Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita dua hal yang saling melengkapi. Pertama, keyakinan bahwa penyakit tidak menular dengan sendirinya, melainkan atas izin dan takdir Allah ﷻ. Kedua, sebagai bentuk ikhtiar dan menjaga diri, kita tetap diperintahkan untuk menjauhi sumber penyakit, seperti tidak mendatangkan orang yang sakit kepada orang yang sehat. Jadi, kita harus menggabungkan antara tawakal kepada Allah dan ikhtiar dengan mengambil sebab-sebab pencegahan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab As-Salam, Bab "Tidak Ada Penyakit Menular, Tidak Ada Takhayul, Tidak Ada Burung Hantu, dan Tidak Ada Bulan Safar", nomor 2221, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
"Dan mereka (para penyihir) tidak dapat mendatangkan mudarat kepada seseorang pun, kecuali dengan izin Allah." (QS. Al-Baqarah [2]: 102)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang dapat memberikan mudarat atau manfaat secara mandiri, melainkan semuanya terjadi dengan izin dan takdir Allah ﷻ.
Hadits terkait lainnya:
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
"Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (takhayul), tidak ada burung hantu (pembawa sial), dan tidak ada kesialan di bulan Safar." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan ulama:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah bantahan terhadap keyakinan masyarakat Jahiliyah yang menganggap penyakit menular dengan sendirinya, tanpa campur tangan Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa larangan "tidak boleh mendatangkan orang sakit kepada orang sehat" adalah perintah untuk mengambil langkah pencegahan (ikhtiar), bukan berarti penyakit itu menular dengan sendirinya.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan sangat hati-hati agar tidak terjadi kesalahpahaman. Ada dua bagian penting dalam hadits ini:
1. Makna "لَا عَدْوَى" (Tidak ada penyakit menular)
Yang dimaksud adalah menafikan keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya, secara alami, tanpa izin Allah ﷻ. Ini adalah bantahan terhadap keyakinan orang-orang Jahiliyah yang menganggap penyakit seperti kusta, atau lainnya, dapat menular secara mandiri seperti api yang membakar.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa penularan penyakit adalah perkara yang nyata dan bisa terjadi, tetapi itu semua terjadi karena takdir Allah. Tidak ada satu pun yang terjadi di alam ini melainkan dengan kehendak dan izin-Nya. Jadi, menafikan 'adwa (penularan) di sini adalah menafikan penularan yang diyakini terjadi dengan sendirinya, bukan menafikan adanya sebab-sebab yang Allah tetapkan di alam ini.
2. Makna "لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ" (Orang sakit tidak boleh dibawa kepada orang sehat)
Ini adalah perintah dari Nabi ﷺ untuk mengambil langkah pencegahan. Jika ada orang yang terkena penyakit menular, maka dia tidak boleh dibawa atau mendatangi orang yang sehat. Ini adalah bentuk ikhtiar dan kehati-hatian yang diajarkan oleh syariat.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kedua sabda Nabi ﷺ ini tidak bertentangan. Sabda "لا عدوى" menafikan keyakinan bahwa penularan terjadi dengan sendirinya, sedangkan sabda "لا يورد ممرض على مصح" adalah perintah untuk menjauhi sebab-sebab yang bisa membawa mudarat. Ini seperti seseorang yang meyakini bahwa racun hanya membunuh dengan izin Allah, tetapi dia tetap tidak akan meminumnya.
Kisah dalam hadits ini:
Dalam riwayat ini, Abu Salamah menceritakan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu awalnya menceritakan kedua sabda Nabi ﷺ tersebut. Namun, setelah itu, Abu Hurairah hanya menceritakan sabda "لا يورد ممرض على مصح" dan diam tentang "لا عدوى". Ketika ditanya oleh Al-Harits bin Abi Dzubab, Abu Hurairah enggan mengakui bahwa beliau pernah meriwayatkan "لا عدوى". Abu Salamah sendiri ragu, apakah Abu Hurairah lupa ataukah salah satu dari dua sabda tersebut telah dinasakh (dihapus hukumnya)?
Para ulama menjelaskan bahwa keraguan Abu Salamah ini bukanlah dalil bahwa salah satu hadits tersebut dihapus. Yang benar adalah kedua hadits ini tetap berlaku, masing-masing memiliki makna dan konteksnya sendiri. Sikap Abu Hurairah yang diam tentang "لا عدوى" adalah karena khawatir disalahpahami oleh orang-orang yang tidak memahami ilmu, sehingga beliau lebih memilih untuk menyampaikan hadits yang mengandung perintah pencegahan agar manusia lebih berhati-hati.
Pandangan Ulama tentang Penularan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa penularan penyakit adalah perkara yang nyata dan telah dibuktikan oleh ilmu kedokteran. Namun, seorang mukmin tetap meyakini bahwa semua itu terjadi dengan takdir Allah. Maka, kita diperintahkan untuk mengambil sebab-sebab pencegahan, tetapi tidak boleh berkeyakinan bahwa sebab-sebab itu bekerja dengan sendirinya tanpa izin Allah.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ bersabda:
فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ
"Larilah dari orang yang terkena kusta sebagaimana engkau lari dari singa." (HR. Al-Bukhari)
Dalam riwayat lain, ketika seorang lelaki yang terkena penyakit kusta datang untuk berbai'at kepada Rasulullah ﷺ, beliau mengutus seseorang untuk menyampaikan: "Kami telah menerima bai'atmu, maka pulanglah." (HR. Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk berhati-hati dan menjauhi sumber penyakit, namun di saat yang sama beliau tidak pernah menyakiti perasaan orang yang sakit. Beliau tetap menerima bai'atnya dari kejauhan, agar orang tersebut tidak merasa dikucilkan. Ini adalah adab yang sangat indah: kita menjaga diri, tetapi tetap menjaga hati saudara kita yang sakit.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah — penyakit, kesembuhan, manfaat, dan mudarat semuanya atas izin-Nya.
- Tetap lakukan ikhtiar pencegahan — seperti menjaga kebersihan, menjauhi sumber penyakit, dan mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan oleh ahlinya.
- Jangan terjebak pada keyakinan takhayul — seperti menganggap bulan Safar atau burung tertentu membawa sial. Semua itu adalah keyakinan batil yang dilarang dalam Islam.
- Jaga adab terhadap orang sakit — kita boleh menjaga jarak demi pencegahan, tetapi tidak boleh menghina atau menyakiti perasaan mereka.
- Gabungkan antara tawakal dan ikhtiar — bertawakallah kepada Allah setelah melakukan usaha yang maksimal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.