Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2373 tentang Larangan membedakan derajat antar nabi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita sebuah adab yang sangat penting: dilarang keras membanding-bandingkan atau melebih-lebihkan sebagian Nabi atas sebagian yang lain dengan cara yang bisa menimbulkan fitnah atau merendahkan yang lain. Rasulullah ﷺ marah ketika ada sahabat yang menampar seorang Yahudi karena perkataannya yang mengagungkan Nabi Musa. Beliau meluruskan dengan menjelaskan bahwa kita tidak boleh saling melebihkan para Nabi, karena semua adalah utusan Allah yang mulia. Beliau juga mengabarkan tentang peristiwa besar hari kiamat, yaitu tiupan sangkakala, dan kedudukan mulia Nabi Musa yang memegang 'Arsy.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan (Al-Fadhail), Bab "Keutamaan Musa 'alaihis salam", no. 2373, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ

"Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya." (QS. Al-Baqarah [2]: 285)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membeda-bedakan keimanan kepada para rasul, dan ini sejalan dengan larangan dalam hadits di atas.

Hadits terkait:

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تُخَيِّرُوا بَيْنَ الْأَنْبِيَاءِ

"Janganlah kalian melebihkan sebagian nabi atas sebagian yang lain." (HR. Al-Bukhari, dari Abu Hurairah)

Kaitan dengan ulama:

Para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan dalam hadits ini adalah larangan untuk membanding-bandingkan para Nabi dengan cara yang bisa menimbulkan perselisihan atau merendahkan salah satu di antara mereka. Adapun jika seseorang meyakini keutamaan sebagian Nabi atas sebagian yang lain berdasarkan dalil yang shahih, seperti keutamaan Nabi Muhammad ﷺ, maka hal itu diperbolehkan selama tidak merendahkan yang lain.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

1. Adab dalam Berbicara tentang Para Nabi

Rasulullah ﷺ melarang para sahabatnya untuk saling melebihkan para Nabi. Ini bukan berarti semua Nabi sama derajatnya di sisi Allah, karena Allah sendiri berfirman:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

"Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain." (QS. Al-Baqarah [2]: 253)

Namun, larangan ini adalah larangan adab, yaitu agar tidak terjadi perdebatan dan perpecahan. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini bersifat adab, bukan berarti menghapus keutamaan yang telah Allah tetapkan. Seorang muslim boleh meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia paling mulia, tetapi tidak boleh merendahkan Nabi lainnya.

2. Kisah Sahabat yang Menampar Yahudi

Dalam hadits ini, seorang Yahudi berkata, "Demi Allah yang telah memilih Musa di atas seluruh manusia." Ini adalah perkataan yang benar secara umum, karena Nabi Musa memang termasuk rasul yang mulia. Namun, seorang sahabat Anshar merasa keberatan karena saat itu Rasulullah ﷺ masih hidup di tengah-tengah mereka. Beliau merasa perkataan itu seolah-olah merendahkan kedudukan Nabi Muhammad ﷺ.

Sahabat ini bertindak dengan menampar wajah si Yahudi. Ini adalah tindakan yang keliru, karena meskipun niatnya membela kehormatan Nabi ﷺ, cara yang dilakukan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Karena itulah Rasulullah ﷺ menegur sahabat tersebut dan menjelaskan adab yang benar.

3. Penjelasan tentang Tiupan Sangkakala

Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan tentang peristiwa besar di hari kiamat. Beliau bersabda bahwa ketika sangkakala ditiup, semua makhluk di langit dan bumi akan pingsan (mati), kecuali yang Allah kehendaki. Kemudian ditiup lagi, dan beliau akan menjadi orang pertama yang dibangkitkan.

Saat itu, beliau melihat Nabi Musa 'alaihis salam sedang memegang 'Arsy. Beliau tidak tahu apakah itu karena Nabi Musa telah dihisab dengan pingsannya di bukit Thursina (ketika Allah menampakkan diri dan Musa jatuh pingsan), atau karena beliau dibangkitkan sebelum Nabi Muhammad ﷺ.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah kabar ghaib yang harus kita imani tanpa mempertanyakannya. Ini menunjukkan kedudukan Nabi Musa yang sangat mulia di sisi Allah.

4. Larangan Mengatakan "Yunus Lebih Baik"

Di akhir hadits, Rasulullah ﷺ bersabda, "Dan aku tidak mengatakan bahwa ada seseorang yang lebih baik dari Yunus bin Matta." Ini adalah bentuk tawadhu' beliau dan juga pelajaran bahwa kita tidak boleh membanding-bandingkan para Nabi.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk tidak sibuk membandingkan keutamaan para Nabi, karena hal itu tidak membawa manfaat dan bisa menimbulkan fitnah. Yang penting adalah kita beriman kepada mereka semua dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi terakhir.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal tentang adab seorang muslim dalam menghadapi perbedaan. Suatu ketika, beliau ditanya tentang seseorang yang berkata, "Musa lebih utama daripada Muhammad." Imam Ahmad menjawab dengan tegas bahwa ini adalah perkataan yang keliru, karena Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia paling mulia. Namun, beliau juga mengajarkan agar kita tidak sibuk berdebat tentang hal ini, karena yang terpenting adalah mengikuti sunnah beliau.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa para ulama salaf sangat menjaga adab dalam berbicara tentang para Nabi. Mereka tidak membiarkan perkataan yang merendahkan salah satu Nabi, tetapi juga tidak berlebihan dalam merespons hingga keluar dari adab Islam.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan membanding-bandingkan para Nabi dengan cara yang bisa menimbulkan perselisihan atau merendahkan salah satu di antara mereka.
  2. Jaga adab dalam berdakwah dan menasihati — teguran yang benar tidak boleh dilakukan dengan cara yang salah, seperti menampar atau menyakiti orang lain.
  3. Imani kabar ghaib tentang tiupan sangkakala dan peristiwa hari kiamat sebagaimana diberitakan Rasulullah ﷺ.
  4. Tawadhu' dalam berbicara — jangan mudah mengklaim seseorang lebih baik dari yang lain tanpa ilmu yang benar.
  5. Fokus pada ibadah dan ketaatan, bukan sibuk berdebat tentang hal-hal yang tidak membawa manfaat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.