Penjelasan Hadits Muslim No. 2280 tentang Mukjizat keberkahan mentega yang tak habis

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan seorang wanita bernama Ummu Malik yang biasa menghadiahkan samin (mentega yang disaring) kepada Nabi ﷺ dalam sebuah wadah kulit kecil. Ketika keluarganya membutuhkan lauk dan tidak ada apa-apa, ia mengambil dari wadah yang ia gunakan untuk menghadiahkan kepada Nabi ﷺ, dan ternyata samin itu terus ada dan mencukupi kebutuhan keluarganya. Ketika ia memeras habis wadah itu, keberkahan itu berhenti. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa jika ia membiarkannya, samin itu akan terus mengalir. Ini adalah salah satu mukjizat (karamah) Nabi ﷺ dan pelajaran tentang keberkahan yang Allah berikan pada sesuatu yang dijaga karena niat baik dan kehormatan terhadap Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Fadha'il (Keutamaan), Bab tentang Mukjizat Nabi ﷺ, nomor 2280. Perawi sahabatnya adalah Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma.

Hadits ini berkaitan dengan tema keberkahan dan mukjizat Nabi ﷺ. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab mukjizat dan tanda-tanda kenabian, di mana Allah menjadikan samin dalam wadah itu terus mengalir sebagai bentuk keberkahan yang dikaitkan dengan Nabi ﷺ.

Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang keberkahan dan mukjizat:

QS. Al-Mu'minun [23]: 14 (bagian akhir):

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Terjemahan: "Kemudian Kami jadikan nutfah itu menjadi 'alaqah (segumpal darah), lalu 'alaqah itu Kami jadikan mudhghah (segumpal daging), lalu mudhghah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Berkat Allah, Pencipta yang paling baik."

Ayat ini menunjukkan bahwa keberkahan adalah milik Allah dan Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, termasuk melalui perantara Nabi-Nya.

QS. Al-Kahfi [18]: 46:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Terjemahan: "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan."

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Mukjizat Nabi ﷺ. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini termasuk dalam bab mukjizat, karena samin yang seharusnya habis justru terus mengalir dan mencukupi kebutuhan rumah tangga Ummu Malik. Ini adalah bentuk karamah yang Allah berikan melalui keberkahan Nabi ﷺ. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa peristiwa semacam ini adalah tanda kenabian yang nyata.

Kedua: Keberkahan berkaitan dengan niat dan kehormatan terhadap Nabi ﷺ. Ummu Malik tidak bermaksud menipu atau mengambil kembali hadiahnya. Ia dalam kondisi darurat karena anak-anaknya meminta lauk sementara tidak ada apa-apa. Ia mengambil dari wadah yang biasa ia gunakan untuk menghadiahkan kepada Nabi ﷺ. Para ulama menjelaskan bahwa keberkahan itu tetap ada karena wadah tersebut memiliki kaitan dengan Nabi ﷺ dan niat baik Ummu Malik.

Ketiga: Sabda Nabi ﷺ "لَوْ تَرَكْتِيهَا مَا زَالَ قَائِمًا" (Jika kamu membiarkannya, ia akan terus ada). Ini menunjukkan bahwa keberkahan itu bersifat tetap selama tidak dirusak oleh perbuatan yang menghilangkannya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah isyarat bahwa berkah itu bisa hilang ketika seseorang tidak menjaga sebab-sebabnya.

Keempat: Perbedaan pendapat ulama. Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa ini adalah mukjizat khusus yang tidak bisa diqiyaskan (dianalogikan) kepada kejadian umum. Sedangkan Imam an-Nawawi menekankan aspek keberkahan dan pelajaran tentang menjaga amanah. Namun keduanya sepakat bahwa ini adalah tanda kenabian yang sahih.

Kelima: Pelajaran tentang amanah dan kejujuran. Ummu Malik datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan apa yang terjadi. Nabi ﷺ tidak marah, tetapi menjelaskan. Ini menunjukkan akhlak Nabi ﷺ yang lembut dan pengajaran yang penuh hikmah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ummu Malik adalah seorang wanita dari kaum Anshar yang dikenal gemar berbuat baik. Ia memiliki kebiasaan mulia: setiap kali ia mendapatkan samin (mentega yang disaring) yang baik, ia menyimpannya dalam sebuah wadah kulit kecil ('ukkah) dan menghadiahkannya kepada Rasulullah ﷺ. Samin itu adalah makanan yang mahal dan bergizi pada masa itu, dan ia ingin memberikan yang terbaik untuk Nabi ﷺ.

Suatu hari, anak-anaknya pulang dalam keadaan lapar. Mereka meminta lauk, tetapi tidak ada apa-apa di rumah. Ummu Malik bingung. Ia teringat wadah yang biasa ia gunakan untuk menghadiahkan samin kepada Nabi ﷺ. Ia membukanya, dan ternyata di dalamnya masih ada samin. Ia pun mengambil sedikit untuk memberi lauk keluarganya. Keesokan harinya, wadah itu masih berisi samin. Ia mengambil lagi. Demikian seterusnya, hingga ia berpikir bahwa samin itu tidak akan habis. Namun karena kebutuhan yang mendesak, ia terus mengambil hingga akhirnya ia memeras habis wadah itu.

Setelah itu, ia datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan kejadian itu. Nabi ﷺ bertanya: "Apakah kamu memerasnya?" Ia menjawab: "Ya." Nabi ﷺ bersabda: "Jika kamu membiarkannya, ia akan terus ada (mengalir) untukmu."

Kisah ini mengingatkan kita pada kisah lain dalam Shahih Muslim tentang keberkahan makanan, seperti kisah Jabir bin Abdullah dalam perang Khandaq, di mana makanan sedikit bisa mencukupi banyak orang karena doa Nabi ﷺ. Para ulama seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa mukjizat-mukjizat Nabi ﷺ adalah bukti kenabian yang tidak terbantahkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Keberkahan datang dari Allah dan bisa dikaitkan dengan orang-orang yang dekat dengan-Nya, terutama Nabi ﷺ. Kita harus meyakini bahwa keberkahan adalah karunia Allah, bukan semata sebab materi.
  2. Jaga amanah dan niat baik. Ummu Malik tidak bermaksud buruk, tetapi ia mengambil dari wadah yang dikhususkan untuk Nabi ﷺ. Meskipun ia dalam kondisi darurat, keberkahan itu tetap ada karena niat baiknya. Namun, ketika ia memeras habis, keberkahan itu berhenti.
  3. Jangan merusak sebab keberkahan. Nabi ﷺ mengisyaratkan bahwa jika wadah itu dibiarkan, samin akan terus mengalir. Ini mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dan menjaga apa yang telah Allah berikan.
  4. Mukjizat Nabi ﷺ adalah bukti kebenaran risalahnya. Kita harus meneladani akhlak Nabi ﷺ yang lembut dan penuh hikmah dalam mengajar.
  5. Hendaklah kita bersyukur dan tidak tamak. Mengambil secukupnya dan menjaga keberkahan lebih baik daripada menghabiskan semuanya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?