Penjelasan Hadits Muslim No. 2229 tentang Larangan mempercayai ramalan dukun dan takhayul meteor

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita dua perkara penting. Pertama, keyakinan bahwa peristiwa alam seperti meteor atau bintang jatuh bukanlah tanda lahir atau matinya seseorang, melainkan fenomena yang Allah ciptakan untuk mengusir setan-setan yang mencoba mencuri berita langit. Kedua, larangan tegas untuk mendatangi dukun, tukang ramal, atau paranormal, karena mereka mencampur berita yang mereka curi dengan kebohongan besar. Sebagai seorang muslim, kita harus bertawakal kepada Allah dan tidak mempercayai ramalan atau perkataan dukun.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Perdamaian (Bab Larangan Berhukum dengan Para Dukun dan Mengunjungi Mereka), nomor 2229. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya secara ringkas.

Dalil dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman tentang jin yang mencuri berita langit:

وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ (١٦) وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ (١٧) إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُبِينٌ (١٨)

"Dan sungguh, telah Kami jadikan di langit gugusan bintang dan Kami telah menghiasinya untuk orang-orang yang memandang. Dan Kami menjaganya dari setiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri-curi (berita), maka dia dikejar oleh semburan api yang terang." (QS. Al-Hijr [15]: 16-18)

Hadits terkait:

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Orang-orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang para dukun. Maka beliau bersabda: 'Mereka itu bukan apa-apa.' Mereka berkata: 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka kadang-kadang memberitakan kepada kami sesuatu yang benar.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Itu adalah kalimat dari kebenaran yang dicuri oleh jin, lalu jin itu membisikkannya ke telinga walinya (dukun), lalu mereka mencampurnya dengan lebih dari seratus kebohongan.'" (HR. Al-Bukhari no. 3213 dan Muslim no. 2228)

Kaitan dengan Ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebatilan perkataan dukun dan peramal. Beliau menukil ijma' (kesepakatan) ulama tentang haramnya mendatangi dukun dan mempercayai perkataan mereka. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menjelaskan panjang lebar tentang masalah ini saat mensyarah hadits Aisyah di atas.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran besar yang perlu kita pahami:

1. Keyakinan Masyarakat Jahiliyah yang Salah

Pada masa jahiliyah, masyarakat Arab memiliki keyakinan keliru bahwa munculnya meteor atau bintang jatuh menandakan lahir atau wafatnya orang besar. Ini adalah khurafat dan tahayul yang tidak berdasar. Ketika para sahabat yang mulia menceritakan kebiasaan ini kepada Nabi ﷺ, beliau langsung meluruskan keyakinan tersebut dengan penjelasan yang benar dan ilmiah.

2. Penjelasan Nabi ﷺ tentang Hakikat Meteor

Nabi ﷺ menjelaskan bahwa meteor-meteor itu tidaklah ditembakkan karena lahir atau matinya seseorang. Peristiwa itu terjadi karena adanya perintah Allah ketika Dia menghendaki suatu urusan. Para malaikat pemikul 'Arsy bertasbih, lalu diikuti oleh para penghuni langit secara berurutan hingga berita itu sampai ke langit dunia. Setan-setan mencoba mencuri berita tersebut, lalu mereka dilempari dengan meteor sebagai bentuk pengusiran dan penghinaan.

3. Asal Muasal Perkataan Dukun

Dari hadits ini kita memahami bahwa dukun mendapatkan informasi mereka dari setan-setan yang mencuri berita langit. Namun, setan-setan itu tidak menyampaikan berita secara utuh. Mereka mencampurnya dengan kebohongan dan menambah-nambahi. Oleh karena itu, kadang-kadang perkataan dukun ada yang benar, tetapi itu hanyalah kebetulan dari berita yang mereka curi, sementara sebagian besar perkataan mereka adalah dusta.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa para dukun dan peramal bekerja sama dengan setan. Setan-setan itu mencuri berita dari langit sebelum mereka dilempari meteor, lalu menyampaikannya kepada para dukun. Karena itu, seorang muslim dilarang mendatangi mereka, bertanya kepada mereka, apalagi membenarkan perkataan mereka.

4. Hukum Mendatangi Dukun

Para ulama dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam-imam madzhab sepakat tentang haramnya mendatangi dukun, tukang ramal, dan paranormal. Bahkan, sebagian ulama menyatakan bahwa orang yang membenarkan perkataan dukun telah keluar dari Islam. Hal ini berdasarkan hadits Nabi ﷺ:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

"Barangsiapa mendatangi tukang ramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam." (HR. Muslim no. 2230)

Imam Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa mendatangi dukun dan mempercayai perkataannya termasuk perbuatan yang membatalkan keimanan kepada takdir dan syariat Allah. Karena dengan mempercayai dukun, seseorang telah bergantung kepada selain Allah dalam mengetahui perkara ghaib, padahal ilmu ghaib hanyalah milik Allah semata.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Mu'awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru saja keluar dari masa jahiliyah, dan Allah telah memberikan Islam kepadaku. Di antara kami ada orang-orang yang mendatangi dukun.' Beliau bersabda: 'Janganlah engkau mendatangi mereka.' Aku berkata: 'Di antara kami ada orang-orang yang mengikuti tanda-tanda (meramal dengan melempar batu atau melihat garis).' Beliau bersabda: 'Itu adalah perbuatan setan, janganlah engkau lakukan.'" (HR. Muslim no. 537)

Kisah ini menunjukkan bagaimana Nabi ﷺ dengan tegas melarang para sahabatnya untuk mendatangi dukun dan melakukan perbuatan-perbuatan yang berbau ramalan. Beliau mengarahkan mereka untuk hanya bergantung kepada Allah dan menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan dan khurafat.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah mendatangi dukun, paranormal, tukang ramal, atau orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib, baik untuk bertanya masalah masa depan, jodoh, rezeki, maupun perkara lainnya.
  2. Jangan membenarkan perkataan mereka, walaupun kadang-kadang ada yang benar, karena kebenaran itu hanyalah kebetulan dari berita yang dicuri setan, sementara sisanya adalah kebohongan.
  3. Pahami bahwa peristiwa alam seperti meteor, gerhana, atau fenomena lainnya bukanlah tanda lahir atau matinya seseorang, melainkan tanda kekuasaan Allah dan mekanisme alam yang Dia ciptakan.
  4. Perbanyak doa dan tawakal kepada Allah dalam menghadapi segala urusan, karena hanya Allah yang mengetahui perkara ghaib dan masa depan.
  5. Jika ada keinginan untuk mengetahui masa depan, maka lihatlah apa yang telah Allah firmankan dalam Al-Qur'an dan sunnah Nabi ﷺ, karena di sanalah petunjuk yang benar untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?