjawab: "Wa 'alaika warahmatullah."
Nabi ﷺ bertanya: "Siapa kamu?" Abu Dzarr menjawab: "Dari Ghifar." Nabi ﷺ meletakkan jari-jarinya di dahi Abu Dzarr (tanda heran atau perhatian). Abu Dzarr mengira Nabi ﷺ tidak suka ia dari Ghifar. Abu Bakar mencegahnya mengambil tangan Nabi ﷺ karena ia lebih tahu adab.
Nabi ﷺ bertanya: "Sejak kapan kamu di sini?" Abu Dzarr menjawab: "30 malam." Nabi ﷺ bertanya: "Siapa yang memberimu makan?" Abu Dzarr menjawab: "Tidak ada makanan kecuali air Zamzam." Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya ia adalah berkah, ia adalah makanan yang mengenyangkan."
10. Abu Bakar menjamu Abu Dzarr
Abu Bakar meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk menjamu Abu Dzarr malam itu. Mereka pergi ke rumah Abu Bakar, dan Abu Bakar memberikan kismis Thaif. Ini adalah makanan pertama yang dimakan Abu Dzarr di Mekah.
11. Nabi ﷺ memerintahkan Abu Dzarr berdakwah kepada kaumnya
Nabi ﷺ bersabda: "Aku telah diperlihatkan tanah yang banyak pohon kurmanya, aku tidak melihatnya melainkan Yatsrib (Madinah). Apakah kamu mau menyampaikan dariku kepada kaummu? Semoga Allah memberi manfaat kepada mereka melalui kamu dan memberimu pahala."
12. Keislaman Unais, ibu, dan suku Ghifar
Abu Dzarr menemui Unais, yang langsung masuk Islam. Kemudian ibu mereka juga masuk Islam. Mereka kembali ke suku Ghifar. Setengah suku masuk Islam, dipimpin oleh Aimi' bin Rahadah al-Ghifari. Setengah lagi menunggu Nabi ﷺ datang ke Madinah, dan ketika beliau datang, mereka masuk Islam. Kemudian suku Aslam datang dan masuk Islam.
Nabi ﷺ bersabda: "Ghifar, semoga Allah mengampuninya, dan Aslam, semoga Allah menyelamatkannya."
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Ibnu Hajar dan an-Nawawi berbeda pendapat tentang apakah Abu Dzarr shalat tiga tahun sebelum bertemu Nabi ﷺ dengan syariat tertentu atau hanya berdasarkan fitrah tauhid. Pendapat yang kuat — sebagaimana ditegaskan Ibn Katsir dan an-Nawawi — bahwa Abu Dzarr mengikuti tauhid Ibrahim dan berijtihad sendiri dalam ibadah, karena belum ada syariat yang sampai kepadanya.
Story Telling
Kisah ini sendiri adalah story telling dari Abu Dzarr. Mari kita renungkan satu momen:
Bayangkan seorang pria dari suku terpencil, Ghifar, yang jauh dari peradaban Mekah. Ia meninggalkan kaumnya karena fitnah, kehilangan tempat tinggal, dan pergi ke Mekah. Di sana ia diserang, dipukuli, hingga pingsan dan berlumuran darah. Ia hanya minum air Zamzam selama 30 hari. Tidak ada makanan, tidak ada tempat tinggal, tidak ada pelindung.
Namun ia tidak menyerah. Ia mencari kebenaran. Ketika akhirnya ia bertemu Nabi ﷺ, ia adalah orang pertama yang mengucapkan salam Islam kepada beliau. Nabi ﷺ menjawab dengan lembut: "Wa 'alaika warahmatullah."
Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa dalam kisah ini terdapat pelajaran tentang kesabaran dalam mencari kebenaran, keutamaan tauhid sebelum datangnya dakwah, dan kemuliaan Abu Dzarr yang berani mengatakan kebenaran meskipun harus menanggung penderitaan.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa Abu Dzarr adalah contoh hamba yang Allah bimbing kepada kebenaran karena keikhlasannya mencari ridha Allah.
Kesimpulan Praktis
- Carilah kebenaran dengan sungguh-sungguh — Abu Dzarr menempuh perjalanan jauh, menanggung penderitaan, dan tidak berhenti sebelum menemukan kebenaran.
- Tauhid adalah fitrah — Abu Dzarr telah bertauhid sebelum datangnya risalah, menunjukkan bahwa akal dan fitrah yang bersih bisa membimbing kepada Allah.
- Al-Qur'an adalah mukjizat — Unais, seorang penyair, mengakui bahwa Al-Qur'an bukan syair, bukan ucapan dukun, dan bukan sihir.
- Air Zamzam adalah berkah — Nabi ﷺ menegaskan bahwa Zamzam adalah makanan yang mengenyangkan dan berkah.
- Sampaikan dakwah kepada keluarga dan kaum — Nabi ﷺ memerintahkan Abu Dzarr untuk berdakwah kepada kaumnya, dan hasilnya setengah suku Ghifar masuk Islam.
- Bersabarlah dalam berdakwah — Abu Dzarr tidak langsung berhasil, tetapi ia terus berusaha hingga akhirnya seluruh kaumnya masuk Islam.
- Adab dalam menyampaikan kebenaran — Meskipun Abu Dzarr menegur wanita yang berthawaf dengan berhala, Nabi ﷺ tidak mencela Abu Dzarr, tetapi mengajarkan bahwa dakwah harus dengan cara yang baik.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.