Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2323 tentang Perintah lembut kepada wanita dalam perjalanan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kasih sayang dan kelembutan Nabi ﷺ terhadap wanita. Beliau ﷺ melarang seorang penggembala unta bernama Anjasyah memacu unta terlalu cepat karena di atasnya ada para wanita yang beliau ibaratkan sebagai “barang kaca” yang mudah pecah. Ini menunjukkan bahwa wanita harus diperlakukan dengan lembut, baik dalam perjalanan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

---

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an

QS. Ali ‘Imran [3]: 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka berkat rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Ayat ini menegaskan perintah Allah kepada Nabi ﷺ untuk bersikap lembut, dan hal itu menjadi teladan bagi seluruh umat.

Hadits

Shahih Muslim, Kitab Keutamaan, Bab Kasih Sayang Nabi ﷺ Terhadap Wanita dan Perintah untuk Mengendalikan Kendaraan dengan Lembut, no. 2323.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

> كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ وَغُلاَمٌ أَسْوَدُ يُقَالُ لَهُ أَنْجَشَةُ يَحْدُو فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ‏"‏ يَا أَنْجَشَةُ رُوَيْدَكَ سَوْقًا بِالْقَوَارِيرِ ‏"‏.

“Rasulullah ﷺ dalam salah satu perjalanannya memiliki seorang budak hitam yang dipanggil Anjasyah. Ia memacu unta sambil bernyanyi. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Wahai Anjasyah, pelan-pelanlah! Kamu sedang membawa barang-barang kaca.’”

Penjelasan Ulama

  • Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (jilid 15, hlm. 87) mengatakan: “Yang dimaksud dengan al-qawarir (barang kaca) adalah wanita. Karena wanita itu lembut dan mudah terluka hatinya, seperti kaca. Maka Nabi ﷺ melarang memacu unta terlalu cepat karena dikhawatirkan mereka terjatuh atau tidak nyaman.”
  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari (10/460) menjelaskan hadits serupa riwayat Bukhari: “Ruwaidaka sauqan bil qawarir artinya: ‘Pelan-pelanlah dalam mengemudi, karena mereka (wanita) adalah makhluk yang lemah.’ Ini menunjukkan perintah untuk bersikap lembut kepada mereka.”

---

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang lama melayani Nabi ﷺ. Dalam suatu perjalanan, Nabi ﷺ bersama para sahabat dan beberapa wanita. Seorang budak hitam bernama Anjasyah bertugas menggiring unta. Ia pandai bernyanyi dan memacu unta dengan nyanyiannya sehingga unta berlari kencang. Melihat hal itu, Nabi ﷺ segera menegurnya dengan penuh kasih sayang: “Wahai Anjasyah, pelan-pelanlah! Kamu sedang membawa barang-barang kaca.”

Maksud “barang kaca” di sini adalah para wanita. Kaca adalah benda yang indah, berharga, dan mudah pecah jika diperlakukan kasar. Demikian pula wanita, mereka lembut fisik dan perasaannya. Maka seorang muslim diperintahkan untuk bersikap lemah lembut terhadap mereka, terutama dalam situasi yang bisa membahayakan atau menyulitkan.

Pelajaran dari para ulama:

  1. Imam an-Nawawi menekankan bahwa kelembutan ini adalah bagian dari akhlak kenabian. Beliau ﷺ tidak langsung marah atau menghardik, melainkan memberi nasihat dengan kata-kata yang halus dan perumpamaan yang mudah dipahami.
  2. Ibnu Hajar mengaitkannya dengan prinsip ar-rifq (kelembutan) yang selalu menjadi ciri Nabi ﷺ. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini mencakup cara berbicara, bertindak, dan mengatur segala urusan yang melibatkan kaum wanita.
  3. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (w. 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kelembutan adalah buah dari rahmat Allah. Barang siapa yang dianugerahi kelembutan, maka ia akan dicintai Allah dan manusia.

Hadits ini juga menjadi dalil bahwa wanita perlu dilindungi dan diperhatikan dalam perjalanan. Tidak boleh memacu kendaraan dengan keras jika di dalamnya ada wanita atau anak-anak. Bahkan dalam konteks modern, ini bisa diterapkan pada saat mengemudi kendaraan—jangan ngebut, rem mendadak, atau bermanuver kasar yang membuat tidak nyaman.

---

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, bahwa pada suatu hari Nabi ﷺ sedang dalam perjalanan pulang dari suatu peperangan atau safar. Di antara rombongan terdapat para wanita yang ikut serta, mungkin istri atau kerabat. Anjasyah, seorang budak hitam yang ceria, mulai bernyanyi dan memacu unta dengan semangat. Unta pun berlari kencang. Para wanita di atas punggung unta mulai terhuyung-huyung dan khawatir.

Maka Nabi ﷺ yang selalu peka terhadap perasaan orang lain, bersabda dengan suara lembut: “Yā Anjasyah, ruwaidaka sauqan bil qawārīr!” — “Wahai Anjasyah, pelan-pelanlah dengan barang pecah belah!” Anjasyah pun segera mengerti dan memperlambat langkah unta.

Kisah ini menunjukkan betapa tingginya akhlak Nabi ﷺ. Beliau tidak hanya mengatur urusan besar, tetapi juga memperhatikan hal-hal kecil yang berhubungan dengan kenyamanan orang lain, terutama kaum wanita. Hikmahnya: setiap muslim hendaknya meneladani kelembutan ini dalam rumah tangga, pergaulan, dan bahkan dalam mengemudi.

---

Kesimpulan Praktis

  1. Bersikap lembut terhadap wanita dalam setiap keadaan, baik di rumah, di jalan, maupun di tempat umum. Jangan berkata kasar atau bertindak keras.
  2. Menjaga kenyamanan dalam perjalanan – jika membawa wanita, anak-anak, atau orang tua, kendarai kendaraan dengan pelan dan hati-hati.
  3. Menggunakan perumpamaan yang baik ketika menasihati, sebagaimana Nabi ﷺ menggunakan ibarat “barang kaca” agar mudah dipahami.

4.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.