Penjelasan Hadits Muslim No. 216 tentang Tujuh puluh ribu umat masuk surga tanpa hisab

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang kabar gembira yang sangat besar, yaitu adanya 70.000 orang dari umat Nabi Muhammad ﷺ yang akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal) dan tanpa azab. Ini adalah keutamaan yang sangat agung. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk bersemangat meraih kebaikan dan tidak ragu meminta didoakan oleh orang shalih, serta mengajarkan adab bahwa siapa yang lebih dahulu dalam kebaikan, maka dialah yang lebih berhak.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab "Dalil Masuknya Golongan dari Kaum Muslim ke Surga Tanpa Hisab dan Azab", nomor 216, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar [39]: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa ada sebagian hamba yang diberikan pahala tanpa hisab, dan ini sesuai dengan kabar dalam hadits tentang 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab.

Hadits lain yang terkait:

Dalam riwayat lain (Shahih Bukhari dan Muslim), disebutkan sifat-sifat mereka. Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, Nabi ﷺ bersabda:

هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَلَا يَكْتَوُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah (dengan jampi-jampi), tidak melakukan tathayyur (menganggap sial dengan sesuatu), tidak melakukan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb mereka mereka bertawakal." (HR. Bukhari no. 5752, Muslim no. 220)

Kaitan dengan ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tawakal yang murni kepada Allah. Beliau juga menukil bahwa para ulama berbeda pendapat tentang jumlah 70.000 ini, apakah angka tersebut hakiki atau hanya menunjukkan banyaknya jumlah. Namun, dalam riwayat lain disebutkan bahwa dengan setiap orang dari mereka, Allah menambah 70.000 lagi, sehingga jumlahnya menjadi sangat banyak.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa orang-orang yang masuk surga tanpa hisab adalah mereka yang memiliki sifat-sifat khusus, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain:

  1. Tidak meminta diruqyah (لا يسترقون): Mereka tidak meminta orang lain untuk membacakan ruqyah atas diri mereka. Ini bukan berarti ruqyah itu haram, tetapi mereka meninggalkannya karena kesempurnaan tawakal mereka kepada Allah. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa ruqyah yang disyariatkan itu boleh, tetapi meninggalkannya karena kesempurnaan tawakal adalah lebih utama bagi orang yang kuat imannya.
  2. Tidak melakukan tathayyur (ولا يتطيرون): Mereka tidak menganggap sial terhadap sesuatu, seperti burung, angka, atau kejadian tertentu. Ini adalah bentuk kesempurnaan tauhid, karena tathayyur termasuk kesyirikan kecil.
  3. Tidak melakukan kay (ولا يكتوون): Mereka tidak berobat dengan cara kay (menempelkan besi panas pada tubuh). Ini juga karena kesempurnaan tawakal, meskipun kay sendiri tidak diharamkan secara mutlak.
  4. Hanya kepada Allah mereka bertawakal (وعلى ربهم يتوكلون): Inilah inti dari semua sifat di atas. Tawakal yang sejati adalah bersandarnya hati kepada Allah dalam segala urusan, sambil tetap melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Justru tawakal yang benar adalah melakukan usaha dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Beliau mencontohkan, seorang petani yang bertawakal tetap harus menanam dan mengairi tanamannya, baru kemudian berserah diri kepada Allah tentang hasilnya.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa orang yang masuk surga tanpa hisab adalah mereka yang benar-benar ikhlas dan tawakalnya murni kepada Allah, sehingga Allah memuliakan mereka dengan kemudahan hisab atau bahkan tanpa hisab sama sekali.

Pelajaran dari kisah Ukkasyah:

Dalam hadits ini, ketika ada seorang sahabat yang meminta didoakan, Nabi ﷺ mendoakannya. Kemudian ada sahabat lain yang juga meminta, Nabi ﷺ bersabda, "Ukkasyah telah mendahuluimu." Ini menunjukkan:

  • Bersegera dalam kebaikan adalah sifat yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang lebih dahulu, maka dialah yang lebih beruntung.
  • Tidak boleh iri terhadap kebaikan orang lain, tetapi justru harus termotivasi untuk bersegera sebelum didahului orang lain.
  • Doa orang shalih (terutama Nabi ﷺ) adalah sebab terkabulnya permohonan, namun tetap atas izin Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Ukkasyah bin Mihshan radhiyallahu 'anhu adalah salah seorang sahabat yang mulia. Beliau termasuk orang yang pertama kali masuk Islam dan ikut serta dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah ﷺ.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Nabi ﷺ mengabarkan tentang 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab, 'Ukkasyah berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar Dia menjadikanku salah satu dari mereka." Maka Nabi ﷺ mendoakannya. Kemudian ada sahabat lain yang melakukan hal yang sama, dan Nabi ﷺ bersabda, "Ukkasyah telah mendahuluimu dengan doa tersebut." (HR. Muslim)

Para ulama menyebutkan bahwa 'Ukkasyah radhiyallahu 'anhu termasuk salah seorang yang gugur sebagai syahid dalam Perang Riddah (melawan kaum murtad) di masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau adalah contoh nyata seorang yang bersemangat meraih kebaikan dan tidak ragu untuk meminta didoakan oleh Nabi ﷺ.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa keberuntungan sering kali datang kepada mereka yang bersegera dan tidak menunda-nunda dalam kebaikan. Sebagaimana kata pepatah ulama: "Barangsiapa bersegera dalam kebaikan, maka kebaikan itu akan menyambutnya dengan cepat."

Kesimpulan Praktis

  1. Bersemangatlah dalam kebaikan dan jangan menunda-nunda, karena siapa yang bersegera dialah yang beruntung.
  2. Perbanyak tawakal kepada Allah dalam segala urusan, sambil tetap melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan.
  3. Tinggalkan perkara-perkara yang mengurangi kesempurnaan tawakal, seperti menganggap sial (tathayyur) atau terlalu bergantung pada selain Allah.
  4. Jangan iri terhadap keutamaan orang lain, tetapi jadikanlah sebagai motivasi untuk lebih giat beribadah.
  5. Boleh meminta didoakan oleh orang shalih, selama tidak mengandung unsur meminta sesuatu yang mustahil atau berlebihan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?