Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan beberapa sunnah penting saat kelahiran anak: (1) membawa bayi yang baru lahir kepada orang shalih untuk di-tahnik (mengoleskan kurma yang sudah dikunyah ke langit-langit mulut bayi), (2) mendoakan keberkahan, dan (3) memberi nama yang baik pada hari kelahiran. Nabi ﷺ juga menerima bai'at dari anak kecil yang sudah mumayyiz, dan ini menunjukkan kasih sayang serta perhatian beliau kepada generasi muda.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Adab, no. 2146, dari jalur 'Urwah bin az-Zubair dan Fatimah binti al-Mundzir, dari Asma' binti Abu Bakar رضي الله عنها.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan perintah menyusui dan perhatian kepada anak:
QS. Al-Baqarah [2]: 233
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۚ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّا آتَيْتُم بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
"Dan para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut... Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
Hadits ini juga berkaitan dengan hadits Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim tentang tahnik, dan hadits Anas bin Malik رضي الله عنه tentang Nabi ﷺ yang men-tahnik bayi dengan kurma.
Penjelasan Rinci
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa faedah penting:
Pertama: Sunnah Tahnik. Tahnik adalah mengunyah kurma (atau sesuatu yang manis) lalu mengoleskannya ke langit-langit mulut bayi yang baru lahir. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hikmahnya adalah melatih bayi untuk menerima makanan, sekaligus mengambil keberkahan dari orang shalih yang men-tahnik. Dalam hadits ini, yang men-tahnik adalah Rasulullah ﷺ sendiri, dan yang pertama masuk ke perut Abdullah bin az-Zubair adalah air liur Nabi ﷺ — ini menunjukkan keutamaan yang besar.
Kedua: Membawa bayi kepada orang shalih. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa disunnahkan membawa bayi yang baru lahir kepada orang yang shalih dan bertakwa untuk di-tahnik dan didoakan. Ini menunjukkan perhatian salaf terhadap keberkahan dan doa orang shalih bagi anak-anak mereka.
Ketiga: Memberi nama pada hari kelahiran. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya memberi nama pada hari kelahiran (hari pertama). Ini juga sejalan dengan hadits lain dari Anas bin Malik رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ menamai anaknya Ibrahim pada hari kelahirannya (HR. Muslim).
Keempat: Nama Abdullah dan nama para nabi. Judul bab Imam Muslim menunjukkan disunnahkannya memberi nama dengan nama-nama para nabi dan hamba-hamba Allah yang shalih. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, sebagaimana hadits dari Ibnu Umar رضي الله عنهما (HR. Muslim).
Kelima: Bai'at anak kecil yang sudah mumayyiz. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Abdullah bin az-Zubair saat itu berusia tujuh atau delapan tahun, dan Nabi ﷺ menerima bai'atnya. Ini menunjukkan bahwa anak yang sudah mumayyiz boleh berbai'at untuk melatih ketaatan, meskipun bai'atnya bukan bai'at taklif (beban syariat). Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa ini termasuk tarbiyah (pendidikan) Nabi ﷺ terhadap generasi muda untuk mencintai ketaatan sejak dini.
Keenam: Senyum Nabi ﷺ. Nabi ﷺ tersenyum ketika melihat Abdullah bin az-Zubair datang. Ini menunjukkan kasih sayang beliau kepada anak-anak dan bagaimana beliau menyambut mereka dengan wajah yang ramah. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini termasuk adab Nabi ﷺ yang mulia.
Perbedaan pendapat ulama daftar: Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama yang tercantum tentang sunnahnya tahnik dan memberi nama pada hari kelahiran. Yang menjadi perbedaan adalah apakah tahnik wajib atau sunnah — dan jumhur ulama (termasuk Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik) berpendapat bahwa tahnik adalah sunnah, bukan wajib.
Story Telling
Kisah ini adalah kisah Asma' binti Abu Bakar رضي الله عنها, saudari Aisyah رضي الله عنها, yang sedang hamil ketika hijrah ke Madinah. Ia melahirkan di Quba', sebuah tempat di dekat Madinah. Bayi itu adalah Abdullah bin az-Zubair رضي الله عنه, yang kelak menjadi salah satu sahabat mulia dan tokoh besar Islam.
Aisyah رضي الله عنها menceritakan bahwa mereka mencari kurma beberapa saat sebelum menemukannya. Bayangkan — seorang ibu yang baru melahirkan, membawa bayinya kepada Rasulullah ﷺ, dan Nabi ﷺ sendiri yang mengunyah kurma itu, lalu mengoleskannya ke mulut bayi mungil itu. Air liur Nabi ﷺ adalah yang pertama masuk ke perut Abdullah bin az-Zubair. Ini adalah keberkahan yang luar biasa.
Kemudian, ketika Abdullah berusia tujuh atau delapan tahun, az-Zubair (ayahnya) memerintahkannya untuk berbai'at kepada Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ tersenyum melihat anak kecil itu datang, lalu menerima bai'atnya. Ini menunjukkan bagaimana salaf mendidik anak-anak mereka untuk mencintai Nabi ﷺ dan taat sejak dini.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menyebutkan bahwa Abdullah bin az-Zubair adalah anak pertama yang lahir di kalangan Muhajirin setelah hijrah, dan kelahirannya menjadi tanda gembira bagi kaum Muslimin.
Kesimpulan Praktis
- Sunnahkan tahnik — membawa bayi yang baru lahir kepada orang shalih untuk di-tahnik dengan kurma (atau sesuatu yang manis) dan didoakan.
- Beri nama yang baik pada hari kelahiran — utamakan nama Abdullah, Abdurrahman, atau nama-nama para nabi.
- Bawa bayi kepada orang shalih untuk mendapatkan doa dan keberkahan.
- Didik anak untuk taat sejak dini — ajak mereka kepada kebaikan dan latih mereka untuk mencintai Nabi ﷺ dan sunnahnya.
- Bersikap lembut dan ramah kepada anak-anak — sebagaimana Nabi ﷺ tersenyum kepada Abdullah bin az-Zubair.
- Perhatikan pendidikan anak — bai'at anak mumayyiz adalah bentuk tarbiyah, bukan beban syariat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.