Penjelasan Hadits Muslim No. 2154 tentang Adab meminta izin maksimal tiga kali

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab meminta izin (isti'zan) sebelum masuk ke rumah atau tempat orang lain, yaitu maksimal tiga kali. Jika tidak diizinkan, hendaknya pulang dengan tenang tanpa merasa tersinggung. Hadits ini juga menunjukkan sikap teliti Umar bin Khattab dalam menerima berita, dan keutamaan Abu Musa Al-Asy'ari serta Ubay bin Ka'b dalam menegakkan sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil Al-Qur'an:

QS. An-Nur [24]: 27

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat."

Dalil Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Adab, Bab Izin Masuk (no. 2154), dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil utama bahwa isti'zan dibatasi tiga kali, dan setelah itu hendaknya pulang.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa salam dan isti'zan memiliki adab tersendiri, dan tidak boleh memaksa masuk.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa sikap Umar menunjukkan pentingnya tabayyun (verifikasi) dalam menerima berita, terutama yang berkaitan dengan syariat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Adab Meminta Izin Tiga Kali

Rasulullah ﷺ bersabda: "الاِسْتِئْذَانُ ثَلاَثٌ فَإِنْ أُذِنَ لَكَ وَإِلَّا فَارْجِعْ" — "Izin itu tiga kali. Jika diizinkan, (masuklah); jika tidak, maka pulanglah."

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud "tiga kali" adalah tiga kali salam atau tiga kali permohonan izin. Jika tuan rumah tidak menjawab atau tidak mengizinkan, maka tamu hendaknya pulang tanpa rasa kesal. Ini adalah bentuk penghormatan kepada tuan rumah yang mungkin sedang sibuk atau tidak siap menerima tamu.

2. Sikap Umar bin Khattab: Teliti dalam Berita

Umar radhiyallahu 'anhu meminta bukti (bayyinah) dari Abu Musa karena berita ini menyangkut hukum syariat yang akan diamalkan. Ini bukan karena Umar meragukan kejujuran Abu Musa, tetapi karena prinsip tabayyun dalam agama. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Umar ingin memastikan agar tidak ada hadits yang salah dinisbatkan kepada Nabi ﷺ.

3. Kesaksian Ubay bin Ka'b

Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu membenarkan hadits tersebut dan menasihati Umar: "Janganlah kamu menjadi beban berat bagi para sahabat Rasulullah ﷺ." Maksudnya, jangan terlalu keras dalam menuntut bukti hingga menyulitkan sahabat lain. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa ini menunjukkan adab dalam menasihati pemimpin, yaitu dengan lembut namun jelas.

4. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama

Sebagian ulama seperti Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa tiga kali adalah batas maksimal, dan setelah itu haram menambah kecuali ada izin. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa jika tuan rumah tidak menjawab karena tidak mendengar, boleh menambah hingga tiga kali, lalu berhenti. Pendapat yang paling kuat adalah yang sesuai zhahir hadits: tiga kali, lalu pulang.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu pernah datang ke rumah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dan mengucapkan salam tiga kali. Karena tidak ada jawaban, beliau pun pulang. Umar kemudian menyuruh seseorang memanggilnya kembali dan bertanya mengapa ia pulang. Abu Musa menjawab dengan hadits Nabi ﷺ. Umar pun meminta bukti, dan Abu Musa menghadirkan Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu yang membenarkan hadits tersebut.

Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak memaksa masuk ke rumah orang lain, dan juga pentingnya verifikasi dalam menerima berita agama. Umar menunjukkan ketegasan dalam menjaga kemurnian sunnah, sementara Abu Musa menunjukkan ketaatan pada sunnah meskipun harus pulang.

Kesimpulan Praktis

  1. Ketika bertamu: Ucapkan salam maksimal tiga kali. Jika tidak dijawab, pulanglah dengan tenang tanpa rasa kesal.
  2. Jangan memaksa masuk: Jika tuan rumah tidak mengizinkan, itu haknya. Mungkin ia sedang sibuk atau tidak siap.
  3. Verifikasi berita agama: Seperti Umar, kita perlu memastikan kebenaran berita yang menyangkut syariat, terutama di zaman sekarang.
  4. Adab menasihati: Seperti Ubay, nasihatilah dengan lembut dan jelas, terutama kepada pemimpin.
  5. Jangan menyulitkan: Jangan menuntut bukti berlebihan hingga menyulitkan orang lain, terutama dalam hal yang sudah jelas dari sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?