Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi setiap muslim. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa jika seorang muslim berwudhu dengan baik dan sempurna, kemudian melaksanakan shalat (waktu), maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kecil yang ia lakukan di antara shalat tersebut dengan shalat sebelumnya. Ini adalah rahmat dan kemudahan dari Allah, yang menunjukkan betapa besarnya keutamaan wudhu dan shalat dalam menghapus dosa-dosa kecil.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Thaharah, Bab Keutamaan Wudhu dan Shalat Setelahnya (no. 227). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 6433) dengan lafaz yang serupa.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu menyebutkan bahwa ada ayat Al-Qur'an yang membuatnya berani menyampaikan hadits ini. Para ulama berpendapat bahwa ayat yang dimaksud adalah firman Allah Ta'ala:
QS. Al-Baqarah [2]: 159
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur'an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang melaknat."
Karena ayat ini, Utsman radhiyallahu 'anhu tidak ingin menyembunyikan ilmu yang ia miliki dari Rasulullah ﷺ, sehingga ia pun menyampaikannya kepada orang-orang.
Hadits Pendukung Lainnya:
Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Shalat lima waktu, dan shalat Jumat ke shalat Jumat berikutnya, adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi." (HR. Muslim no. 233)
Penjelasan Rinci
Makna "Berwudhu dengan Baik" (Fayuhsinul Wudhu):
Para ulama menjelaskan bahwa "berwudhu dengan baik" (إِحْسَانُ الْوُضُوءِ) mencakup beberapa hal:
- Memenuhi Syarat dan Rukun: Membasuh seluruh anggota wudhu yang diperintahkan secara sempurna, tidak ada yang terlewat.
- Menyempurnakan Sunnah-sunnahnya: Seperti bersiwak, berkumur, istinsyaq (menghirup air ke hidung), mendahulukan yang kanan, dan berurutan.
- Menghadirkan Niat dan Keikhlasan: Wudhu dilakukan semata-mata karena Allah, bukan karena riya atau pamer.
- Menghindari Hal yang Makruh: Seperti berlebihan menggunakan air (israf), meskipun di sungai yang mengalir sekalipun.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "shalat" dalam hadits ini adalah shalat fardhu. Adapun maksud "diampuni dosa di antara keduanya" adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar, maka ia membutuhkan taubat yang khusus. Ini juga ditegaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin.
Pandangan Ulama tentang Dosa yang Diampuni:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil ijma' (kesepakatan) ulama bahwa yang dimaksud dengan pengampunan dalam hadits-hadits semacam ini adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar. Dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat yang jujur, atau dengan rahmat Allah yang khusus.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa amalan-amalan ketaatan seperti wudhu dan shalat adalah sebab untuk menghapus dosa-dosa kecil, sebagaimana firman Allah dalam QS. Hud [11]: 114:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk."
Mengapa Utsman Radhiyallahu 'anhu Enggan Menyampaikan?
Utsman radhiyallahu 'anhu adalah seorang yang sangat wara' (hati-hati). Beliau khawatir jika menyampaikan hadits ini, orang-orang akan meremehkan dosa-dosa kecil dan merasa aman, lalu terus-menerus melakukannya dengan alasan akan terhapus oleh wudhu dan shalat. Oleh karena itu, beliau hanya menyampaikannya ketika ada dorongan kuat, yaitu karena perintah Allah untuk tidak menyembunyikan ilmu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa pengampunan dosa ini adalah keutamaan dari Allah, namun seorang hamba tetap diperintahkan untuk menjauhi dosa-dosa besar dan tidak meremehkan dosa kecil. Karena dosa kecil jika terus-menerus dilakukan akan menjadi besar.
Story Telling
Dari kisah yang kita baca, kita bisa mengambil pelajaran dari sikap Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah seorang khalifah yang sangat sibuk, namun ketika berada di halaman masjid dan waktu Ashar tiba, beliau tidak langsung masuk masjid. Beliau meminta air wudhu dan berwudhu di tempat itu dengan tenang dan sempurna.
Kemudian, beliau bersumpah dengan nama Allah untuk menyampaikan hadits ini. Ini menunjukkan bahwa beliau sangat menjaga amanah ilmu. Beliau tidak ingin menjadi orang yang menyembunyikan ilmu, sebagaimana yang diancam dalam Al-Qur'an. Sikap ini mengajarkan kita untuk tidak pelit dalam berbagi ilmu kebaikan, meskipun kita merasa orang lain mungkin akan menyalahgunakannya. Tugas kita adalah menyampaikan, adapun hidayah dan pemahaman yang benar, itu adalah urusan Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jaga Kualitas Wudhu: Jangan terburu-buru dalam berwudhu. Pastikan setiap anggota wudhu basah dengan sempurna, dan lakukan dengan niat karena Allah.
- Jaga Shalat Lima Waktu: Shalat adalah tiang agama dan penghapus dosa. Jangan pernah meninggalkannya.
- Jauhi Dosa Besar: Pengampunan dalam hadits ini adalah untuk dosa-dosa kecil. Dosa besar membutuhkan taubat yang sungguh-sungguh.
- Jangan Meremehkan Dosa Kecil: Meskipun terhapus oleh ibadah, jangan menjadikan ini sebagai alasan untuk terus berbuat dosa. Karena dosa kecil yang diremehkan bisa menjadi besar di sisi Allah.
- Sampaikan Ilmu: Jangan pelit untuk menyampaikan kebaikan yang kita ketahui, meskipun hanya satu ayat atau satu hadits.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.