Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2174 tentang Setan mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita sebuah adab yang sangat mulia dan langkah preventif yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ. Ketika seorang lelaki asing bertemu dengan istri atau mahram kita, maka kita diperintahkan untuk memperkenalkannya secara jelas. Hal ini untuk menutup pintu was-was dan prasangka buruk, karena setan benar-benar mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah. Ini adalah bentuk penjagaan hati dan kehormatan yang diajarkan oleh Baginda Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab as-Salam, Bab "Bayaan anna man ra'a imra'atan wahdaha..." (Nomor 2174), dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ مَعَ إِحْدَى نِسَائِهِ فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَدَعَاهُ فَجَاءَ، فَقَالَ: "يَا فُلَانُ، هَذِهِ زَوْجَتِي فُلَانَةُ". فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ كُنْتُ أَظُنُّ بِهِ فَلَمْ أَكُنْ أَظُنُّ بِكَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ".

Terjemahan: Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ sedang bersama salah seorang istrinya, lalu seorang lelaki lewat di dekat beliau. Maka beliau memanggilnya, dan ketika lelaki itu datang, beliau bersabda: "Wahai Fulan, ini adalah istriku, Fulanah." Lelaki itu berkata: "Wahai Rasulullah, jika aku berprasangka buruk kepada siapa pun, aku tidak akan pernah berprasangka buruk kepadamu." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti mengalirnya darah."

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini dijelaskan oleh para ulama besar, di antaranya:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (Kitab as-Salam, Bab ini) menjelaskan makna hadits dan faedahnya.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (Kitab al-Isti'dzan) membahas hadits ini dan jalur periwayatannya.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin dan Syarh Shahih Muslim juga menjelaskan hadits ini dengan sangat baik.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang perlu kita pahami bersama:

1. Makna "Setan Mengalir Seperti Darah"

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah setan benar-benar mengalir dalam tubuh manusia seperti aliran darah. Ini adalah hakikat yang nyata, bukan sekadar kiasan. Karena darah mengalir ke seluruh tubuh, maka setan pun dapat mencapai seluruh bagian tubuh manusia. Namun, penting untuk dipahami bahwa ini adalah was-was dan bisikan, bukan berarti setan menguasai hati orang mukmin secara paksa. Imam an-Nawawi rahimahullah menegaskan bahwa maknanya adalah setan membisikkan was-was dan menggoda manusia melalui jalan ini.

2. Tindakan Preventif Nabi ﷺ

Ketika Nabi ﷺ melihat seorang lelaki lewat, beliau tidak diam saja. Beliau langsung memanggilnya dan memperkenalkan istrinya dengan jelas: "Ini adalah istriku, Fulanah." Ini adalah pengajaran langsung dari Nabi ﷺ tentang bagaimana menutup pintu fitnah dan prasangka. Beliau tidak membiarkan situasi menjadi ambigu yang bisa memicu was-was.

3. Jawaban Lelaki Itu dan Hikmahnya

Lelaki itu menjawab dengan penuh adab: "Wahai Rasulullah, jika aku berprasangka buruk kepada siapa pun, aku tidak akan pernah berprasangka buruk kepadamu." Ini menunjukkan bahwa lelaki itu adalah orang yang baik dan memiliki prasangka baik kepada Nabi ﷺ. Namun, Nabi ﷺ tetap mengajarkan bahwa prasangka baik saja tidak cukup. Kita harus menutup pintu was-was, karena setan bisa memanfaatkan celah sekecil apa pun.

4. Pelajaran dari Para Ulama

  • Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya seorang suami memperkenalkan istrinya kepada orang lain ketika ada kebutuhan, untuk menghilangkan keraguan dan menutup pintu fitnah.
  • Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menambahkan bahwa ini adalah bentuk kehati-hatian dalam menjaga kehormatan. Meskipun lelaki itu memiliki prasangka baik, Nabi ﷺ tetap memberikan penjelasan agar tidak ada celah bagi setan.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini juga menunjukkan bolehnya seorang suami menyebut nama istrinya ketika ada kebutuhan, dan ini bukan termasuk hal yang dilarang.

5. Penerapan dalam Kehidupan

Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan pintu-pintu fitnah. Dalam kehidupan modern, ini bisa diterapkan dengan tidak membiarkan hubungan kita dengan lawan jenis menjadi ambigu. Jika ada situasi yang berpotensi menimbulkan salah paham, maka kita harus menjelaskannya dengan baik dan sopan.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang kehati-hatian para salaf dalam menjaga diri dari fitnah. Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah suatu hari berjalan bersama seorang pemuda. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan seorang wanita. Imam Sufyan langsung menundukkan pandangannya dan mempercepat langkahnya. Ketika pemuda itu bertanya mengapa beliau melakukan itu, Imam Sufyan menjawab: "Aku takut setan mengalir dalam diriku seperti aliran darah, lalu ia membisikkan sesuatu yang bisa merusak hatiku." Ini menunjukkan betapa para ulama sangat memahami makna hadits ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan Praktis

  1. Perkenalkan dengan jelas - Jika ada situasi yang berpotensi menimbulkan salah paham dengan lawan jenis, perkenalkan dengan jelas siapa mereka (istri, mahram, dll).
  2. Jangan meremehkan was-was - Prasangka baik saja tidak cukup; kita harus menutup pintu-pintu yang bisa dimasuki setan.
  3. Jaga pandangan dan hati - Karena setan mengalir seperti darah, maka kita harus selalu waspada dan berusaha menjaga hati dari bisikan-bisikan buruk.
  4. Bersikap wajar dan tidak berlebihan - Nabi ﷺ tidak melarang lelaki itu lewat, tetapi beliau menjelaskan situasinya dengan tenang dan sopan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.