Penjelasan Hadits Muslim No. 2378 tentang Kemuliaan berdasarkan ketakwaan dan keutamaan Nabi Yusuf

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan diukur dari keturunan, harta, atau status sosial, melainkan dari ketakwaannya. Namun, ketika para sahabat bertanya tentang kemuliaan dari sisi nasab dan garis keturunan, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kemuliaan nasab yang hakiki adalah nasab yang bersambung kepada kebaikan, seperti Nabi Yusuf yang merupakan putra dari rangkaian para nabi. Beliau juga mengajarkan bahwa orang-orang yang baik di masa jahiliyah, jika diberikan pemahaman Islam, maka mereka akan menjadi orang-orang yang baik pula di masa Islam.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Hujurat [49]: 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Hadits terkait:

Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa faedah penting, di antaranya penjelasan tentang keutamaan Nabi Yusuf 'alaihis salam dan bantahan terhadap mereka yang membanggakan diri dengan nasab tanpa diiringi ketakwaan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki konteks yang sangat menarik. Para sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang "orang yang paling mulia" (akramun nas). Pertanyaan ini muncul karena saat itu orang-orang Arab sangat memperhatikan kemuliaan nasab dan kedudukan sosial. Mereka ingin tahu siapa yang paling berhak disebut mulia menurut Islam.

Nabi ﷺ menjawab dengan jawaban yang bersifat umum dan prinsipil: "Orang yang paling bertakwa di antara kalian." Ini adalah jawaban yang sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 di atas. Kemuliaan hakiki di sisi Allah hanyalah ketakwaan.

Namun para sahabat berkata, "Bukan ini yang kami tanyakan." Maksudnya, mereka ingin bertanya tentang kemuliaan dari sisi nasab dan garis keturunan secara khusus, bukan tentang kemuliaan secara umum.

Maka Nabi ﷺ memberikan contoh konkret tentang kemuliaan nasab yang paling tinggi, yaitu Nabi Yusuf 'alaihis salam. Beliau bersabda: "Yusuf, Nabi Allah, putra Nabi Allah, putra Nabi Allah, putra Kekasih Allah."

Rangkaian nasab Nabi Yusuf adalah:

  • Yusuf bin Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim 'alaihimus salam

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat keutamaan yang sangat besar bagi Nabi Yusuf, karena ia adalah putra dari rangkaian para nabi yang mulia. Ini menunjukkan bahwa nasab yang paling mulia adalah nasab yang dihiasi dengan kenabian dan ketaatan kepada Allah.

Namun para sahabat kembali berkata, "Bukan ini yang kami tanyakan." Mereka ingin bertanya tentang kemuliaan suku-suku Arab mereka sendiri, bukan tentang nasab para nabi.

Maka Nabi ﷺ bersabda: "Apakah kalian bertanya tentang suku-suku Arab? Mereka yang baik di masa jahiliyah adalah yang baik di masa Islam jika mereka memahami."

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah: orang-orang yang memiliki akhlak mulia dan sifat-sifat terpuji di masa jahiliyah—seperti dermawan, pemberani, jujur, dan menepati janji—maka ketika mereka masuk Islam dan memahami syariatnya, kebaikan-kebaikan tersebut akan menjadi modal yang sangat berharga bagi mereka. Karena Islam datang untuk menyempurnakan akhlak yang baik, bukan untuk menghapuskannya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Islam tidak datang untuk menghilangkan sifat-sifat mulia yang sudah ada pada diri seseorang, tetapi justru menyempurnakan dan mengarahkannya kepada jalan yang benar. Orang yang baik di masa jahiliyah, jika Allah memberinya hidayah Islam dan ia memahami agamanya, maka ia akan menjadi orang yang baik di masa Islam, bahkan bisa lebih baik.

Story Telling

Ada kisah yang masyhur tentang Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu yang menunjukkan makna hadits ini. Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai orang yang keras, tegas, dan disegani oleh kaum Quraisy. Ketika ia masuk Islam, sifat ketegasan dan keberaniannya tidak hilang, tetapi justru diarahkan untuk membela Islam dan menegakkan kebenaran. Ia menjadi salah satu pilar terkuat dalam dakwah Islam.

Demikian pula Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Di masa jahiliyah, ia dikenal sebagai orang yang jujur, dermawan, dan memiliki akhlak mulia. Ketika masuk Islam, sifat-sifat mulia itu semakin bersinar, hingga ia menjadi orang yang paling dicintai Rasulullah ﷺ dan menjadi khalifah pertama yang melanjutkan perjuangan dakwah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa sifat-sifat baik yang dimiliki seseorang sebelum Islam tidaklah sia-sia. Jika Allah memberinya hidayah untuk masuk Islam, maka kebaikan-kebaikan tersebut akan menjadi pendukung baginya dalam menjalankan syariat. Sebaliknya, orang yang buruk akhlaknya di masa jahiliyah, maka keislamannya pun akan sulit untuk membawa perbaikan akhlak, karena akhlak yang buruk telah mendarah daging dalam dirinya.

Kesimpulan Praktis

  1. Kemuliaan hakiki di sisi Allah adalah ketakwaan, bukan keturunan, harta, atau kedudukan sosial.
  2. Nasab yang paling mulia adalah nasab yang dihiasi dengan iman dan amal shalih, seperti nasab para nabi.
  3. Sifat-sifat baik yang dimiliki seseorang sebelum Islam adalah modal berharga, dan Islam datang untuk menyempurnakan serta mengarahkannya kepada kebaikan yang hakiki.
  4. Jangan membanggakan diri dengan nasab atau keturunan, karena yang membedakan manusia di sisi Allah hanyalah ketakwaan.
  5. Jadikan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai alat untuk menyombongkan diri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?