Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang kasih sayang Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Jika Allah menghendaki kebaikan dan rahmat bagi suatu umat, Dia akan mewafatkan Nabi mereka terlebih dahulu sebagai "pembuka jalan" dan teladan yang telah meraih kemuliaan di sisi-Nya. Sebaliknya, jika Allah menghendaki kehancuran suatu umat, maka azab ditimpakan kepada mereka ketika Nabi mereka masih hidup, sehingga Nabi tersebut menyaksikan sendiri bagaimana kaumnya yang mendustakan itu dibinasakan, sebagai penghiburan baginya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan (Fadhail), Bab "Jika Allah Menghendaki Rahmat untuk Suatu Ummah, Dia Memanggil Kembali Nabi-Nya Sebelum Mereka", no. 2288, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dengan sanad dan matan. Berikut terjemahan maknanya:
"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla apabila menghendaki rahmat bagi suatu umat dari hamba-hamba-Nya, Dia mewafatkan Nabi mereka sebelum umat tersebut (dibinasakan), lalu menjadikan Nabi itu sebagai pendahulu dan teladan di hadapan mereka. Dan apabila Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia mengazab mereka sedangkan Nabi mereka masih hidup, lalu membinasakan umat tersebut sementara Nabi-Nya menyaksikannya. Maka Allah menyejukkan mata Nabi-Nya dengan kebinasaan mereka ketika mereka mendustakan dan menentang perintahnya."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dengan redaksi yang serupa.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua pelajaran besar:
Pertama, rahmat Allah kepada umat yang beriman. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "Allah menjadikan Nabinya sebagai farath (pendahulu) dan salaf (teladan)" adalah bahwa Nabi tersebut diwafatkan sebelum umatnya ditimpa musibah atau sebelum mereka dipanggil ke akhirat, sehingga beliau ﷺ menjadi pendahulu yang menyiapkan tempat dan syafaat bagi umatnya di akhirat. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah, karena dengan wafatnya Nabi, umatnya tidak akan menyaksikan kehancuran, dan Nabi pun telah menyelesaikan tugasnya menyampaikan risalah.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa wafatnya para Nabi bagi umatnya adalah rahmat, karena mereka telah meninggalkan warisan ilmu dan petunjuk yang akan terus mengalir manfaatnya. Umat yang mengikuti petunjuk Nabi tidak akan rugi, meskipun Nabi mereka telah tiada.
Kedua, azab bagi umat yang mendustakan. Jika suatu umat telah sampai pada puncak kedurhakaan dan mendustakan Nabi mereka, maka Allah bisa menimpakan azab kepada mereka ketika Nabi masih hidup. Ini terjadi pada umat-umat terdahulu seperti kaum 'Ad, Tsamud, dan lainnya. Allah menyejukkan mata Nabi-Nya dengan menyaksikan kehancuran orang-orang yang mendustakan, sebagai bentuk pembelaan Allah kepada para rasul-Nya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa sunnatullah ini menunjukkan keadilan-Nya: umat yang beriman kepada Nabi dan mengikutinya akan dilindungi, sedangkan umat yang mendustakan akan diazab. Ini juga menjadi pelajaran bahwa kedudukan seorang Nabi di sisi Allah sangat agung, sehingga Allah membela dan menghibur hamba pilihan-Nya.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari ketika membahas hadits-hadits semacam ini menegaskan bahwa wafatnya Rasulullah ﷺ adalah rahmat terbesar bagi umat ini, karena beliau ﷺ telah menyempurnakan agama dan meninggalkan umatnya di atas jalan yang terang.
Story Telling
Dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, beliau meriwayatkan hadits ini. Abu Musa adalah seorang sahabat yang mulia, dikenal dengan suaranya yang merdu dalam membaca Al-Qur'an. Suatu ketika Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, "Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling dari seruling-seruling keluarga Dawud" (HR. Bukhari dan Muslim).
Kisah yang bisa kita renungkan: Ketika Rasulullah ﷺ wafat, para sahabat sangat berduka. Namun Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu sempat tidak percaya hingga Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berdiri dan berkata, "Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati." Lalu beliau membacakan firman Allah: "Muhammad itu hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?" (QS. Ali 'Imran [3]: 144).
Para sahabat memahami bahwa wafatnya Rasulullah ﷺ adalah rahmat, karena beliau telah menyempurnakan risalah. Umat ini tidak akan diazab secara menyeluruh sebagaimana umat terdahulu, karena Rasulullah ﷺ telah berdoa dan Allah menjanjikan bahwa umat ini tidak akan dibinasakan dengan azab yang membinasakan secara menyeluruh selama masih ada orang-orang yang beriman dan beristighfar.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukur atas nikmat Islam dan Sunnah — Kita hidup setelah wafatnya Nabi ﷺ dalam keadaan telah menerima risalah yang sempurna. Ini adalah rahmat terbesar.
- Meneladani Nabi ﷺ — Karena beliau adalah farath (pendahulu) kita di akhirat yang akan memberi syafaat kepada umatnya.
- Menjauhi sebab-sebab kehancuran — Yaitu mendustakan kebenaran dan menentang perintah Allah dan Rasul-Nya.
- Berdoa agar Allah merahmati umat ini — Sebagaimana Nabi ﷺ selalu mendoakan umatnya.
- Meyakini keadilan Allah — Bahwa Allah tidak akan menzhalimi hamba-Nya; setiap umat mendapat balasan sesuai perbuatannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.