Penjelasan Hadits Muslim No. 2317 tentang Kasih sayang Rasulullah kepada anak-anak dan keluarga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa kasih sayang, termasuk mencium anak, adalah bagian dari rahmat yang Allah tanamkan di hati hamba-Nya. Orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang kepada anaknya, berarti Allah telah mencabut rahmat dari hatinya. Ini adalah teguran lembut dari Nabi ﷺ kepada sekelompok orang Badui yang membanggakan diri karena tidak mencium anak-anak mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan, Bab Kasih Sayang Rasulullah ﷺ kepada Anak-Anak dan Keluarga, no. 2317, dari Aisyah radhiyallahu 'anha.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."

(QS. Al-Anbiya' [21]: 107)

Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ diutus dengan membawa rahmat, dan kasih sayang beliau kepada anak-anak adalah bagian dari rahmat tersebut.

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mencium anak karena kasih sayang, dan ini adalah perbuatan yang terpuji. Beliau juga menukil bahwa para ulama sepakat tentang sunnahnya mencium anak sebagai wujud kasih sayang.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan sebuah peristiwa ketika sekelompok orang Arab Badui datang kepada Rasulullah ﷺ. Mereka heran melihat para sahabat mencium anak-anak mereka. Dalam budaya mereka, mencium anak dianggap sebagai kelemahan atau sesuatu yang tidak pantas bagi laki-laki yang keras.

Maka mereka bertanya: "Apakah kalian mencium anak-anak kalian?" Para sahabat menjawab: "Ya." Kemudian orang-orang Badui itu berkata dengan bangga: "Demi Allah, tetapi kami tidak mencium anak-anak kami."

Maka Rasulullah ﷺ menjawab dengan jawaban yang sangat dalam maknanya: "Lalu apa yang bisa aku lakukan jika Allah telah mencabut rahmat dari kalian?" Dalam riwayat Ibn Numair disebutkan: "Dari hatimu rahmat."

Pemahaman Ulama:

  1. Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mencium anak karena kasih sayang, dan ini adalah perbuatan yang terpuji. Beliau juga menukil bahwa para ulama sepakat tentang sunnahnya mencium anak sebagai wujud kasih sayang.
  2. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari ketika membahas hadits serupa dalam Shahih Bukhari menjelaskan bahwa mencium anak adalah bentuk kasih sayang yang dianjurkan, dan ini termasuk akhlak para nabi.
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (wafat 1421 H) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa rahmat dan kasih sayang adalah karunia dari Allah. Barangsiapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang kepada anaknya, maka itu adalah kekurangan dari sisi keimanan dan kemanusiaannya.
  4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (wafat 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa rahmat adalah sifat yang Allah tanamkan di hati hamba-hamba-Nya, dan kasih sayang kepada anak adalah bagian dari rahmat tersebut.

Pelajaran Penting dari Hadits Ini:

  1. Kasih sayang adalah karunia Allah - Rasa sayang kepada anak bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan atau diremehkan. Ia adalah anugerah dari Allah.
  2. Mencium anak adalah sunnah - Rasulullah ﷺ sendiri mencium cucunya, dan para sahabat melakukannya. Ini bukan perbuatan yang mengurangi kehormatan seorang laki-laki.
  3. Teguran yang lembut - Nabi ﷺ tidak marah atau menghardik, tetapi menegur dengan cara yang bijaksana, yaitu dengan menjelaskan bahwa tidak adanya rasa sayang itu adalah kekurangan, bukan kelebihan.
  4. Rahmat adalah sifat Allah - Allah disebut Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Maka hamba-Nya yang beriman seharusnya meneladani sifat rahmat ini dalam kehidupan sehari-hari.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ mencium Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma di hadapan para sahabat. Saat itu, Al-Aqra' bin Habis at-Tamimi sedang berada di sisi beliau. Al-Aqra' berkata: "Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, dan aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka."

Maka Rasulullah ﷺ memandangnya dan bersabda: "Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi." (HR. Bukhari no. 5997 dan Muslim no. 2318)

Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya kasih sayang dalam Islam. Bahkan kepada anak-anak yang masih kecil, Nabi ﷺ memberikan perhatian dan kasih sayang yang besar. Beliau tidak pernah menganggap bahwa mencium anak adalah perbuatan yang mengurangi kejantanan atau kehormatan seseorang.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa rahmat adalah sebab seseorang mendapatkan rahmat Allah. Barangsiapa yang menyayangi makhluk Allah, maka Allah akan menyayanginya.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan mencium dan memeluk anak-anak kita sebagai wujud kasih sayang, karena ini adalah sunnah Nabi ﷺ.
  2. Jangan pernah membanggakan diri karena tidak memiliki kelembutan atau kasih sayang, karena itu justru tanda tercabutnya rahmat dari hati.
  3. Teladani sifat rahmat Allah dalam kehidupan sehari-hari, baik kepada keluarga, tetangga, maupun sesama muslim.
  4. Didik anak dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan atau kekakuan, karena kasih sayang adalah kunci keberhasilan pendidikan anak.
  5. Jadikan kasih sayang sebagai ibadah, karena dengan menyayangi makhluk Allah, kita berharap mendapatkan rahmat-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?