Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa menjelang wafatnya Abu Thalib, paman Nabi ﷺ. Nabi ﷺ sangat menginginkan pamannya masuk Islam dan mengucapkan syahadat, namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menghalanginya sehingga Abu Thalib tetap di atas agama Abdul Muththalib. Hadits ini mengajarkan bahwa hidayah itu mutlak milik Allah, dan bahwa seorang muslim tidak boleh memintakan ampunan bagi orang musyrik yang telah jelas mati di atas kekufuran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab "Dalil tentang Benarnya Islam Seseorang yang Hadir di Saat Kematian", no. 24 (dalam sebagian penomoran). Sahabat yang meriwayatkan adalah Sa'id bin Al-Musayyib dari ayahnya, yaitu Al-Musayyib bin Hazn radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
- QS. At-Taubah [9]: 113
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
"Tidaklah pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik, walaupun mereka kerabat dekat, setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang itu adalah penghuni neraka."
- QS. Al-Qashash [28]: 56
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui siapa yang mau menerima petunjuk."
Penjelasan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mengajak orang kafir masuk Islam saat sakaratul maut, selama belum jelas tanda-tanda kematiannya. Namun jika sudah jelas ruhnya akan keluar, maka tidak ada gunanya lagi.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan istighfar untuk orang musyrik berlaku setelah jelas bahwa mereka mati di atas kekufuran. Adapun sebelum itu, mendoakan hidayah untuk mereka tetap diperbolehkan.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menegaskan bahwa hidayah itu hak prerogatif Allah. Nabi ﷺ sendiri tidak mampu memberi hidayah kepada orang yang paling beliau cintai, yaitu pamannya sendiri.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
1. Kasih sayang Nabi ﷺ kepada keluarganya
Nabi ﷺ sangat mencintai Abu Thalib. Beliau ﷺ tidak rela pamannya mati dalam keadaan syirik. Maka beliau mendatangi Abu Thalib saat sakaratul maut dan memintanya mengucapkan Laa ilaaha illallah. Ini menunjukkan bahwa dakwah kepada keluarga adalah prioritas, dan kita tidak boleh berputus asa dari hidayah untuk mereka.
2. Bahaya teman yang buruk
Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah hadir di sisi Abu Thalib dan terus membisikkan agar ia tetap di atas agama Abdul Muththalib. Mereka berkata: "Apakah kamu benci dengan agama Abdul Muththalib?" Akhirnya Abu Thalib pun mengikuti bisikan mereka. Ini menunjukkan bahwa lingkungan dan teman duduk sangat mempengaruhi akhir kehidupan seseorang. Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa'id menyebutkan bahwa teman yang buruk bisa menjadi sebab kesengsaraan seseorang di akhir hayatnya.
3. Hidayah adalah milik Allah semata
Ketika Abu Thalib menolak, Nabi ﷺ bersedih. Maka Allah menurunkan firman-Nya: "Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki." Ini menjadi pelajaran besar bahwa usaha dakwah itu wajib, tetapi hasilnya sepenuhnya di tangan Allah. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini menghibur Nabi ﷺ sekaligus menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu memasukkan hidayah ke dalam hati seseorang, meskipun ia adalah Nabi sekalipun.
4. Larangan istighfar untuk orang musyrik
Setelah Abu Thalib wafat di atas kekufuran, Nabi ﷺ berkata: "Demi Allah, aku akan terus memintakan ampunan untukmu selama aku belum dilarang." Maka Allah menurunkan QS. At-Taubah ayat 113 yang melarang istighfar untuk orang musyrik. Ini menunjukkan bahwa setelah jelas seseorang mati di atas kekufuran, maka tidak boleh lagi memintakan ampunan untuknya. Namun, selama ia masih hidup, kita tetap boleh mendoakan hidayah untuknya.
5. Benarnya Islam seseorang yang hadir saat kematian
Imam Muslim meletakkan hadits ini dalam bab "Dalil tentang Benarnya Islam Seseorang yang Hadir di Saat Kematian". Maksudnya, jika seseorang mengucapkan syahadat saat sakaratul maut sebelum nyawanya sampai di tenggorokan, maka Islamnya sah dan bermanfaat baginya. Ini berdasarkan hadits lain bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang akhir ucapannya 'Laa ilaaha illallah', maka ia masuk surga." (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Story Telling
Ada kisah yang sangat menyentuh tentang kasih sayang Nabi ﷺ kepada pamannya. Ketika Abu Thalib sakit dan menjelang wafat, Nabi ﷺ datang menjenguknya. Di samping Abu Thalib ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah. Nabi ﷺ berkata dengan penuh harap:
"Wahai pamanku, ucapkanlah 'Laa ilaaha illallah' — satu kalimat yang akan membuatku bersaksi untukmu di hadapan Allah."
Namun Abu Jahal segera menyela: "Wahai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama Abdul Muththalib?"
Nabi ﷺ mengulangi permintaannya, dan Abu Jahal mengulangi ucapannya. Sampai akhirnya, ucapan terakhir Abu Thalib adalah: "Aku tetap di atas agama Abdul Muththalib." Ia menolak mengucapkan syahadat.
Nabi ﷺ pun bersedih. Beliau berkata: "Demi Allah, aku akan terus memintakan ampunan untukmu selama aku belum dilarang."
Maka Allah menurunkan ayat yang melarang istighfar untuk orang musyrik, dan ayat yang menegaskan bahwa hidayah itu milik Allah semata.
Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menyebutkan bahwa setelah Abu Thalib wafat, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata kepada Nabi ﷺ: "Sesungguhnya pamanku yang sesat telah wafat." Nabi ﷺ bersabda: "Pergilah dan kuburkanlah dia." Ketika Ali kembali, Nabi ﷺ bersabda: "Pergilah dan mandikanlah dia, lalu kuburkanlah dia. Semoga Allah mengampunimu wahai Ali." Ini menunjukkan adab Nabi ﷺ yang tetap menghormati jenazah pamannya, meskipun ia mati di atas kekufuran.
Hikmah dari kisah ini: kasih sayang tidak boleh membuat kita melanggar syariat. Nabi ﷺ sangat mencintai pamannya, tetapi ketika Allah melarang istighfar untuk orang musyrik, beliau pun berhenti. Cinta kepada Allah dan taat kepada-Nya harus di atas segalanya.
Kesimpulan Praktis
- Bersemangatlah berdakwah kepada keluarga, karena Nabi ﷺ sendiri berdakwah kepada pamannya hingga akhir hayatnya.
- Jauhilah teman yang buruk, karena Abu Jahal menjadi sebab Abu Thalib tidak mengucapkan syahadat. Pilihlah teman yang mengingatkan kita kepada kebaikan.
- Serahkan hasil hidayah kepada Allah, karena hidayah itu milik Allah semata. Kita hanya berkewajiban menyampaikan.
- Jangan memintakan ampunan bagi orang yang mati di atas kekufuran, karena Allah telah melarangnya dalam QS. At-Taubah ayat 113.
- Perbanyaklah berdoa untuk diri sendiri dan kaum muslimin, agar Allah mengokohkan kita di atas iman sampai akhir hayat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.