Penjelasan Hadits Muslim No. 2448 tentang Kisah sebelas wanita menggambarkan karakter suami masing-masing

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits Umm Zar' ini adalah hadits shahih yang sangat agung dan penuh hikmah. Intinya, Rasulullah ﷺ menyampaikan kepada Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa kedudukan dan cinta beliau kepada Aisyah jauh melebihi cinta Abu Zar' kepada Ummu Zar'. Hadits ini juga mengajarkan adab dalam memandang pasangan, keutamaan akhlak yang baik, serta bagaimana seorang istri (atau suami) memuji pasangannya dengan cara yang baik dan penuh syukur.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Menyebutkan Hadits Umm Zar', no. 2448. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5189) dari jalur Hisyam bin 'Urwah.

Dalil pendukung tentang keutamaan akhlak yang baik dalam berumah tangga:

Allah Ta'ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

QS. An-Nisa' [4]: 19

Artinya: "Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut."

Ayat ini adalah perintah bagi para suami untuk memperlakukan istri dengan baik. Dan dalam hadits ini, kita melihat gambaran bagaimana seorang istri (Ummu Zar') memuji suaminya (Abu Zar') yang telah berbuat baik kepadanya, dan bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada Aisyah bahwa beliau adalah suami terbaik baginya.

Hadits terkait tentang keutamaan suami yang baik:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

"Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku." (HR. At-Tirmidzi no. 3895, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami' no. 3313)

Kaitan dengan ulama:

Hadits Ummu Zar' ini banyak dijelaskan oleh para ulama, di antaranya:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (15/203-211) memberikan penjelasan panjang lebar tentang makna kata-kata asing dalam hadits ini dan faedah-faedahnya.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (9/249-260) juga menjelaskan hadits ini secara rinci saat mensyarah Shahih al-Bukhari.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah kisah tentang sebelas orang wanita yang berkumpul dan bersepakat untuk saling jujur menceritakan keadaan suami mereka masing-masing. Ini adalah sebuah permisalan (tamtsil) yang sangat indah yang disampaikan oleh Nabi ﷺ kepada Aisyah radhiyallahu 'anha.

Makna setiap gambaran para wanita:

  1. Wanita pertama menggambarkan suaminya seperti daging unta kurus di puncak gunung yang sulit dijangkau. Ini adalah kiasan untuk suami yang tidak bermanfaat dan tidak menyenangkan. Ia tidak bisa diharapkan kebaikannya (tidak "gemuk" untuk dimanfaatkan) dan juga sulit untuk didekati (tidak "mudah" untuk diambil manfaatnya).
  2. Wanita kedua menggambarkan suaminya yang sangat buruk akhlaknya, sehingga ia takut untuk menyebutkan keburukannya karena terlalu banyak, dan jika ia menceritakannya, ia akan menyebutkan semua keburukan yang tampak maupun tersembunyi.
  3. Wanita ketiga menggambarkan suaminya yang tinggi badannya tapi kurang akal. Jika ia bicara jujur, ia akan diceraikan. Jika ia diam, ia dibiarkan menggantung (tidak dicerai dan tidak diperlakukan sebagai istri).
  4. Wanita keempat memuji suaminya seperti malam Tihamah (Mekkah) yang sejuk, tidak panas dan tidak dingin. Ini adalah pujian untuk suami yang berakhlak pertengahan, tidak kasar dan tidak pula lemah.
  5. Wanita kelima menggambarkan suaminya seperti macan tutul saat masuk rumah (sangat lembut dan penuh kasih) dan seperti singa saat keluar rumah (tegas dan berwibawa di hadapan orang lain). Ia tidak banyak bertanya tentang urusan rumah tangga yang sudah diatur oleh istrinya.
  6. Wanita keenam mengeluhkan suaminya yang rakus makan dan minum, egois, dan tidak peduli dengan perasaan istrinya.
  7. Wanita ketujuh menggambarkan suaminya yang pendek akalnya, tidak bermanfaat, dan memiliki banyak penyakit serta akhlak yang kasar.
  8. Wanita kedelapan memuji suaminya yang harum baunya seperti tanaman za'faran dan sentuhannya lembut seperti bulu kelinci. Ini adalah pujian untuk suami yang bersih, harum, dan lembut.
  9. Wanita kesembilan memuji suaminya yang dermawan (banyak abu di dapurnya karena sering memasak untuk tamu), berwibawa, dan rumahnya dekat dengan tempat berkumpulnya orang-orang mulia.
  10. Wanita kesepuluh memuji suaminya yang bernama Malik, yang memiliki banyak unta dan harta, serta sangat dermawan.
  11. Wanita kesebelas (Ummu Zar') memuji suaminya, Abu Zar', dengan pujian yang sangat panjang dan indah. Ia menyebutkan kebaikan suaminya dalam memberikan perhiasan, makanan, dan mengangkat derajatnya dari kehidupan yang sulit menjadi kehidupan yang berkecukupan. Ia juga memuji ibu, anak laki-laki, anak perempuan, dan pembantu Abu Zar'.

Kemudian Ummu Zar' menceritakan bahwa Abu Zar' menceraikannya dan menikahi wanita lain. Ia pun menikah dengan pria lain yang juga baik, namun semua kebaikan suami barunya itu tidak bisa menandingi kebaikan Abu Zar'.

Di akhir hadits, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Aisyah: "Aku bagimu seperti Abu Zar' bagi Ummu Zar'."

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa makna sabda Nabi ﷺ ini adalah: "Aku adalah suami yang paling baik bagimu, sebagaimana Abu Zar' adalah suami yang paling baik bagi Ummu Zar'. Bahkan aku lebih baik bagimu daripada Abu Zar' bagi Ummu Zar'." Beliau ﷺ menyampaikan ini untuk menghibur dan memuliakan Aisyah, serta memberitahukan bahwa kedudukan Aisyah di sisi beliau sangat tinggi.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menambahkan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seorang istri memuji suaminya di hadapan orang lain selama itu benar, dan bolehnya menyebutkan kekurangan suami dengan cara yang tidak mengandung ghibah yang diharamkan, karena tujuannya adalah untuk saling memberi pelajaran dan nasihat.

Pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Keutamaan Aisyah radhiyallahu 'anha dan cinta Rasulullah ﷺ yang begitu besar kepadanya.
  2. Anjuran untuk berakhlak baik kepada pasangan, karena Nabi ﷺ mencontohkan bagaimana beliau memperlakukan Aisyah dengan sangat baik.
  3. Bolehnya seorang istri memuji suaminya dan menyebutkan kebaikannya, selama itu benar dan tidak berlebihan.
  4. Kisah ini adalah tamtsil (perumpamaan) yang bertujuan untuk pendidikan akhlak, bukan untuk menggunjing suami-suami tersebut, karena para wanita itu hanyalah tokoh dalam perumpamaan yang dibuat oleh Nabi ﷺ.
  5. Ridha seorang istri terhadap suaminya adalah salah satu kunci kebahagiaan rumah tangga, sebagaimana Ummu Zar' yang tetap mengakui kebaikan suami pertamanya meskipun telah diceraikan.

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa mengambil pelajaran dari sikap Ummu Zar'. Meskipun ia telah diceraikan oleh Abu Zar' dan kemudian menikah dengan pria lain yang juga baik dan kaya, ia tetap mengakui keutamaan Abu Zar' dan tidak pernah melupakan kebaikannya. Ia berkata tentang suami keduanya:

"Jika aku kumpulkan semua yang diberikan suamiku yang kedua ini, ia tidak akan mencapai wadah yang paling kecil sekalipun dari pemberian Abu Zar'."

Ini adalah pelajaran tentang kesetiaan dan pengakuan atas kebaikan orang lain, meskipun hubungan telah berakhir. Ummu Zar' tidak pernah mengingkari kebaikan Abu Zar' yang telah mengangkat derajatnya.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita sering melupakan kebaikan pasangan kita hanya karena satu kesalahan kecil? Atau apakah kita selalu bersyukur atas kebaikan yang telah diberikan?

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk menjadi pribadi yang tidak kufur nikmat, terutama nikmat memiliki pasangan yang baik. Dalam hadits lain, beliau bersabda bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita yang kufur terhadap suami, yaitu yang mengingkari kebaikan suaminya. (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)

Maka, mari kita jadikan hadits ini sebagai cermin untuk selalu bersyukur atas pasangan kita dan berusaha menjadi pasangan yang terbaik, sebagaimana Rasulullah ﷺ adalah suami terbaik bagi istri-istrinya.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersyukurlah atas pasangan kita, karena syukur adalah kunci bertambahnya kebaikan dalam rumah tangga.
  2. Berusahalah menjadi suami/istri yang terbaik, dengan meneladani akhlak Rasulullah ﷺ terhadap keluarganya.
  3. Pujilah pasangan kita dengan cara yang baik di hadapan orang lain, selama itu benar, karena ini akan menumbuhkan cinta dan kasih sayang.
  4. Jangan mudah melupakan kebaikan pasangan hanya karena kekurangan yang ada. Ingatlah bahwa setiap manusia pasti memiliki kekurangan.
  5. Jadikan rumah tangga kita sebagai ladang pahala, dengan saling menasihati dalam kebaikan dan saling menyempurnakan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?