Penjelasan Hadits Muslim No. 2315 tentang Kasih sayang Nabi pada anak dan keluarga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan kelembutan hati Rasulullah ﷺ, kasih sayang beliau kepada anak dan keluarga, serta kesederhanaan beliau dalam kehidupan. Ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal, beliau menangis, namun tetap menjaga adab kepada Allah dengan tidak mengucapkan sesuatu yang tidak diridhai-Nya. Menangis karena kasih sayang bukanlah tanda ketidaksabaran, melainkan rahmat yang Allah letakkan di hati hamba-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fadha'il (Keutamaan), Bab Kasih Sayang Rasulullah ﷺ kepada Anak-Anak dan Keluarga serta Kesederhanaan dan Keutamaan Itu, nomor 2315, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang relevan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ»

Terjemahan: "Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Malam ini telah lahir untukku seorang anak laki-laki, dan aku menamakannya dengan nama ayahku, Ibrahim.'"

Dan sabda beliau saat Ibrahim meninggal:

«تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَاللَّهِ يَا إِبْرَاهِيمُ إِنَّا بِكَ لَمَحْزُونُونَ»

Terjemahan: "Mata ini menangis, hati ini bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Rabb kami. Demi Allah, wahai Ibrahim, sungguh kami bersedih karena kepergianmu."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kasih sayang dan rahmat:

QS. Al-Anbiya' [21]: 107

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Terjemahan: "Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."

QS. Ali 'Imran [3]: 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Terjemahan: "Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu."

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah:

Pertama: Kasih sayang Nabi ﷺ kepada anak dan keluarga.

Nabi ﷺ menamai putranya dengan nama ayah beliau, Ibrahim 'alaihissalam, sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan. Beliau juga menyerahkan anaknya kepada Umm Saif, istri Abu Saif, seorang pandai besi, untuk disusui. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak merasa gengsi atau menjauh dari kehidupan sederhana. Beliau mendatangi rumah Abu Saif yang penuh asap dari tiupan api pandai besi, demi melihat anaknya. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan menziarahi anak dan keluarga, serta bolehnya menyerahkan anak kepada wanita lain untuk disusui jika ada kebutuhan.

Kedua: Kesederhanaan Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ sebagai pemimpin umat dan rasul Allah tetap mau masuk ke rumah seorang pandai besi yang penuh asap dan debu. Ini menunjukkan kerendahan hati dan kesederhanaan beliau. Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini merupakan contoh tawadhu' (kerendahan hati) yang patut diteladani.

Ketiga: Menangis karena kasih sayang bukanlah tanda ketidaksabaran.

Ketika Ibrahim meninggal, Nabi ﷺ menangis. Beliau bersabda: "Mata ini menangis dan hati ini bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Rabb kami." Ini menunjukkan bahwa menangis karena kasih sayang adalah fitrah manusia dan bukanlah dosa, selama tidak disertai ratapan atau ucapan yang tidak diridhai Allah. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa tangisan Nabi ﷺ adalah tangisan rahmat, bukan tangisan keluhan. Beliau menangis karena kehilangan, namun hatinya tetap ridha kepada ketentuan Allah.

Keempat: Adab dalam musibah.

Nabi ﷺ mengajarkan bahwa dalam musibah, seorang mukmin boleh bersedih dan menangis, tetapi harus menjaga lisan dan hati dari ucapan yang tidak diridhai Allah. Ini sejalan dengan sabda beliau dalam hadits lain yang shahih: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan harta kalian, tetapi melihat kepada hati dan amal kalian" (HR. Muslim). Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan untuk bersabar dalam musibah dengan tidak mengucapkan kata-kata yang menunjukkan ketidakridhaan.

Kelima: Kasih sayang kepada anak sebagai rahmat.

Nabi ﷺ pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang" (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain, beliau mencium cucunya Hasan bin Ali di depan Al-Aqra' bin Habis, yang kemudian berkata: "Aku memiliki sepuluh anak, tetapi aku tidak pernah mencium satu pun dari mereka." Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi" (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa kasih sayang kepada anak adalah bagian dari ajaran Islam.

Story Telling

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menceritakan kisah ini dengan sangat detail. Beliau mengikuti Nabi ﷺ yang berjalan menuju rumah Abu Saif, seorang pandai besi. Rumah itu penuh dengan asap dari tiupan api. Anas mempercepat langkahnya untuk memberi tahu Abu Saif agar berhenti bekerja karena Rasulullah ﷺ datang. Abu Saif pun menghentikan pekerjaannya, dan Nabi ﷺ memanggil anaknya, Ibrahim, lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang.

Anas berkata: "Aku melihat anak itu menghembuskan nafas terakhirnya di hadapan Rasulullah ﷺ." Mata Nabi ﷺ pun mengeluarkan air mata. Beliau bersabda: "Mata ini menangis dan hati ini bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Rabb kami. Demi Allah, wahai Ibrahim, kami sangat berduka untukmu."

Kisah ini menggambarkan betapa besar kasih sayang Nabi ﷺ kepada anaknya, namun juga betapa dalam ketaatan beliau kepada Allah. Beliau tidak mengucapkan kata-kata yang menunjukkan protes atau ketidakridhaan, melainkan menyerahkan semuanya kepada Allah. Ini adalah teladan bagi setiap mukmin dalam menghadapi musibah kehilangan orang tercinta.

Kesimpulan Praktis

  1. Teladani kasih sayang Nabi ﷺ kepada anak dan keluarga, karena kasih sayang adalah bagian dari ajaran Islam.
  2. Jaga kesederhanaan dalam hidup, tidak merasa gengsi untuk bergaul dengan semua lapisan masyarakat.
  3. Boleh menangis saat musibah, tetapi jaga lisan dan hati dari ucapan yang tidak diridhai Allah.
  4. Ridha kepada ketentuan Allah adalah kunci ketenangan hati dalam menghadapi musibah.
  5. Didiklah anak dengan kasih sayang, karena Nabi ﷺ mencontohkan hal itu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?