Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2374 tentang Keutamaan Nabi Musa dan kisah tamparan Yahudi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengisahkan seorang Yahudi yang datang mengadu kepada Nabi ﷺ setelah wajahnya ditampar oleh sahabat. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyebutkan keutamaan Nabi Musa عليه السلام, bahwa beliau akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama umatnya, dan Nabi ﷺ tidak mengetahui apakah Nabi Musa akan termasuk orang yang pingsan lalu sadar sebelum beliau, ataukah pingsannya di bukit Thursina sudah cukup baginya sehingga tidak akan pingsan lagi pada hari kiamat. Ini menunjukkan keutamaan besar Nabi Musa عليه السلام dan juga sikap tawadhu' Nabi ﷺ yang tidak memastikan sesuatu yang tidak diwahyukan kepadanya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan, Bab Keutamaan Musa عليه السلام, no. 2374, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang Anda cantumkan adalah riwayat dari jalur Sufyan Ats-Tsauri (salah satu ulama dalam daftar rujukan kami), dari 'Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Abu Sa'id Al-Khudri. Ini adalah penguat (mutaba'ah) bagi riwayat Az-Zuhri yang juga ada dalam Shahih Muslim.

Adapun ayat yang terkait dengan pingsannya Nabi Musa di bukit Thursina adalah firman Allah Ta'ala:

QS. Al-A'raf [7]: 143

وَلَمَّا جَآءَ مُوسٰى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِي وَلَٰكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَىٰنِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسٰى صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan-nya telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, 'Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.' Dia (Allah) berfirman, 'Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya, maka engkau akan dapat melihat-Ku.' Ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah dia sadar, dia berkata, 'Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.'"

Ayat ini menjelaskan peristiwa pingsannya Nabi Musa ketika Allah menampakkan keagungan-Nya kepada gunung. Ini menjadi dasar pemahaman hadits tersebut.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "صَعْقَةِ الطُّورِ" (pingsan di Thursina) adalah pingsan yang dialami Nabi Musa ketika Allah menampakkan diri-Nya kepada gunung, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Adapun pingsan pada hari kiamat adalah pingsan yang Allah timpakan kepada seluruh makhluk ketika sangkakala ditiup, sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar [39]: 68.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki konteks yang menarik. Dalam riwayat lengkap yang disebutkan oleh Imam Muslim, seorang Yahudi datang kepada Nabi ﷺ dengan wajah yang telah ditampar oleh seorang sahabat. Ketika Nabi ﷺ bertanya mengapa ia ditampar, sahabat tersebut menjelaskan bahwa ia mendengar si Yahudi berkata: "Demi Dzat yang memilih Musa di atas seluruh manusia." Maka sahabat itu menamparnya karena merasa ucapan tersebut merendahkan Nabi ﷺ.

Kemudian Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah kalian melebihkan aku atas Musa, karena pada hari kiamat seluruh manusia akan pingsan, dan aku adalah orang pertama yang sadar. Ternyata Musa sedang memegang salah satu sisi Arsy. Aku tidak tahu apakah ia termasuk orang yang pingsan lalu sadar sebelum aku, ataukah ia dicukupkan dengan pingsannya di bukit Thursina."

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memuji Nabi ﷺ dengan cara merendahkan nabi-nabi lainnya. Beliau juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui secara pasti keadaan Nabi Musa pada hari kiamat, karena hal itu termasuk perkara ghaib yang tidak diwahyukan kepadanya. Ini menunjukkan kejujuran dan ketawadhu'an Nabi ﷺ.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa makna "أَكَانَ مِمَّنْ صَعِقَ فَأَفَاقَ قَبْلِي أَوِ اكْتَفَى بِصَعْقَةِ الطُّورِ" adalah keraguan Nabi ﷺ tentang apakah Nabi Musa akan mengalami pingsan pada hari kiamat seperti manusia lainnya, ataukah Allah mencukupkannya dengan pingsan yang pernah ia alami di dunia sehingga ia tidak akan pingsan lagi pada hari kiamat. Ini adalah bentuk penghormatan Allah kepada Nabi Musa karena ia telah "membayar" pingsan tersebut di dunia.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pingsan Nabi Musa di Thursina adalah ujian dan kemuliaan sekaligus. Allah memperlihatkan kepadanya apa yang tidak diperlihatkan kepada selainnya, lalu Allah menghidupkannya kembali setelah pingsan tersebut sebagai bentuk kasih sayang-Nya.

Para ulama juga menjelaskan hikmah larangan Nabi ﷺ untuk melebihkan beliau atas Musa, yaitu untuk menutup pintu perpecahan dan permusuhan. Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah kalian membedakan antara para nabi." (HR. Bukhari dan Muslim). Ini karena perbedaan derajat di antara para nabi adalah urusan Allah, dan kita diperintahkan untuk beriman kepada mereka semua tanpa membeda-bedakan.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Seorang Yahudi datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan wajahnya telah ditampar. Ia berkata, 'Wahai Muhammad, ada sahabatmu dari kalangan Anshar yang menampar wajahku.' Nabi ﷺ bersabda, 'Panggil dia.' Maka mereka memanggilnya. Nabi ﷺ bertanya, 'Mengapa engkau menampar wajahnya?' Ia menjawab, 'Wahai Rasulullah, aku mendengar ia berkata: Demi Dzat yang memilih Musa di atas seluruh manusia. Maka aku marah dan menamparnya.' Nabi ﷺ bersabda, 'Janganlah kalian melebihkan aku atas Musa, karena pada hari kiamat seluruh manusia akan pingsan, dan aku adalah orang pertama yang sadar. Ternyata Musa sedang memegang salah satu sisi Arsy. Aku tidak tahu apakah ia termasuk orang yang pingsan lalu sadar sebelum aku, ataukah ia dicukupkan dengan pingsannya di bukit Thursina.'" (HR. Muslim)

Hikmah dari kisah ini sangat dalam. Nabi ﷺ mengajarkan kita adab dalam mencintai beliau. Mencintai Nabi ﷺ tidak boleh dengan cara merendahkan nabi-nabi Allah yang lain. Seorang sahabat yang menampar Yahudi tersebut memiliki niat baik untuk membela kehormatan Nabi ﷺ, namun Nabi ﷺ meluruskan cara tersebut. Ini menunjukkan bahwa niat baik tidak membenarkan cara yang keliru. Kita harus beradab kepada semua nabi dan rasul, karena mereka semua adalah utusan Allah yang mulia.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mencintai Nabi ﷺ dengan cara merendahkan nabi-nabi lain. Cinta kepada Nabi ﷺ harus dibingkai dengan adab dan syariat.
  2. Nabi Musa عليه السلام memiliki keutamaan yang agung di sisi Allah, hingga Allah memberinya pingsan di Thursina sebagai bentuk kemuliaan dan ujian.
  3. Nabi ﷺ tidak mengetahui perkara ghaib kecuali yang Allah wahyukan kepadanya. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah manusia biasa yang diberi wahyu, bukan dzat yang mengetahui segala sesuatu.
  4. Hindari perdebatan yang tidak bermanfaat tentang perbandingan derajat para nabi. Kita cukup beriman kepada mereka semua dan tidak membeda-bedakan.
  5. Jadikan kisah ini pelajaran untuk menjaga lisan agar tidak mengucapkan perkataan yang dapat menyinggung keyakinan orang lain, meskipun dengan niat membela kebenaran.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.