Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan sahabat Abdullah bin Sarjis radhiyallahu 'anhu yang makan bersama Nabi ﷺ, lalu beliau menegaskan bahwa Nabi ﷺ juga memohon ampun untuk para sahabat, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya dan kewajiban kita mencintai serta mengikuti beliau. Hadits ini juga menegaskan adanya tanda kenabian (khatamun nubuwwah) di antara kedua bahu beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Muhammad [47]: 19
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
"Dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fadha'il, Bab Itsbat Sifat Nabi ﷺ wa Makanihi min Badanihi. Perawi sahabat: Abdullah bin Sarjis radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan istighfar Nabi ﷺ untuk umatnya, dan bahwa beliau adalah pemberi syafaat serta pendoa bagi kaum mukminin.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa khatamun nubuwwah adalah tanda kenabian yang nyata, dan para sahabat melihatnya sebagai bukti kerasulan.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. Muhammad [47]: 19 menjelaskan bahwa Allah memerintahkan Nabi ﷺ beristighfar untuk dirinya dan umatnya, sebagai bentuk kasih sayang dan syafaat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya.
Ketika Abdullah bin Sarjis bertanya, "Apakah Nabi ﷺ memohon ampun untukmu?" beliau menjawab, "Ya, dan untukmu." Lalu beliau membacakan QS. Muhammad [47]: 19. Ini menunjukkan bahwa istighfar Nabi ﷺ mencakup seluruh mukminin, bukan hanya dirinya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah bentuk syafaat dan doa beliau untuk umatnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa Nabi ﷺ adalah pendoa dan pemberi syafaat bagi umatnya.
2. Kewajiban mencintai dan mengikuti Nabi ﷺ.
Makan bersama beliau adalah bukti kedekatan sahabat dengan Nabi ﷺ. Ini mengajarkan kita untuk mencintai sunnah beliau, baik dalam ibadah maupun muamalah, termasuk adab makan.
3. Khatamun nubuwwah (Segel Kenabian).
Abdullah bin Sarjis melihat tanda kenabian di antara kedua bahu Nabi ﷺ, di sisi kiri, dengan bercak-bercak seperti tahi lalat. Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini adalah tanda kerasulan yang nyata, dan para sahabat melihatnya sebagai bukti kebenaran Nabi ﷺ. Ini juga disebutkan dalam hadits-hadits lain, seperti hadits Jabir bin Samurah dan lainnya.
4. Istighfar Nabi ﷺ untuk umatnya.
Ayat yang dibaca Nabi ﷺ menunjukkan bahwa beliau diperintahkan Allah untuk beristighfar untuk dirinya dan umatnya. Ini menunjukkan bahwa istighfar beliau adalah ibadah dan syafaat, bukan karena beliau memiliki dosa, tetapi sebagai bentuk pengajaran dan kasih sayang.
Perbedaan pendapat ulama:
Sebagian ulama menjelaskan bahwa istighfar Nabi ﷺ untuk umatnya adalah bagian dari syafaat beliau di akhirat. Imam an-Nawawi dan Ibn Katsir sepakat bahwa ini adalah bentuk doa dan kasih sayang, bukan berarti Nabi ﷺ memiliki dosa. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa istighfar beliau adalah ibadah dan syafaat, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih.
Story Telling
Suatu hari, Abdullah bin Sarjis radhiyallahu 'anhu sedang makan bersama Rasulullah ﷺ. Mereka makan roti dan daging, atau mungkin tharid (roti yang direndam sup). Dalam suasana penuh keakraban itu, Abdullah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau memohon ampun untukku?" Nabi ﷺ menjawab dengan lembut, "Ya, dan untukmu." Lalu beliau membacakan ayat, "Dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan."
Setelah itu, Abdullah mengikuti Nabi ﷺ dari belakang dan melihat tanda kenabian di antara kedua bahu beliau, di sisi kiri, dengan bercak-bercak seperti tahi lalat. Ini adalah bukti nyata kerasulan beliau, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab sebelumnya.
Hikmahnya: Nabi ﷺ tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga umatnya. Beliau mendoakan kita, memohon ampun untuk kita, dan menunjukkan kasih sayang yang luar biasa. Maka sudah sepantasnya kita mencintai beliau, mengikuti sunnahnya, dan memperbanyak istighfar untuk diri sendiri dan kaum mukminin.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak istighfar untuk diri sendiri dan kaum mukminin, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan.
- Cintai Nabi ﷺ dengan mengikuti sunnahnya dalam ibadah dan muamalah, termasuk adab makan.
- Yakinlah pada kenabian beliau dengan mengenal tanda-tanda kenabian yang disebutkan dalam hadits shahih.
- Tawadhu dan lembut dalam berdakwah, sebagaimana Nabi ﷺ menjawab pertanyaan sahabat dengan penuh kasih sayang.
- Jauhi ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Nabi ﷺ, cukup dengan mengikuti sunnah dan menjauhi larangan beliau.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.