Penjelasan Hadits Muslim No. 220 tentang Masuk surga tanpa hisab bagi umat Nabi

Penjelasan Hadits Shahih Muslim No. 220

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan besar bagi umat Nabi Muhammad ﷺ, yaitu 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Ciri utama mereka adalah: tidak melakukan ruqyah (tidak meruqyah diri sendiri), tidak meminta diruqyah orang lain, tidak percaya takhayul/omen buruk, dan sepenuhnya bertawakkal kepada Allah. Ini bukan berarti ruqyah haram, tetapi menunjukkan tingginya derajat tawakkal mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang Relevan

QS. Al-Ma'idah [5]: 23

وَقَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

"Dan dua orang lelaki dari orang-orang yang takut (kepada Allah) yang telah diberi nikmat oleh Allah berkata: 'Masuklah kamu ke pintu gerbang (kota itu). Apabila kamu telah memasukinya, maka sesungguhnya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.'"

QS. At-Talaq [65]: 3

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

"Dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara."

QS. Az-Zumar [39]: 53

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"

Hadits Terkait

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, dari jalur Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Hadits serupa juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dari Ibnu Abbas dengan lafaz yang sedikit berbeda.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tawakkal dan menjauhi sebab-sebab yang tidak diperlukan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa meninggalkan ruqyah di sini bukan karena ruqyah itu terlarang, tetapi karena kesempurnaan tawakkal.

Penjelasan Rinci

Makna Hadits Secara Umum

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama, tentang peristiwa Isra' Mi'raj atau peristiwa ketika Nabi ﷺ diperlihatkan umat-umat terdahulu. Nabi ﷺ melihat para nabi terdahulu dengan pengikut yang sedikit, bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Kemudian diperlihatkan kepadanya dua kelompok besar, yang pertama adalah Musa dan kaumnya, dan yang kedua adalah umat Nabi Muhammad ﷺ.

Kedua, di antara umat Nabi Muhammad ﷺ ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Ini adalah keutamaan yang sangat besar.

Ketiga, para sahabat bertanya-tanya tentang siapa mereka. Sebagian menduga mereka adalah para sahabat Nabi ﷺ, sebagian menduga mereka adalah orang-orang yang lahir dalam Islam dan tidak pernah berbuat syirik.

Keempat, Nabi ﷺ menjelaskan ciri-ciri mereka: tidak meruqyah (tidak melakukan ruqyah pada diri sendiri), tidak meminta diruqyah (tidak meminta orang lain meruqyahnya), tidak bertathayyur (tidak percaya pada omen/takhayul), dan bertawakkal kepada Allah.

Pemahaman Ulama

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan:

> "Makna 'tidak meruqyah' adalah mereka tidak meminta orang lain untuk meruqyah mereka. Adapun 'tidak meruqyah' (sendiri), maka ini menunjukkan kesempurnaan tawakkal mereka, karena mereka tidak menginginkan adanya sebab (ruqyah) dan tidak bergantung padanya."

Beliau juga menjelaskan bahwa meninggalkan ruqyah di sini bukan berarti ruqyah itu haram atau terlarang. Ruqyah yang syar'i adalah boleh bahkan dianjurkan dalam kondisi tertentu. Tetapi meninggalkannya karena kesempurnaan tawakkal adalah lebih utama.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil penjelasan bahwa yang dimaksud adalah mereka tidak meminta ruqyah dan tidak melakukan ruqyah, karena mereka telah mencapai tingkat tawakkal yang sempurna, sehingga hati mereka tidak bergantung kepada selain Allah.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa tawakkal memiliki tingkatan-tingkatan. Tingkatan tertinggi adalah ketika hati seseorang sepenuhnya bergantung kepada Allah, tidak kepada sebab-sebab lahiriah. Inilah yang dimiliki oleh 70.000 orang tersebut.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa tawakkal yang sempurna adalah termasuk amalan hati yang paling utama, dan buahnya adalah kecukupan dari Allah.

Tentang Ruqyah

Perlu dipahami bahwa ruqyah yang syar'i (dengan ayat Al-Qur'an dan doa-doa yang ma'tsur) adalah boleh dan dianjurkan dalam Islam. Nabi ﷺ sendiri pernah diruqyah dan pernah meruqyah. Namun, meninggalkan ruqyah karena kesempurnaan tawakkal adalah lebih utama bagi orang yang mampu.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang membolehkan ruqyah, karena:

  1. Ruqyah tetap boleh dan syar'i
  2. Yang dipuji di sini adalah meninggalkannya karena kesempurnaan tawakkal
  3. Ini adalah keutamaan bagi orang yang hatinya tidak bergantung kepada selain Allah

Tentang Tathayyur (Omen Buruk)

Tathayyur adalah kepercayaan bahwa sesuatu dapat membawa kesialan atau keberuntungan, seperti percaya pada burung tertentu, angka tertentu, atau kejadian tertentu. Ini adalah syirik kecil yang harus dijauhi.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa tathayyur adalah pintu menuju syirik, karena ia menggantungkan hati kepada selain Allah.

Story Telling

Kisah Ukkasha bin Mihsan

Dalam hadits ini, setelah Nabi ﷺ menyebutkan ciri-ciri 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab, Ukkasha bin Mihsan radhiyallahu 'anhu segera berdiri dan berkata: "Doakanlah kepada Allah agar Dia menjadikanku salah satu dari mereka."

Nabi ﷺ menjawab: "Kamu termasuk mereka."

Kemudian seorang lelaki lain berdiri dan meminta hal yang sama. Nabi ﷺ menjawab: "Ukkasha telah mendahuluimu."

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa jawaban Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa doa beliau untuk Ukkasha telah dikabulkan, dan bahwa keutamaan ini tidak diberikan kepada semua orang yang memintanya, tetapi kepada mereka yang Allah kehendaki.

Ibnu Hajar menambahkan bahwa sikap Ukkasha yang segera meminta menunjukkan kesungguhan dan semangatnya dalam meraih kebaikan, sedangkan jawaban Nabi ﷺ kepada lelaki kedua menunjukkan bahwa keutamaan ini terbatas pada jumlah yang telah disebutkan (70.000), dan tidak semua orang yang meminta akan mendapatkannya.

Kisah Said bin Jubair dan Husain bin Abdurrahman

Di awal hadits, Husain bin Abdurrahman menceritakan bahwa ia bersama Said bin Jubair (seorang tabi'in yang mulia, murid Ibnu Abbas). Said bin Jubair bertanya tentang bintang jatuh yang dilihat malam itu. Husain menjawab bahwa ia melihatnya, dan ia tidak sedang shalat, tetapi sedang disengat kalajengking, lalu ia meruqyah dirinya.

Said bin Jubair kemudian bertanya apa yang mendorongnya melakukan ruqyah. Husain menjawab bahwa ia mendengar hadits dari Asy-Sya'bi dari Buraidah bin Husaib al-Aslami bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada ruqyah kecuali untuk 'ain (pengaruh mata) atau humah (sengatan)."

Said bin Jubair berkata: "Barangsiapa yang bertindak sesuai dengan apa yang dia dengar, maka dia telah berbuat baik. Tetapi Ibnu Abbas menceritakan kepada kami dari Nabi ﷺ..." lalu beliau menyebutkan hadits tentang 70.000 orang tersebut.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa dalam kisah ini terdapat pelajaran tentang adab dalam menerima ilmu, dan bahwa Said bin Jubair tidak mencela tindakan Husain yang meruqyah, tetapi beliau menyampaikan hadits yang lebih utama tentang keutamaan tawakkal.

Kesimpulan Praktis

  1. Keutamaan tawakkal: Hendaknya kita berusaha meningkatkan tawakkal kepada Allah dalam segala urusan, tidak bergantung kepada sebab-sebab lahiriah semata.
  2. Ruqyah adalah boleh: Ruqyah yang syar'i dengan Al-Qur'an dan doa ma'tsur adalah boleh dan dianjurkan. Namun, meninggalkannya karena kesempurnaan tawakkal adalah lebih utama.
  3. Jauhi tathayyur: Hendaknya kita menjauhi segala bentuk kepercayaan pada omen buruk, angka sial, atau kejadian yang dianggap membawa kesialan, karena itu adalah syirik kecil.
  4. Bersemangat dalam kebaikan: Seperti Ukkasha yang segera meminta doa, hendaknya kita bersemangat dalam meraih keutamaan dan tidak menunda-nunda.
  5. Tidak berputus asa: Meskipun kita tidak termasuk 70.000 orang tersebut, kita tetap berharap kepada rahmat Allah dan berusaha menjadi hamba yang bertawakkal.
  6. Belajar dari ulama: Hendaknya kita merujuk kepada penjelasan para ulama seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnu Qayyim, dan as-Sa'di dalam memahami hadits-hadits Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?