Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Dalam mimpi yang merupakan wahyu, Rasulullah ﷺ melihat sebuah istana di surga yang diperuntukkan bagi Umar, dan beliau ﷺ berpaling karena menjaga perasaan Umar yang dikenal sangat pencemburu terhadap kehormatan. Umar pun menangis tersentuh dan bertanya, "Apakah aku cemburu kepadamu, wahai Rasulullah?" Ini adalah bukti kedudukan Umar yang tinggi dan akhlak Nabi ﷺ yang sangat menjaga hati para sahabatnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab "Dari Keutamaan Umar" (no. 2395), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Terdapat juga riwayat dalam Shahih al-Bukhari (no. 3679) dengan redaksi yang serupa, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Adapun dalil dari Al-Qur'an yang relevan dengan sifat pencemburu yang terpuji dalam menjaga kehormatan, Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Ahzab [33]: 35
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar."
Ayat ini menyebutkan sifat hafizhun furujahum (menjaga kemaluan/kehormatan) sebagai salah satu sifat orang-orang yang dijanjikan ampunan dan pahala besar. Sifat ghirah (cemburu) Umar adalah bagian dari penjagaan kehormatan ini.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Kedudukan Umar bin Khattab di Surga
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan keutamaan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dan kedudukannya yang tinggi di surga. Mimpi para nabi adalah wahyu, sebagaimana firman Allah tentang mimpi Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Maka apa yang dilihat Rasulullah ﷺ dalam mimpinya tentang istana Umar di surga adalah berita yang benar tentang kedudukan Umar.
2. Makna "Aku teringat kecemburuan Umar"
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa maksud Nabi ﷺ berpaling dari wanita tersebut adalah karena beliau ﷺ mengetahui sifat ghirah (cemburu) Umar yang sangat kuat. Beliau ﷺ tidak ingin ada sesuatu pun yang bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi Umar, meskipun itu hanya dalam mimpi. Ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat menjaga perasaan para sahabatnya.
3. Ghirah Umar yang Terpuji
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa ghirah Umar adalah ghirah yang terpuji karena ia cemburu untuk Allah dan Rasul-Nya. Umar tidak suka jika ada hal-hal yang bisa mengurangi kemuliaan Nabi ﷺ atau kehormatan kaum muslimin. Ghirah seperti ini adalah sifat yang dicintai Allah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya Allah cemburu, dan orang mukmin juga cemburu, dan kecemburuan Allah adalah jika seorang hamba melanggar hal-hal yang diharamkan-Nya." (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Tangisan Umar dan Adabnya
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam syarahnya menyebutkan bahwa tangisan Umar di majelis itu adalah tangisan karena tersentuh oleh kelembutan dan kasih sayang Nabi ﷺ kepadanya. Umar sangat terharu bahwa Nabi ﷺ begitu menjaga perasaannya. Ucapan Umar, "Apakah aku cemburu kepadamu, wahai Rasulullah?" menunjukkan betapa tingginya adab Umar kepada Nabi ﷺ. Ia tidak akan pernah merasa cemburu kepada orang yang paling ia cintai setelah Allah.
5. Pelajaran tentang Menjaga Perasaan Sesama Muslim
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa dari hadits ini kita belajar untuk menjaga perasaan saudara kita. Jika Nabi ﷺ saja menjaga perasaan Umar dalam mimpi, maka kita lebih-lebih lagi harus menjaga perasaan sesama muslim dalam kenyataan. Jangan sampai kita melakukan sesuatu yang bisa membuat saudara kita merasa tidak nyaman atau tersinggung.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu memiliki sifat ghirah yang sangat kuat. Suatu ketika, beliau pernah berkata kepada Nabi ﷺ: "Wahai Rasulullah, seandainya engkau mau memerintahkan kami untuk menjadikan rumah-rumah kami sebagai tempat ibadah (dengan menutup pintu-pintu yang menghadap masjid)..." Maka Allah menurunkan ayat yang membolehkan istri-istri Nabi ﷺ untuk tetap tinggal di rumah mereka dan tidak perlu menutup pintu rumah mereka dari masjid (HR. Bukhari).
Kisah ini menunjukkan bahwa ghirah Umar adalah ghirah yang lahir dari kecintaannya yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia ingin segala sesuatu berjalan dengan penuh kehormatan dan kesucian. Dan Allah serta Rasul-Nya menghargai perasaan mulia ini.
Kesimpulan Praktis
- Yakini keutamaan Umar bin Khattab sebagai salah satu sahabat yang dijamin masuk surga dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.
- Teladani akhlak Nabi ﷺ dalam menjaga perasaan orang lain, bahkan dalam hal-hal yang kecil sekalipun.
- Pupuk sifat ghirah yang terpuji dalam diri kita, yaitu cemburu terhadap hal-hal yang melanggar syariat Allah dan menjaga kehormatan diri serta keluarga.
- Jangan pernah merasa cemburu terhadap kebaikan orang lain dalam hal dunia, karena itu adalah hasad yang tercela. Namun cemburulah dalam hal menjaga kehormatan dan agama.
- Jadikan kisah ini sebagai pelajaran untuk selalu beradab kepada orang yang lebih tua, lebih berilmu, dan lebih mulia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.