Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 218 tentang Tujuh puluh ribu umat masuk surga tanpa hisab karena tawakal

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang kabar gembira yang sangat besar: ada 70.000 orang dari umat Nabi Muhammad ﷺ yang masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal) dan tanpa azab. Mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat tawakkal yang kuat kepada Allah, tidak meminta ruqyah (pengobatan dengan bacaan doa) kepada orang lain, dan tidak melakukan pengobatan dengan cara kay (menempel besi panas). Hadits ini juga menunjukkan keutamaan berlomba dalam kebaikan, sebagaimana 'Ukkasyah bin Mihshan radhiyallahu 'anhu yang bersegera meminta didoakan agar termasuk golongan tersebut.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Iman, Bab Dalil Dukhul Thaifah min al-Muslimin al-Jannah bi Ghairi Hisab wa la 'Adzab (no. 218). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (no. 5705, 6472) dari sahabat 'Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an tentang Tawakkal:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. Ath-Thalaq [65]: 3)

Penjelasan Ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (2/112) menjelaskan bahwa makna "لا يَكْتَوُونَ" adalah mereka tidak melakukan pengobatan dengan cara kay (menempel besi panas pada tubuh), dan "لا يَسْتَرْقُونَ" adalah mereka tidak meminta orang lain untuk meruqyah mereka. Namun beliau menegaskan bahwa hal ini bukan berarti meruqyah atau berobat dengan kay itu haram, tetapi ini adalah bentuk kesempurnaan tawakkal mereka. Mereka meninggalkan hal-hal yang mubah tersebut karena kekuatan keyakinan mereka kepada Allah.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (10/117) menjelaskan bahwa sifat-sifat ini menunjukkan kesempurnaan tawakkal. Mereka tidak menggantungkan hati kepada sebab-sebab lahiriah, melainkan murni kepada Allah. Namun beliau juga menegaskan bahwa berobat secara umum tidak dilarang, karena Nabi ﷺ sendiri berobat dan menganjurkan umatnya untuk berobat.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (1/214) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tawakkal yang murni, namun tidak boleh disalahpahami sebagai larangan berobat secara mutlak. Berobat adalah perkara yang dibolehkan bahkan dianjurkan, tetapi yang terpuji adalah tidak menggantungkan hati sepenuhnya kepada sebab, melainkan kepada Allah Ta'ala.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Makna Tawakkal yang Sebenarnya

Tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha dan sebab-sebab yang dibolehkan. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin (2/118) menjelaskan bahwa tawakkal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah, disertai dengan melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan. Beliau mencontohkan bahwa Nabi ﷺ sendiri berobat, memakai baju besi saat perang, dan berlindung di parit saat perang Khandaq. Ini semua adalah bentuk usaha yang tidak bertentangan dengan tawakkal.

2. Sifat yang Disebutkan dalam Hadits

  • Tidak meminta ruqyah (لا يَسْتَرْقُونَ): Mereka tidak meminta orang lain untuk meruqyah mereka. Ini menunjukkan kekuatan hati mereka. Namun perlu dipahami, ruqyah dengan bacaan Al-Qur'an dan doa-doa yang syar'i adalah perkara yang dibolehkan, bahkan Nabi ﷺ pernah meruqyah dan meminta diruqyah oleh Jibril. Yang ditinggalkan oleh golongan ini adalah meminta ruqyah karena kesempurnaan tawakkal mereka, bukan karena mengharamkannya.
  • Tidak melakukan kay (لا يَكْتَوُونَ): Yaitu pengobatan dengan menempel besi panas. Ini adalah metode pengobatan yang keras dan menyakitkan. Meninggalkannya menunjukkan kesabaran dan ketawakalan mereka kepada Allah dalam menghadapi penyakit.

3. Pelajaran tentang Berlomba dalam Kebaikan

Ketika Nabi ﷺ menyebutkan sifat-sifat golongan tersebut, 'Ukkasyah bin Mihshan langsung berdiri dan meminta didoakan. Ini menunjukkan semangat para sahabat dalam meraih keutamaan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatu Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa sikap 'Ukkasyah ini adalah teladan bagi kita untuk tidak malu bertanya tentang kebaikan dan bersemangat meraihnya.

4. Keutamaan 'Ukkasyah bin Mihshan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa 'Ukkasyah termasuk golongan tersebut. Ini adalah kabar gembira yang sangat agung. Kemudian ada seorang laki-laki lain yang bertanya, namun Nabi ﷺ menjawab bahwa 'Ukkasyah telah mendahuluinya. Ini menunjukkan bahwa kebaikan harus disegerakan, karena siapa yang bersegera, dialah yang mendapatkannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Ukkasyah bin Mihshan radhiyallahu 'anhu adalah salah seorang sahabat yang mulia. Beliau termasuk orang yang pertama kali masuk Islam dan ikut serta dalam berbagai peperangan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau adalah salah satu dari sepuluh orang yang diutus Nabi ﷺ untuk membunuh Abu Jahal pada perang Badar.

Sikap 'Ukkasyah yang langsung berdiri dan meminta didoakan menunjukkan ketajaman hatinya dalam meraih kebaikan. Beliau tidak malu dan tidak ragu. Ini berbeda dengan laki-laki kedua yang juga bertanya, namun telah didahului oleh 'Ukkasyah. Pelajarannya: dalam kebaikan, kita tidak boleh menunda-nunda. Siapa cepat, dia yang dapat.

Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Fawaid menyebutkan bahwa di antara tanda kebahagiaan seorang hamba adalah ketika ia mendengar kebaikan, hatinya langsung tergerak untuk meraihnya, dan ia tidak menunda-nunda.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak tawakkal kepada Allah dalam segala urusan, dengan tetap melakukan sebab-sebab yang dibolehkan.
  2. Jangan menggantungkan hati kepada selain Allah, baik kepada dukun, peramal, atau hal-hal yang mengandung kesyirikan.
  3. Ruqyah syar'iyah dan berobat adalah dibolehkan, bahkan dianjurkan, namun jangan sampai membuat hati bergantung kepada selain Allah.
  4. Bersegeralah dalam kebaikan, jangan menunda-nunda ketika ada kesempatan beramal shalih.
  5. Jadikan hadits ini sebagai motivasi untuk memperbaiki kualitas tawakkal kita kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.