Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta dalam perkara yang sesungguhnya, kecuali tiga ucapan yang secara lahir tampak seperti dusta namun sebenarnya mengandung pembenaran (ta'wil) yang benar: dua ucapan untuk menegakkan kalimat Allah, dan satu ucapan untuk melindungi kehormatan istrinya, Sarah. Para ulama menjelaskan bahwa ini bukan dusta hakiki, melainkan cara penyampaian yang dibenarkan dalam keadaan darurat untuk menjaga agama dan kehormatan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
Firman Allah tentang ucapan Nabi Ibrahim عليه السلام:
إِنِّي سَقِيمٌ
"Sesungguhnya aku sakit." (QS. Ash-Shaffat [37]: 89)
Firman Allah tentang ucapan Nabi Ibrahim عليه السلام kepada kaumnya:
بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِن كَانُوا يَنطِقُونَ
"Sebenarnya yang melakukannya adalah yang besar di antara mereka ini, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara." (QS. Al-Anbiya' [21]: 63)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan (Fadha'il), Bab Keutamaan Ibrahim Al-Khalil, nomor 2371, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Muhammad bin Sirin dari Ayyub as-Sakhtiyani.
Kaitan dengan ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna hadits ini secara panjang lebar. Ibnu Hajar al-Asqalani juga membahasnya dalam Fathul Bari. Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya terkait ayat-ayat yang berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Nabi Ibrahim عليه السلام — kekasih Allah (Khalilullah) — tidak pernah mengucapkan sesuatu yang tampak seperti dusta kecuali dalam tiga kesempatan. Para ulama menjelaskan bahwa ketiga ucapan ini bukanlah dusta dalam hakikatnya, karena:
Pertama: Ucapan "إِنِّي سَقِيمٌ" (Sesungguhnya aku sakit). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim عليه السلام mengucapkan ini ketika kaumnya mengajaknya keluar untuk menghadiri perayaan mereka. Beliau bermaksud bahwa dirinya "sakit" dalam makna lemah atau tidak mampu keluar bersama mereka, atau beliau memang sedang dalam keadaan tidak sehat saat itu. Sebagian ulama seperti Qatadah menyebutkan bahwa beliau memang benar-benar sakit pada waktu itu. Jadi ini bukan dusta, melainkan ucapan yang memiliki dasar kebenaran.
Kedua: Ucapan "بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا" (Sebenarnya yang melakukannya adalah yang besar di antara mereka ini). Ini diucapkan Nabi Ibrahim عليه السلام setelah beliau menghancurkan berhala-berhala kaumnya dan menyisakan yang terbesar. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah bentuk ta'ridh (sindiran) dan ihtijaj (argumentasi), bukan dusta. Maksud beliau: jika berhala besar itu benar-benar tuhan yang bisa berbicara, maka tanyakanlah siapa yang menghancurkan yang lain. Ini adalah cara untuk membuktikan kebodohan mereka.
Ketiga: Ucapan kepada Sarah bahwa dirinya adalah "saudara" Nabi Ibrahim عليه السلام. Ini adalah tauriyah (menggunakan kata bermakna ganda) yang dibenarkan, karena Sarah memang saudaranya dalam Islam. Nabi Ibrahim عليه السلام berkata: "Engkau adalah saudariku dalam Islam, karena tidak ada Muslim di bumi ini selain aku dan engkau."
Bagaimana ulama memahami dan menerapkannya:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, di mana Allah menjaga beliau dari dusta yang sesungguhnya. Ketiga ucapan tersebut semuanya mengandung pembenaran syar'i:
- Ucapan pertama dan kedua adalah untuk menegakkan agama Allah dan membantah kesyirikan.
- Ucapan ketiga adalah untuk melindungi kehormatan dan keselamatan istri beliau dari tangan penguasa zalim.
Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa dalam syariat, ada keadaan-keadaan darurat di mana seseorang dibolehkan menggunakan kata-kata yang mengandung makna ganda (tauriyah) untuk menghindari kezaliman, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim: "Tidaklah disebut pendusta orang yang mendamaikan antara manusia, lalu ia menyampaikan kebaikan atau mengatakan kebaikan."
Kisah Sarah dan raja zalim:
Dalam hadits ini, Nabi Ibrahim عليه السلام datang ke tanah seorang raja zalim bersama Sarah. Beliau khawatir raja itu akan mengambil Sarah jika mengetahui bahwa ia adalah istrinya. Maka beliau memerintahkan Sarah untuk mengatakan bahwa ia adalah saudara Nabi Ibrahim. Ketika raja zalim itu mencoba menyentuh Sarah, tangannya terikat (tidak bisa bergerak). Ini terjadi tiga kali, dan setiap kali Sarah berdoa kepada Allah, tangannya dibebaskan. Akhirnya raja itu menyadari bahwa ini bukan manusia biasa, melainkan ada perlindungan Allah. Ia pun membebaskan Sarah dan memberinya Hajar (yang kemudian menjadi istri Nabi Ibrahim dan ibu dari Nabi Ismail عليه السلام).
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah ketiga ucapan ini benar-benar "dusta" secara bahasa atau hanya secara lahir. Namun kesimpulan yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnu Katsir — adalah bahwa ketiga ucapan tersebut tidak termasuk dusta yang tercela, karena semuanya mengandung pembenaran yang benar dan tujuan yang mulia. Bahkan Nabi Ibrahim عليه السلام adalah orang yang paling menjaga kejujuran, sebagaimana Allah memujinya dalam Al-Qur'an sebagai shiddiqan nabiyyan (orang yang sangat jujur dan seorang nabi).
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Nabi Ibrahim عليه السلام dan Sarah memasuki wilayah seorang raja zalim, beliau berdoa dan berserah diri kepada Allah. Ketika raja itu mencoba menyentuh Sarah, tangannya langsung terikat kaku. Raja itu terkejut dan memohon kepada Sarah agar berdoa kepada Allah untuk melepaskan tangannya. Sarah pun berdoa, dan tangannya terbebas. Namun raja itu mengulangi perbuatannya, dan tangannya terikat lebih kuat lagi. Ini terjadi hingga tiga kali. Akhirnya raja itu sadar dan berkata kepada pembantunya: "Engkau telah membawakan kepadaku setan, bukan manusia. Keluarkan mereka dari tanahku!" Ia pun memberikan Hajar sebagai hadiah kepada Sarah.
Ketika Sarah kembali kepada Nabi Ibrahim عليه السلام, beliau bertanya: "Bagaimana keadaanmu?" Sarah menjawab: "Baik. Allah telah menahan tangan orang fasik itu, dan Dia memberiku seorang pelayan." Abu Hurairah رضي الله عنه kemudian berkata: "Wahai anak-anak air langit (yakni orang Arab), dia (Hajar) adalah ibumu."
Hikmah dari kisah ini: Allah melindungi hamba-Nya yang bertakwa, bahkan ketika mereka berada dalam keadaan yang tampak tidak berdaya. Nabi Ibrahim عليه السلام mengajarkan kepada kita untuk berserah diri kepada Allah dan menggunakan cara yang dibenarkan untuk melindungi kehormatan.
Kesimpulan Praktis
- Jujur adalah sifat para nabi. Nabi Ibrahim عليه السلام adalah teladan dalam kejujuran, dan ketiga ucapan yang disebutkan bukanlah dusta hakiki, melainkan tauriyah yang dibenarkan dalam keadaan darurat.
- Boleh menggunakan kata-kata bermakna ganda (tauriyah) untuk menghindari kezaliman atau untuk mendamaikan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar.
- Allah melindungi hamba-Nya yang bertakwa. Kisah Sarah menunjukkan bahwa Allah memiliki kekuasaan mutlak untuk melindungi orang-orang yang beriman, bahkan dari tangan penguasa yang zalim.
- Menjaga kehormatan adalah bagian dari agama. Nabi Ibrahim عليه السلام berusaha sekuat mungkin melindungi istrinya, dan ini menunjukkan pentingnya menjaga kehormatan keluarga.
- Tawakkal kepada Allah adalah kunci pertolongan. Nabi Ibrahim عليه السلام berdiri shalat dan berdoa ketika dalam bahaya, menunjukkan bahwa doa dan shalat adalah senjata utama seorang mukmin.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.